Create Your ad Here

Showing posts with label TBM. Show all posts
Showing posts with label TBM. Show all posts

Tuesday, 16 September 2014

Aplikasi Tanaman Penutup Tanah (LCP) Pada Perkebunan Kelapa Sawit

Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah. Penanaman tanaman penutup tanah (kacangan) sangat penting di perkebunan kelapa sawit. Untuk memperoleh manfaat yang maksimal, penanaman kacangan harus dapat seluruhnya menutup permukaan tanah atau 100% LCP.

Seperti yang sudah Jejak Planter singgung pada perawatan TBM bahwa kami lebih menyukai menyebut LCC (Legium Cover Crop) dengan LCP (Legium Cover Plant). Tanaman penutup tanah (kacangan) merupakan tanaman yang di budidayakan, tanaman penutup tanah yang sering di gunakan untuk menutup tanah pada tanaman perkebunan,terutama tanaman kelapa sawit.
Aplikasi Tanaman Penutup Tanah (LCP) Pada Perkebunan Kelapa Sawit

Tanaman penutup tanah sangat bermanfaat bagi tanaman perkebunan,sehingga sangat di butuhkan untuk tanaman perkebunan. Tanaman penutup tanah berperan:
  • menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah,
  • menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh.
  • melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi.
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat (Osche et al, 1961)
  • mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji,
  • mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi,
  • tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun,
  • toleransi terhadap pemangkasan,
  • resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan,
  • mampu menekan pertumbuhan gulma,
  • mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya,
  • sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan
  • idak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit.
KACANGAN SEBAGAI TANAMAN PENUTUP TANAH

I. Tanaman Kacangan Sebagai Tanaman Penutup Tanah (LCP)
Kacangan yang digunakan sebagai penutup tanah harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • sifat perakaran tidak menggangu dan bukan merupakan saingan tanaman utama
  • mudah diperbanyak baik vegetatif maupun generatif
  • memberikan kandungan bahan organik yang tinggi baik dibawah sinar matahari atau terlindung
  • tahan terhadap hama penyakit atau kekeringan serta bukan tanaman inang hama penyakit bagi tanaman utama
  • mempunyai potensi menekan pertumbuhan gulma
Jenis kacangan yang memenuhi syarat tersebut diatas dan sering dipakai sebagai tanaman penutup tanah antara lain Peuraria Javanica (PJ), Centrosema Pubescens (CP), Calopogonium Mucunoides (CM), Psophocarpus Palustris (PP), Calopogonium Caeruleum (CC), Mucuna Bracteata (MB)

Macam macam LCP

Kacangan tersebut biasanya dicampur dengan tingkat perbadingan yang bervariasi tergantung dengan keadaan lapangan seperti topografi maupun jenis tanah. Pada tahun pertama PJ lebih cepat berkembang dan mendominasi jenis kacangan lainya. Setelah keadaan terlindung, pertumbuhan PJ akan berkurang dan areal akan didominasi oleh CP atau CM dan CC karena jenis ini lebih baik dalam keadaann terlindung.

Jenis kacangan lain yang pada saat ini banyak digunakan di perkebunan adalah Mucuna bracteata, menghasilkan bahan organik cukup besar dan pertumbuhannya sangat cepat.

1. Calopogonium caeruleum (CC)
Kelebihan dari CC adalah :
  • Tumbuh merambat dan mudah dibedakan karena daunnya hijau mengkilat, permukaannya licin, berduri halus, berbentuk oval/hati dengan ukuran 3-5 cm.
  • Tahan naungan, tahan bersaing dengan gulma lain, toleran terhadap hama dan tahan kekeringan.
  • Dapat distek. Penanaman dengan stek diperlukan 1.000-1.300 stek/ha.
  • Kelemahan dari CC adalah :
  • Kemampuan menghasilkan biji Rendah
  • Harga cukup mahal
 Calopogonium caeruleum (CC)

2. Calopogonium mucunoides (CM)
Kacangan CM berasal dari Amerika Selatan, daun agak kecil dan tidak berbulu.
Kelebihan dari CM adalah :
  • Dapat tumbuh pada ketinggian 0-300 m diatas permukaan laut.
  • Produksi daun selama 5 bulan dapat mencapai 20 ton sehingga sangat baik sebagai pensuplai unsur N kedalam tanah.
  • Bijinya kecil-kecil memiliki daya tumbuh sedang.
Kelemahan dari CM adalah :
  • Tidak tahan bersaing dengan gulma.
  • Berumur pendek.
3. Centrosema pubescens (CP)
Daun berbentuk ellips, berukuran kecil dan permukaan agak licin.
Kelebihan dari CP adalah :
  • Dapat tumbuh pada ketinggian 0-300 m diatas permukaan laut.
  • Tahan naungan dan kekeringan.
  • Dapat menghasilkan biji sebanyak 1.000 kg/ha
Kelemahan dari CP adalah :
  • Pertumbuhan agak lambat.
  • Berumur pendek.
Centrosema pubescens (CP)

4. Psophocarpus palustris (PP)
Kelebihan dari PP adalah :
  • Dapat tumbuh pada ketinggian 0-1.000 m diatas permukaan laut. 
  • Tahan naungan dan kekeringan. 
  • Dapat tumbuh pada tanah asam seperti gambut.
Kelemahan dari PP adalah :
  • Pertumbuhan pada 3 bulan pertama agak lambat.
Psophocarpus palustris (PP)

5. Mucuna cochinchinensis (MC)
Tumbuhnya menjalar tetapi dapat juga tegak, batang agak kecil dan lemah, polongan biji berbulu tebal 
Kelebihan dari MC adalah :
  • Pertumbuhan sangat cepat dan dalam 3 bulan sudah 100% menutup.
Kelemahan
  • Secara alamiah mati setelah 6-8 bulan.
6. Pueraria Javanica (PJ)
Pueraria Javanica atau PJ adalah tanaman Penutup Tanah / LCC (Legume Cover Crop) yang biasa digunakan oleh perkebunan karet dan kelapa sawit sebagai tumbuhan pioneer yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, PJ adalah sejenis kacangan yang cepat menjalar sebab memiliki keunggulan dalam mengikat unsur N (nitrogen) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman utama (karet atau kelapa sawit) yang belum dewasa, juga kacangan ini menurunkan suhu tanah pada saat kemarau.
 Pueraria Javanica (PJ)


7. Mucuna Bracteata
Adalah satu jenis kacangan yang konon berasal dari India. Kacangan ini dianggap memiliki kelebihan
Mucuna Bracteata

Keunggulan Mucuna bracteata antara lain:
  • Pertumbuhan cepat dan menghasilkan biomassa yang tinggi.
  • Mudah ditanam dengan input yang rendah.
  • Tidak disukai ternak karena kandungann fenol yang tinggi.
  • Toleran terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Memiliki sifat allelopati sehingga memiliki daya kompetisi yang tinggi terhadap gulma.
  • Memiliki perakaran yang dalam, sehingga dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan menghasilkan serasah yang tinggi sebagai humus yang terurai lambat, sehingga menambah kesuburan tanah.
  • Mengendalikan erosi.
  • Sebagai Leguminosae dapat menambat N bebas dari udara.
  • Relatif lebih tahan naungan dan cekaman kekeringan. Pertumbuhan sangat cepat dan homogen, sehingga dapat menghambat laju pertumbuhan gulma di areal TBM.
  • Mengembalikan nutrisi tanah serta mempengaruhi kehadiran nitrogen pada tanah dengan adanya aktivitas fiksasi nitrogen di dalam bintil akar (Lehman et al., 1999). 
Selain dari beberapa kelebihan Mucuna bracteata, dari pengalaman sebelumnya kacangan tersebut juga memiliki kelemahan yaitu :
  • Kesulitan pertumbuhan pada awal penanaman apalagi pada kondisi cuaca panas dan curah hujan kurang. Dengan kata lain Mucuna bracteata sangat sulit hidup pada saat ditanam namun bila telah berhasil hidup maka pertumbuhannya akan sangat cepat sekali.
II. Cara Penanaman CC PJ CP PP CM
1. Komposisi Kacangan CC PJ CP PP CM
Kacangan tersebut biasanya dicampur dengan tingkat perbadingan yang bervariasi tergantung dengan keadaan lapangan seperti topografi maupun jenis tanah. Pada tahun pertama PJ lebih cepat berkembang dan mendominasi jenis kacangan lainya. Setelah keadaan terlindung, pertumbuhan PJ akan berkurang dan areal akan didominasi oleh CP atau CM dan CC karena jenis ini lebih baik dalam keadaann terlindung.

Beberapa komposisi campuran yang dianjurkan:

1 Kg CC + 3 Kg PJ

3 Kg PJ + 8 Kg CP

12 Kg CP + 8 Kg PP

1 Kg CC +8 Kg CP

CM : CP : CP = 2 : 1 : 2

CM : CP : CP = 2 :3 : 2

Campuran PJ, CM dan CP sebaiknya ditanam pada tanah rata dan tidak ditempat yang selalu tergenang. Sedangkan PP baik ditanam pada daerah rendahan dan lembab. Komposisi campuran juga ditentukan oleh sifat tanah. Pada tanah liat berat dimana perkembangan akar lebih lambat, campuran lebih baik disesuaikan dengan memperbanyak PJ atau CP dan penanamannya lebih rapat.

2. Perlakuan terhadap Biji CC PJ CP PP CM

Pertumbuhan kacangan yang cepat dimungkinkan jika perkecambahan biji kacangan dapat diupayakan cepat. Beberapa cara supaya biji kacangan cepat berkecambah antara lain :
  • Perendaman biji dalam air.
  • Biji direndam selama 2 hari didalam air panas bersuhu 75oC. Setelah perendaman kemudian dikeringkan.
  • Perendaman biji dalam larutan gliserin.
  • Biji direndam selama 2 hari didalam larutan gliserin bersuhu 60oC. Setelah perendaman kemudian dikeringkan.
  • Perendaman biji dalam larutan asam.
  • Biji direndam didalam larutan asam sulfuric (4 % dari berat biji) memakai gelas plastik atau wadah alumunium. Lama perendaman tergantung pada jenis kacangan, sebagai berikut :
Calopogonium sp : 8 menit 
Centrosema sp : 8 menit
Pueraria sp : 15 menit 
Flemingia sp : 10 menit

Setelah perendaman biji harus dicuci bersih untuk menghilangkan pengaruh asamnya dan dikeringkan.
  • Pemecahan kulit biji.
  • Biji dicampur pasir dan dimasukan dalam drum. Kemudian drum yang berisi biji + pasir diputar memakai elektro motor kecil (0,5 HP) 75 rpm sampai kulit biji terlihat retak-retak.
  • Kacangan yang telah diberi perlakuan tersebut diatas kemudian dicampur dengan 10 gr Rhizobium kompos untuk setiap 10 gr campuran kacangan. Caranya :
  1. Rhizobium dicampur dengan air 0,25 lt, kemudian campuran kacangan sebanyak 10 gr dimasukan kedalam larutan Rhizobium dan diaduk rata sampai semua biji kacangan basah.
  2. Biji kacangan yang telah diinokulasi tersebut dikering anginkan (jangan terkena sinar matahari langsung).
  3. Setelah kering kemudian dicampur pasir + Rock Phosphate (RP). Pencampuran biji kacangan dengan RP yaitu 1 bagian campuran kacangan + 1 bagian RP + 1 bagian pasir.

3. Cara Penanaman CC PJ CP PP CM
Cara menanam kacangan penutup tanah/ LCC tergantung dari topografi lahan yang akan ditanam, berikut adalah cara menanam tanaman kacangan penutup tanah/legume cover crops (LCC) tersebut :

a. Areal datar sampai dengan bergelombang
  • Kacangan ditanam sejajar barisan tanaman
  • "Larikan" campuran PJ, CM dan CC sebanyak 2 (dua) baris setiap gawangan hidup dan satu baris antar pokok dalam barisan tanaman
  • MC ditanam 3 (tiga) lubang di antara pokok dekat rumpukan kayu/batang. Setiap lubang ditanam 3 (tiga) benih MC
b. Areal Bukit Bergunung
  • Pada areal berbukit-bergunung dengan pola kontur/teras maka kacangan ditanam searah dengan terasan/ barisan tanaman 
  • campuran PJ, CM dan CC sebanyak 4 (empat) titik antara 2 (dua) pokok di dekat bibir terasan

III. Cara Penanaman Mucura Bracteata.

Berdasarkan pengaruhnya terhadap kesuburan tanah ternyata Mucuna bracteata memenuhi syarat sebagai penutup tanah yang ideal. Tanaman ini menghasilkan bahan organik yang tinggi dan akan sangat bermanfaat jika ditanam di daerah yang sering mengalami kekeringan dan pada areal yang rendah kandungan organiknya.

Mucuna bracteata memiliki daun trifoliat) berwarna hijau gelap dengan ukuran 15x10 cm. Helaian daun akan menutup apabila suhu lingkungan terlalu tinggi (termonasti), sehingga sangat efisien dalam mengurangi penguapan permukaan. Karangan bunga berbentuk seperti buah anggur dengan panjang 10-30 cm, terdiri dari 40-100 hiasan bunga berwarna hitam keunguan. Ketebalan vegetasi Mucuna bracteata dapat mencapai 40-100 cm dari permukaan tanah. (Subronto dan Harahap, 2002).

Pertumbuhan sulur kacangan yang sehat dapat mencapai >10 cm setiap 24 jam (dengan curah hujan yang baik pertumbuhan sulur dapat mencapai 30 cm dalam 24 jam) dan dengan penanaman sama banyak dengan jumlah tegakan kelapa sawit per hektar, ternyata dalam waktu 6 bulan dapat menutup pemukaan tanah dengan sempurna. Mucuna sangat efektif melindungi permukaan tanah dari erosi terutama pada masa TBM, lebih toleran terhadap suasana ternaung dan kekeringan, kurang disukai hama dan tidak disukai ternak, sehingga jenis kacangan ini sangat cocok untuk dipergunakan pada areal TBM yang potensial mendapat gangguan ternak lembu/sapi maupun kambing. Selama masa TM Mucuna bracteata masih dapat bertahan tumbuh dalam gawangan kelapa sawit sampai penutupan canopy tanaman. Kelemahannya, karena pertumbuhan kacangan ini sangat cepat, frekuensi rotasi pengendalian sulur menjadi lebih sering. Dalam dua minggu, apabila pertumbuhan sulur tidak dikendalikan maka akan melilit batang tanaman kelapa sawit

1. Seleksi Pembibitan Mucuna Bratcteata

Sebelum dilakukan penananaman kecambah pada pembibitan lakukan seleksi bibit mucuna antara lain :
  • Benih bagus - cotyledon berwarna putih
  • Benih sedang - cotyledon berwarna coklat
  • Benih rusak - cotyledon berwarna hitam, rusak, dengan lobang
Kebutuhan benih adalah 0,1 kg/ha atau 600 benih
Lukai kulit benih dengan pemotong kuku pada bagian testa agar cotyledon kelihatan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah absorbsi air dan juga mempercepat perkecambahan

2. Tata Cara Pembibitan
  • Isi polibag dengan media tanam yang terdiri dari campuran 2 bagian tanah dan 1 bagian pasir. Ukuran polibag yang digunakan 14 x 21 cm atau baby polibag.
  • Tanam 1 benih per polibag dengan hilum pada bagian bawah dengan kedalaman +/- 0,5 cm. Benih yang ditanam adalah benih yang bagus dan sedang.
  • Lakukan penyiraman segera setelah tanam. Penyiraman dilakukan 2 kali setiap hari untuk menjaga kelembaban tanah. Dipastikan agar kelebihan air tidak tergenang di polibag.
  • Bedengan bibitan diberi alas plastik supaya akar tidak tembus kedalam tanah diluar polibag.
  • Lakukan penyemprotan apabila ada serangan hama dan penyakit.

3. Pemupukan Benih
  • Minggu ke – 4 NPK 15.15.6.4 1 gram/bibit
  • Minggu ke – 8 NPK 15.15.6.4 1 gram/bibit
4. Persiapan menanam tanaman kacangan cover crops (LCC)
Persiapan yang baik akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan penutup tanah, dengan tahapan sebagai berikut:
  • Areal bersih dari gulma dan penanaman dapat dilakukan setelah pekerjaan memancang.
  • Penanaman MB dilakukan pada saat musim hujan, sebab MB sangat rentan pada cuaca panas pada masa pertumbuhan nya.
5. Menanam Penutup Tanah Mucuna Bracteata
Penanaman di lahan dilakukan 6 s/d 8 minggu setelah perkecambahan. Penanaman kacangan dilakukan secara menual dalam 2 barisan, masing-masing Jarak tanam dari pokok kelapa sawit adalah 4 meter dan jarak antar bibit Mucuna bracteata 1 meter. di tengah gawangan. Campuran biji kacangan yang ditanam dicampur lagi dengan Rock Phosphat sebanyak 25 kg/ha pada saat hendak menanam. Saat menanam biji kacangan adalah setelah tanah selesai diolah sempurna dan bahan pembiak vegetatif gulma serta potongan-potongan kayu telah disingkirkan.

6. Pemupukan di lapangan
Umur (setelah tanam di lapangan) Jenis Pupuk Dosis

1 bulan NPK 15.15.6.4 3 gram/bibit
2 bulan NPK 15.15.6.4 5 gram/bibit
3 bulan TSP/RP 5 gram/bibit
6 bulan TSP/RP 10 gram/bibit.

7. Cara Perbanyakan Tanaman Mucuna Bracteata

Tata cara perbanyakan Tanaman Mucuna Bracteata :
  • Persiapkan polybag ukuran 12,7 x 17,7 cm, kemudian diisi dengan tanah top soil dan bebas dari kotoran yang telah dicampur dengan Rock Phosphate (400 gr RP dalam 100 kg tanah).
  • Siram tanah di polybag sampai lembab (jangan terlalu becek), kemudian susun polybag dengan rapi
  • Penyetekan berasal dari tanaman induk MB yang tumbuh subur
  • Cari ruas kacangan MB yang berakar (tidak terlampau muda atau tua) 
  • Ambil stek Mucuna bracteata dari lapangan (1-2 ruas/stek), kemudian rendam pangkal ruas (bukan semuanya) dalam larutan 0,2 % Rootone F selama 10 menit, kemudian stek tersebut ditanam dalam polybag.
  • Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari (bila tidak turun hujan)
  • Polybag yang telah ditanami stek kemudian diberi sungkup dengan kantong plastik dan diberi naungan. Usahakan tidak ada udara keluar dari sungkupan tersebut dan biarkan selama 1 minggu.
  • Setelah 1 minggu kemudian sungkupan dibuka, dan setelah dibuka, stek Mucuna bracteata dalam polybag dipelihara secara rutin seperti penyiraman, pemupukan melalui daun dengan Greenzit/Bayfolan dan penyiangan terhadap gulma yang tumbuh.
Mengingat penelitian secara mendetail yang mempelajari efek negatif dari Mucuna bracteata seperti kemungkinan adanya zat allelopati, persaingan dengan tanaman utama (mengingat perakaran yang dalam) masih berlanjut, maka Mucuna bracteata hanya ditanam dengan tujuan untuk menutup batang-batang kelapa sawit tua atau bekas tumbangan. Mucuna bracteata akan lebih efektif dibanding Mucuna cochinensis, mengingat umur Mucuna bracteata lebih lama.

Umumnya Spesies kacangan yang digunakan sebagai tanaman penutup biasanya tidak dapat dipelihara dan dipertahankan dibawah naungan canopi kelapa sawit dewasa, dan secara gradual digantikan dengan spesies nativegrass dan pakis (fern) bila kanopi menutup. Sebagian besar spesies penutup tanah LCC hanya dapat tumbuh karena interpensi cahaya matahari. Artinya penanaman kacangan hanyalah periodik tanaman kelapa sawit sebelum penutupan canopi tanaman

IV. Pemupukan dan Pemeliharaan Kacangan
1. Pemupukan
Secara Umum pemupukan semua jenis tanaman Kacangan perlu dipupuk agar tumbuh subur dan cepat menutup tanah. Jenis, dosis dan waktu pemupukan disajikan pada Tabel dibawah ini

Umur Kacangan (bulan) Jenis Dosis (Kg/Ha)

Saat tanam RP 1:1*

1 15-15-6-4 40

3 RP 80

6 RP 120

24 RP 200

2. Penyiangan
Agar tanaman kacangan dapat berhasil tumbuh dengan baik maka harus dilakukan penyiangan pada awal masa tanam. Adapun kegiatan penyiangan tanaman kacangan adalah sebagai berikut :

a. Di dalam larikan kacangan 
Penyiangan dilakukan dengan cara mencabuti dengan tangan atau cangkul kecil. Sedangkan di luar/bagian tepi di kanan kiri larikan digaruk dengan menggunakan cangkul selebar ± 45 cm. Rotasi penyiangan ini dilakukan setiap 2 minggu sekali sampai kacangan menutup sempurna.

b. Untuk penyiangan diantara larikan
Dilakukan dengan penyemprotan herbisida Paracol (paraquat + diuron) dosis 1,5 - 2,0 liter/ha blanket. Rotasi penyemprotan ini dilakukan 1,5 - 2 bulan sekali sampai pertumbuhan kacangan bergabung (menutup).

Wednesday, 10 September 2014

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Pada umumnya areal penanaman kelapa sawit di Indonesia terletak pada daerah yang banyak hujannya. dan tidak semuanya datar/flat. Pada bulan tertentu (musim hujan) dapat tejadi lebih air (water excess), tetapi pada beberapa lokasi dimana terdapat perbedaan musim hujan dan kemarau agak tegas terdapat pula kekurangan air (water deficit). Agar air hujan yang jatuh dapat ditampung, ditahan lebih lama agar meresap dalam tanah, persediaan air dalam tanah (water reserve) selalu cukup terutama pada musim kemarau dan untuk mencegah erosi maka dibangunlah teras, rorak, bente4ng, parit dan lain-lain dilapangan. Tindakan pengawetan tanah ini mutlak diperlukan terutama didaerah yang memiliki jumlah dan hari hujan besar pada lahan yang berombak, berbukit.
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Pada daerah datar yang diutamakan adalah parit, drainase dan jembatan , sedangkan teras dan benteng tidak banyak diperlukan, Untuk mematahkan aliran air permukaan (run off) dan memperbesar daya infiltrasi air ketanah maka diperlukan teras. Teras ini juga berguna untuk meningkatkan daya simpan air, mempermudah pemeliharaan, tempat pupuk ditabur dan akan mempermudah pengambilan hasil, sampai dengan kemiringan 8 derajat dibuat teras tunggal (individual/tapak kuda) dan diatas ini dibuat teras bersambung. Teras tunggal yang telah dibuat, berukuran 2x 1,5 meter dimana panjang menurut arah kountur dan lebar menurut  kemiringan dimulai 50 cm dibawah pancang.
I.     TERAS KONTUR 
Permukaanya dibuat miring kedalam dengan sudut 10 derajat, disebelah dalam dibuat rorak kecil guna penampungan air dan benteng kecil. Teras ini harus dapat diperbesar menjadi 3x3 meter. Teras bersambung dibuat berdasarkan derajat kemiringan,jarak antar kontur diambil dari rata-rata kemiringan, makin tinggi kemiringannya maka makin jauh jaraknya, lebar teras minimum 3,7 meter dan maksimum 4,27 meter dengan asumsi bahwa diameter batang 2,36 meter maka masih tersedia ruang masing-masing sepanjang 1,175 meter didepan maupun dibagian belakang pokok. Terutama pada areal kemiringan 14% maka teras sinambung ini sudah mutlak perlu, untuk kedapatan pokok per HA 128 dan 138 pokok misalnya maka jarak antar kontur dan jarak antar pokok adalah :
Tabel Jarak Antar Teras dan Tanaman
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Tabel Bentuk Pengawetan Tanah
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Tabel Jarak Teras dan Kemiringan Persyaratan Teras 
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

1.  Tahap Pembuatan Kontur.
Penentuan pancang induk.Pancang induk adalah pancang dengan jarak tertentu dan tetap, tempat   dimulainya pembuatan kontur. Penempatan pancang induk dimulai dari puncak lereng kearah kaki lereng, sedangkan lereng yang dipilih adalah lereng dengan kemiringan dominan atau rata-rata terbanyak pada suatu areal, bukan lereng yang ekstrim (lereng paling terjal atau paling landai).

2. Penempatan pancang induk
Penempatan Pancang Induk pada lereng yang terjal akan mengakibatkan banyaknya kontur sisipan, sedangkan pada lereng yang landai mengakibatkan banyak kontur terputus, hal ini harus dihindari.    Jarak antar pancang induk : 8 m timbang air ( water pass ),

Prinsip Kerja.
Penentuan titik tanam pada kontur teratas (kontur 1) jarak antar titik tanam 9,2 m dan konstan. Penentuan titik tanam pada kontur berikutnya :                                  
• Meletakan ujung tali ditengah-tengah antara dua tanaman pada kontur 1.
• Menarik tali vertikal kebawah, ketika sampai pada kontur II dibelokan kekanan dan digeser-geser hingga sudut belokannya +/- 90 derajat.
• Pada sudut ini merupakan titik tanam pada kontur II.
• Ujung tali juga merupakan titik tanam ke2 titik-titik tanam tersebut diberi pancang tanam.

Penentuan titik tanam berikutnya adalah : pembawa ujung tali pada kontur 1 menggeser ketanah pada kontur 1 diikuti oleh 2 orang yang berada dikontur II, titik tanam terakhir ada pada kontur II merupakan titik siku-siku, dan ujung tali pada kontur tanam merupakan titik tanam baru.Untuk mendapatkan titik siku-siku pada titik siku pembawa ujung tali pada kontur 1 menggeser kekiri atau kekanan diikuti pembawa ujung tali. 

Untuk selanjutnya penentuan kontur, berikut prinsipnya sama dengan penentuan pada kontur 1 dan II. Pancang kontur dicabut bila pancang tanam sudah ditancapkan.Pancang induk dicabut jika titik tanam terakhir telah selesai dalam 1 kontur. Pancang dapat digesr 1-2 meter untuk menyesuaikan letak dengan tanaman diatasnya agar tidak terletak segaris atau sejajar.

II.  BENTENG DAN RORAK

• Dibuat pada tanah agak miring : 10 – 15 m/HK
• Ukuran : lebar alas = 60 cm, lebar atas = 40 cm, kaki lima = 45 cm, tinggi 30 cm
• Pedoman jarak horizontal antar 2 benteng :

Tabel Persyaratan Pembuatan Benteng/Rorak


Cara pembuatan benteng
Tentukan titik pemancangan; pancang-pancang selanjutnya sesuai jaraknya Parit digali, tanah galian di timbun memanjang dan bentuklah benteng sesuai ukuran Parit (rorak) : lebar atas 50 cm, dasar = 35 cm, dalam 60 cm.

III.  TERAS INDIVIDU (TAPAK KUDA)
  • Dibuat pada tanah agak miring
  • Ukuran lebar = 4 meter
  • Prestasi kerja 2 – 3 st/HK

Cara pembuatan
  • Areal yang harus di buat tapak kuda dipancang menurut pancang tanam
  • Tapak kuda tepat pada pancang tanaman
  • Tanah bagian atas pancang digali
  • Kemiringan tapak kuda 10-15º ke arah bukit
  • Tanah ditumpukan ke belakang pancang kemudian dipadatkan


Syarat dan Norma
Dibuat pada tanah agak miring
Ukuran lebar = 4 meter
Prestasi kerja 2 – 3 st/HK










Tuesday, 9 September 2014

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar

Untuk mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur terlebih dahulu diadakan pemancangan areal. Pemancangan pada areal yang rata jarak antara barisan dan dalam barisan sesuai dengan jarak yang sebenarnya. sedangkan untuk areal yang berbukit dan berkontur arah barisan mengikuti arah kontur yang ada dan jarak antara barisan adalah proyeksi jarak antar barisan.
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar

Mempersiapkan keperluan memancang 
• Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan lahan
• Norma kebutuhan tenaga : 6 HK/ha
• Pedoman arah barisan adalah U- S
• Pemancangan dilakukan sesuai dengan jarak tanamnya (sistim segi tiga sama sisi) . Jarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat
Jarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat. Lebih detail di pembahasan tentang Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit

Tabel Jarak Antar Barisan Dan Populasi
• Jarak antar barisan = 0,86 x jarak tanam.

Cara memancang  Pada Areal Datar

  • Dimulai dari luasan 1 ha terlebih dahulu ( pancang hektaran ) ukuran 100 x 100 m. Contoh : Jarak tanam 9,0 segitiga samasisi ( 9 x 7,80 m )
  • Tentukan titik awal A berjarak 1.95 M (1/4 X7.80 M ) dan 2.25 m (1/4 x9.0 m ) dari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang hidup.
  • Kawat I ; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 m ditancapkan pancang kepala. Perentangan dibantu dengan kompas.
  • Kawat II ; direntangkan arah Barat – Timur. Pada tiap jarak antar baris 7,8 m ditancapkan pancang kepala No ganjil pancang hidup, no genap pancangan mati.
  • Kemudian kawat I digeser sejauh 7,8 m sejajar dengan barisan ke arah Barat / Timur . Tancapkan pancang pada 4,5 ( pancang mati ) dari B 1 kemudian tiap 9 meter.
  • Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancangan hidup 9 meter. Buat seterusnya sampai 10 barisan.
  • Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan ( mata lima).
  • Bila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat dilanjutkan untuk memancang seluruh areal

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar

Tim pemancang ; 1 tim terdiri dari atas 5 orang :
•         Peneropong 1 orang
•         Penarik tali 2 orang
•         Pemancang 1 orang         .
•         Pembawa pancang 1 orang

Peralatan Pancang
Sebelum dimulai pemancangan terlebih dahulu harus mempersiapkan alat-alat pancang :
~ Kompas atau theodolite untuk menentukan arah
~ Ajir/bambu/kayu panjang 2 meter, 4 pancang/Ha
~ Anak pancang ukuran 1- 1,5 meter dan diikat plastik putih
~ Kawat Sling 100 m yang telah diberi tanda jarak tanam dan jarak antar barisan

Monday, 8 September 2014

Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit

Memilih dengan tepat tentang Kerapatan Tanam atau Stand per Hectare (SPH) adalah sebuah keputusan penting yang akan memberikan dampak jangka panjang, terutama yang berkaitan dengan produktifitas. Kebijakan tentang Kerapatan Tanam ini berada pada Pimpinan.
Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit


KERAPATAN TANAM YANG DIREKOMEDASIKAN
A.     Lahan Datar hingga Bergelombang
         TERRAIN/JENIS TANAH                                      SPH

          a) Coastal Clay dan Alluvium                                    136
          b) Coastal Clay                                                        148
          c)  Podsolic                                                             148
          d) Podsolic ada problem Ganoderma                       160
          d) Marginal inland dan Peat Soil                            148 – 160
          e) Marginal inland dan Peat Soil (Ganoderma)            160

B.        Lahan Berbukit                                                    148 - 160

C.        Gambut                                                                   148

Jumlah populasi tanaman per satuan luas ditentukan oleh beberapa faktor
(1) jarak tanam yang digunakan,
(2) model jarak tanam yang digunakan.
Misalnya pada penanaman kelapa sawit dengan jarak tanam 9 x 9 meter, akan memiliki jumlah populasi tanaman yang berbeda bila model jarak tanam yang digunakan berbeda (segitiga sama sisi atau persegi empat).

Model Tanam Segitiga Sama Sisi :
Bila tanaman Kelapa Sawit ditanam dengan jarak tanam 9 x 9 meter dengan model tanam segitiga sama sisi. Maka populasi tanaman per hektar (10.000 m2) dapat dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Gambar segitiga sama sisi, dengan panjang masing-masing sisi = 9 m (ABC)
2. Tarik garis lurus ke bawah dari sudut B tepat ditengah-tengah panjang sisi AC
3. Hitung tinggi segitiga ABC (atau panjang BE) dengan rumus phytagoras AB2 = AE2 + BE2
4. Hitung luas segitiga ABE dengan rumus = (1/2 x AE x BE)
5. Hitung luas jajaran genjang (ABDC) = 4 x luas ABE
6. Populasi tanaman kelapa sawit = (10.000 m2) / (luas jajaran genjang ABDC)
Hasil perhitungan :

Luas segitiga ABE = (1/2 x 4,5 m x 7,79 m) = 17,54 m2

Luas Jajaran genjang ABDC = 4 x 17,54 m2 = 70,15 m2

Populasi Tanaman Kelapa Sawit per Hektar = (10.000 m2) / (70,15 m2) = 143 tanaman

Dimana :
    a : Jarak tanam
    b : Jarak antar baris yang akan dicari

Rumus :
Perhitungan :
    Luas Areal         : 1 Ha
    Jarak Tanam     : 9m x 9m X 9m

1. MENENTUKAN JARAK TANAM
Intensitas cahaya matahari yang optimum yang diperlukan oleh tanaman bervariasi menurut jenis tanamannya. Intensitas, kualitas dan lamanya penyinaran merupakan salah satu yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan morfologi. Tanaman yang terlindung pertumbuhannya akan meninggi (etiolasi), habitusnya rendah dan lemah. Jumlah daun sedikit dan bunga betina berkurang.

Populasi per hektar yang terlalu padat lama kelamaan produksinya akan menurun, karena selain kompetisi dalam pengambilan unsur hara juga terjadi tumpang tindih pelepah sehingga intensitas dan kualitas sinar matahari yang diterima kurang optimum dan ini mengurangi luasan asimilasi (fotosintesis).
Dengan demikian maka pengaturan jarak tanam amatlah penting. Untuk kelapa sawit jenis Tenera D x P populasi per hektar = 143 pokok, semula merupakan jarak tanam yang optimum, namun ternyata dari hasil percobaan para ahli dari Marihat pada umur 8 tahun pelepah sudah mulai over laping dan pengaruh terhadap perkembangan produksi.

Untuk mencegah dan mengatasi timbulnya pengaruh intensitas dan kuantitas sinar matahari maka diperlukan jarak tanam dan arah barisan tanam. Jarak tanam pada kelapa sawit pada umumnya dibuat segitiga sama sisi (triangular). Sedangkan arah barisan tanaman mengarah dari Utara ke Selatan sehingga pendistribusian sinar matahari dari arah timur cukup banyak untuk setiap tanaman.

2. RUMUS MENCARI POPULASI/HA.
Untuk mencari populasi/ha digunakan rumus sebagai berikut :

Populasi/ha = 10.000 m2 : (a x 1/2 av3)

Keterangan :
a = jarak tanam




Monday, 1 September 2014

Kegiatan Perawatan Pada Masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit

Pemeliharaan tanaman pada komoditas perkebunan yang bersifat tahunan, biasanya dikelompokkan ke dalam tanaman belum menghasilkan/immature atau disingkat (TBM) dan tanaman menghasilkan/mature disingkat (TM). TBM pada kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai dari saat tanam sampai panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan. Periode waktu TBM pada tanaman kelapa sawit terdiri dari :

TBM 0 :  menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik pancang.
TBM 1 :  tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)
TBM 2 :  tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)
TBM 3 :  tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)
Tujuan pemeliharaan TBM adalah untuk mendapatkan tanaman yang sama dalam hal pertumbuhannya, produktif dan berproduksi tinggi. Manfaat pemeliharaan TBM mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif tanaman sawit sebagai penujang pertumbuhan generatif yang berproduksi tinggi.
Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, sejak bibit sawit selesai ditanam di lahan sampai  tanaman mulai pertama kali berbunga yaitu:
1.        Konsolidasi
Konsolidasi adalah pemeriksaan situasi blok demi blok yang sudah ditanam untuk melihat kekurangannya, kemudian memperbaikinya dengan cara menegakkan tanaman dan memadatkan tanah serta pelepah kering diputus atau dipotong. Sekaligus dilakukan inventarisasi tanaman dan permasalahan lainnya. Bibit yang mati, abnormal, tumbang, terserang berat hama atau penyakit harus disisip, teras yang rusak diperbaiki dan lain – lain. Konsolidasi dilakukan pada saat TBM 1.
Konsolidasi Tanaman Kelapa Sawit


2.        Sensus Pokok Kelapa Sawit
Sensus terhadap pokok kelapa sawit perlu dilakukan untuk keperluan penyisipan/penggantian tanaman yang rusak/mati/terkena hama penyakit. Sensus dilakukan blok demi blok dengan cara jalur per jalur dan petugas sensus memberikan tanda pada setiap jalur dengan pancang yang diikat tali plastik sejumlah bibit yang akan disisip.

3.        Penyisipan / Penyulaman
Tanaman yang mati, rusak berat, sakit dan abnormal perlu disisipi dengan segera. Penyisipan  adalah mengganti tanaman yang tidak normal dalam perkembangannya dengan tanaman yang baru. Makin cepat disisipi makin baik agar pertumbuhannya tidak ketinggalan dan sebaiknya digunakan bibit yang telah khusus disiapkan untuk sisipan. Makin lama dilakukan penyisipan maka biaya investasi akan meningkat karena pemeliharaan akan lebih lama. Penyisipan hanya dilakukan pada TBM 1 dan awal mula pada TBM 2 dan tidak dianjurkan untuk TBM 3. Bibit abnormal akan baru terlihat setelah 6 – 12 bulan ditanam dan harus diganti demikian pula dengan tanaman yang terserang landak, babi dan gajah.
Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3 – 6 bulan setelah tanam, sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu penyisipan tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun selama 18 bulan sejak tanam. Cara penyisipan tanaman yaitu  tanaman yang mati  dicabut dan ditempatkan dalam gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan dengan diawali pembuatan titik tanam. Penanaman dilakukan dengan mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit yang lebih besar (umur  ≥ 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan pelepah bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak 1,5 kali dosis pupuk  per lubangdari pada penanaman awal. Selanjutnya diperlakukan sama seperti pada tanaman lain di sekitarnya.

4.        Memelihara LCC
LCC (Legume Cover Crop) walaupun sebenarnya saya lebih setuju menyebutnya LCP (Legium Cover Plant) karena karena Crop adalah kata yang berarti tanaman yang menghasilkan buah sementara kacangan dan sejenisnya hanya tanaman penutup saja (Plant). LCC/LCP merupakan tanaman penutup tanah dalam perkebunan kelapa sawit, pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, menambah unsur N, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.Untuk mendapatkan LCC yang murni diperlukan perawatan intensif selama enam bulan pertama. Dilapangan yang penulis temukan bahwa semua LCC yang digunakan di unit usaha rejosari adalah jenis mucuna, dengan sifatnya yang dapat tumbuh dengan cepat, dalam 1 hari mucuna mampu bertambah panjang 20 – 30 cm dengan masa hidup 2 tahun. Jenis – jenis LCC yang biasa digunakan pada perkebunan kelapa sawit diantaranya :
-    Centrosema pubescens
-    Pueraria javanica
-    Calopoginium mucunoides

5.        Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis, dan Gawangan
Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu, piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit.  Karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma. Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:
·           Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air,dan sinar matahari.
·           Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan.
·           Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan secara manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul. Budi, (2009) menjelaskan bahwa pelaksanaan pemeliharaan piringan dan gawangan, harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: 
P 0 = menyingkirkan semua gulma, kacangan bersih dari gulma (kacangan 100%) umur 0-6 bulan, rotasi 2 minggu.
P 1 = kacangan 85%, rumput lunak 15%, umur 7-12 bulan, rotasi 3 minggu
P 2 = kacangan 70%, rumput lunak 30%, umur 12- 18 bulan, rotasi 3 minggu
P 3 = kacangan bercampur dengan rumput lunak, bebas dari lalang dan anakan kayu, umur > 18 bulan rotasi 4 minggu.

Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan dengan cara:
·           Piringan bebas dari gulma  sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau maksimal 180 cm dari pohon
·           Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan rintis dibuat dengan perbandingan 1:2  dengan lebar 1,2 m
·           Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan.
·           Pekerjaan penyiangan (P) atau weeding (W) pada TBM dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
TBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput gulma lain dibersihkan semuannya. Dan
TBM 2 : W1 seperti pada TBM 1
TBM 3 : W3 yaitu 70% kacangan + 30% gulma lunak; bebas  lalang. Gulma yang diberantas adalah jenis gulma jahat yakni; lalang, mikania, pahitan, pakis, teki. Gulma kacangan yang merambat ke pohon diturunkan. Gulma lunak yang tidak perlu diberantas adalah jenis wedusan, sintrong.

Pengendalian gulma pada tanaman kelapa meliputi beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk menangani pertumbuhan gulma pada areal perkebunan. Meliputi kegiatan wiping dan weeding.
Wiping. Wiping adalah mengusap daun dengan larutan herbisida. Wiping merupakan pengendalian gulma yang dilakukan pada gulma alang-alang.
Weeding. Weeding adalah pengendalian gulma dalam area kebun kelapa sawit baik dalam gawangan maupun piringan dengan cara penyiangan. Penyiangan dalam gawangan meliputi gulma yang berada diantara tanaman penutup tanah (LCC) sehingga dilakukan secara mekanik. Pelaksanaannya memiliki rotasi 16 kali dalam setahun pada TBM I. Sedangkan pada TBM II dan TBM III rotasi wiping 12 kali dalam setahun. Penyiangan pada piringan memiliki rotasi 12 kali pada TBM I dan 10 kali pada TBM II dan TBM III. Piringan adalah daerah disekitar pokok tanaman sawit yang berbentuk lingkaran berdiameter 2-3 m, diameter piringan tergantung pada umur TBM, TBM I : 2 m, TBM II : 2,5 m, TBM III : 3 m. Penyiangan atau pemberantasan tumbuhan liar pada area piringan dilakukan secara manual dan kimia.
a.  Penyiangan manual
Penyiangan manual dilakukan dengan cara menggaruk tumbuhan dalam diameter piringan dengan cangkul. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah terjadinya cekungan yang dapat menampung air dan berakibat rusaknya tanaman. Untuk menghindari hal itu, penggarukan dilakukan dari arah luar lingkaran ke dalam (tanaman).
b.  Penyiangan kimia
Penyiangan kimia dapat dilakukan pada TBM III dengan rotasi 6 kali setahun dengan jenis herbisida sesuai dengan tumbuhan yang akan diberantas.

6.        Titi Panen dan TPH
Titi panen merupakan pembuatan jembatan pada setiap jalan rintis yang melewati parit atau saluran air, sehingga jalan rintis dapat dilalui tanpa hambatan.Tujuan titi panen adalah mempermudah pekerja panen dalam mengambil/mengangkut buah sawit. Titi panen harus segera dibuat setelah jalan rintis tersedia. Pemasangan titi panen dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
·         TBM 1 dipasang titi panen pada rintis = 25%
·         TBM 2 dipasang titi panen pada rintis = 25%
·         TBM 3 dipasang titi panen pada rintis = 50%
Titi panen dapat dibuat dari kayu atau beton. Penggantian titi panen berbahan kayu ke  bahan beton sebaiknya sudah dimulai pada TBM 3 dan telah selesai pada awal TM. Jumlah titi panen tergantung dari jumlah parit dan saluran air. Untuk menentukan jumlah dan panjang titi panen harus didasarkan data sensus yang akurat. Ukuran lebar titi panen tegantung pada kebutuhan dan harus dapat dilalui angkong dengan lebar titi panen sekitar 20 cm.
·         TPH merupakan tempat pengumpulan hasil panen kelapa sawit. TPH harus dibuat /dipersiapkan sejak 3-6 bulan sebelum panen.  Caranya yaitu memiilih tempat yang datar kemudian membersihkan penutup tanah/rumput dengan menggunakan cangkul. Ukuran TPH adalah 2 meter x 2 meter. Jarak antara TPH satu dengan TPH yang lain adalah sekitar 50 meter (tiap 6 gawangan) dengan lebar titi panen sekitar 20 cm. 
·          
7.        Pemupukan
Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) dilakukan oleh Mandor besar (Mandor 1), Mandor pemupukan dan krani afdeling dengan berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan RAB berdsarkan rekomendasi dai tim riset. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM) meliputi:
·      Blok tanaman yang akan dipupuk
·      Jumlah kebutuhan pupuk per blok
·      Permintaan kendaraan
·      Tempat pengeceran pupuk
·      Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit didasarkan pada prinsip 4 T yaitu (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat metode). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman,  hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah, hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman.

8.        Tunas Pasir dan Kastrasi
Tunas Pasir/Pruning Sanitasi
Sebelum areal/blok masuk dalam kategori TM tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan tunas apapun karena pada waktu tersebut jumlah pelepah belum optimum. Sehingga pelepah produktif tidak boleh dibuang. Prinsip tunas pasir adalah hanya membuang pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering artinya ini hanya untuk keperluan sanitasi/kebersihan pokok sekitar sawit.
Pekerjaan tunas pasir dilakukan dengan cara membuang pelepah satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering. Dilakukan 6 bulan sebelum TM. Pelepah kering dipotong memakai dodos. Pelepah dipotong rapat ke pangkal dengan memakai dodos kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan disusun di gawangan mati. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras memotong/memangkas pelepah untuk tujuan apa pun, kecuali untuk analisis daun, ini pun hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja.
Kastrasi/ Ablasi
Kastrasi atau disebut juga ablasi merupakan pekerjaan penting pada kelapa sawit sebelum tanaman beralih dari TBM ke TM. Karena itu, sebelum melakukan kastrasi terlebih dahulu dilakukan monitoring pembungaan. Caranya yaitu mencatat pohon-pohon yang telah berbunga. Hasil catatan tersebut kemudian digambarkan pada peta sensus.
Tanaman kelapa sawit mulai mengeluarkan bunga setelah berumur 9 bulan, tergantung pertumbuhannya. Pada saat tersebut, bunga yang dihasilkan masih belum membentuk buah sempurna sampai tanaman berumur sekitar 24 bulan sehingga tidak ekonomis untuk diolah. Oleh sebab itu, semua bunga maupun buah yang keluar sampai dengan umur 24 bulan perlu dibuang atau diablasi.
Ablasi merupakan aktivitas membuang semua produk generatif, yaitu bunga jantan, betina, dan seluruh buah (yang terlanjur jadi) guna mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit. Pelaksanaan ablasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum pokok dipanen. Tujuan utama dilakukannya ablasi adalah mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak ekonomis ke pertumbuhan vegetatif sehingga pokok sawit yang telah diablasi akan lebih kuat dan pertumbuhannya seragam. Dengan demikian, pertumbuhan buah akan lebih besar dan seragam, serta menghambat perkembangan hama dan penyakit.
Ablasi biasanya dilakukan pada umur 18 bulan sejak tanam di lapangan sampai dengan 24 bulan. Setelah itu, bunga betina yang keluar dibiarkan sehingga tanaman sudah dapat dipanen pada umur 30 bulan. Ablasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 50% pokok kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga jantan dan atau betina. Umumnya, ablasi mulai dilakukan saat tanaman berumur 18 bulan di lapangan. Pelaksanaan ablasi dilakukan setiap dua bulan sekali sampai tanaman berumur 24 bulan.

9.        Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama utama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) dan Oryctes rhinoceros yaitu hama penggerek pucuk (titik tumbuh) kelapa sawit. Pengendaliannya dilakukan secara manual, kimia dan hayati
Penyakit yang banyak ditemui pada TBM adalah
o  Penyakit tajuk yang disebabkan faktor genetis dengan ciri-ciri adanya pembusukan berwarna coklat yang menyebar melalui bagian tengah dan menyebabkan anak daun terputus-putus.
o  Penyakit busuk tandan yang disebabkan pathogen marasmius palmivorus. Ditandai dengan adanya miselia cendawan berwarna putih pada kulit buah dan tandan. Faktor yang mendorong timbulnya penyakit ini adalah kebersihan kebun, piringan pohon sempit/kecil, penunasan terlambat, defisiensi hara dan tingginya curah hujan.
o  Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Penularan penyakit melalui pertautan antara akar sehat dan akar sakit, atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Gejala awal terlihat pada daun TBM mengalami clorosis yang berlanjut mengeringnya anak daun dan pelepah, serta terjadinya pembusukan pada jeringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian hayati untuk Ganoderma dilakukan dengan pemberian Trichoderma spp.

DAFTAR PUSTAKA
Kiswanto, Purwanta, Jamhari Hadi Purwanta dan bambang Wijayanto. (2008). Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Lampung: Balai Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.

PTPN X. (1993). Vademencum Budidaya Karet dan Kelapa Sawit. Bandar lampung: PTPN X.


Dewi Riniarti,  dan Bambang Utoyo. (2012). Budidaya tanaman Kelapa sawit. Malang: Wineka Media