Create Your ad Here

Showing posts with label Perawatan. Show all posts
Showing posts with label Perawatan. Show all posts

Monday, 1 September 2014

Spraying Circle, Path, TPH Pada Masa TM

CPT spraying adalah pekerjaan pengendalian gulma kimiawi di kebun sawit yang mencakup :
1.  (C)ircle atau Piringan,
2.  (P)ath atau Pasar Pikul, dan
3.  (T)PH atau Tempat Pengumpulan Hasil
Pekerjaan CPT spraying (gabungan Circle, Path, dan TPH) ini adalah pekerjaan 1 paket yang tidak terpisahkan

Pekerjaan ini menggunakan racun tanaman (herbisida) yang bersifat sistemik
Tidak semua permukaan kebun sawit 1 ha disemprot dalam pekerjaan CPT Spraying
Selain Circle, Path, dan TPH; tidak disemprot
1.  Gawangan (tidak ikut disemprot)
2.  Lalang (tidak ikut disemprot)
Untuk itu, harus dicari berapa luas masing-masing Circle + Path + TPH
Circle (Piringan) ada 148 piringan sesuai SPH
Path (Pasar pikul) ada sejumlah 2,18 PP/ha
TPH ada 2 TPH/Ha (Setiap 3 Path = 1 TPH)


MENCARI LUAS SEMPROT CIRCLE

Dalam 1 ha ada 148 pokok = 148 Circle (Piringan)
Cara mencari luas circle (piringan) adalah
1.  Mencari luas 1 circle (piringan)
2.  SPH X luas 1 circel (piringan)
Rumus lingkaran (luas 1 circle/pokok)
= ¶ x r2 atau 22/7 x (Jari-jari x Jari- jari)
= 22/7 x (1,5 m x 1,5 m) = 3,14 x 2,25 m2
= 7,07 m2
Luas total semua circel (piringan) per ha
= SPH x luas 1 circle = 148 pkk/ha x 7,07 m2
= 1.046,57 m2

MENCARI LUAS SEMPROT PATH (PP)
Dalam 1 Path (PP) ada 2 baris tanaman @ 34 pkk sehingga, total pokok/path (PP) adalah
= 2 BT x 34 pkk/BT = 68 pkk/path (PP)
Dalam 1 ha ada 148 pkk (SPH = 148 pkk/ha), sehingga jumlah Path (PP) adalah
= SPH : Pkk/Path (PP) = 148 pkk/ha : 68 pkk/path
= 2,18 Path/Ha atau 2,18 PP/Ha
Jika panjang path (PP) = 300 m maka luas path/ha
= Panjang Path x Lebar Path x Jumlah Path/Ha
= 300 m x 1,5 m x 2,18 Path/ha = 979 m2

MENCARI LUAS SEMPROT TPH
Setiap 3 Path (PP) ada 1 TPH. Karena 1 ha ada 2,18 Path (PP), maka dalam 1 ha ada 2 TPH
Luas TPH/Ha adalah
= Panjang TPH x Lebar TPH x Jumlah TPH/Ha
= 6 m x 4 m x 2 TPH/Ha
= 24 m2 x 2 TPH/Ha
= 48 m2


TOTAL LUAS YANG DISEMPROT CPT
Jadi, dengan demikian, total luas yang disemprot dalam pekerjaan CPT spraying adalah:
1.  Luas Circle/Ha =  1.046 m2
2.  Luas Path/Ha =     979 m2
3.  Luas TPH/Ha =       48 m2
Total luas =   2.074 m2, atau setara
=     0,21 ha

ROTASI CPT SPRAYING
Setiap ha kebun sawit punya rotasi kerja masing-masing
Untuk CPT Spraying, misalkan 3 rotasi/tahun atau setiap 4 bulan = 1 rotasi CPT
Contoh  blok A1 dilakukan CPT sesuai jadwal berikut:
-  Rotasi 1 = bulan Januari 2011
-  Rotasi 2 = bulan Mei 2011
-  Rotasi 3 = bulan September 2011
Artinya, Mandor harus mengatur rencana agar dalam waktu 4 bulan (1 rotasi), seluruh blok yang ada di divisi harus sudah dilakukan CPT Spraying
Antisipasikan hari kering (hari tidak hujan) dalam 1 rotasi dengan cara
= 75% x (4 bln x 25 hr/bln) = 75 hr/rotasi (tidak hujan)

CONTOH RENCANA KERJA CPT
MRE-3 memiliki 81 blok @ 30 ha = 2.430 ha.
Waktu tersedia 1 rotasi = 4 bln (75 hari efektif).
TK Semprot yang ada = 40 TK.
Output TK = 0,4 Hk/Ha (2,5 Ha/Hk).
Output TK Total/Hr :
= 40 TK x 2,5 Ha/Hk = 100 ha/hr (3,3 blok). Untuk memudahkan, dibuat target 90 ha/hr (3 blok) dengan TK sebanyak = 90 ha/hr : 2,5 ha/hk = 36 TK
Rencana Kebutuhan Waktu (Alternatif 1):
= 2.430 ha : 90 ha/hr = 27 hari efektif
Rencana Kebutuhan Waktu (Alternatif 2):
Target hanya dibuat 60 ha/hr (2 blok) dengan 24 TK, maka
= 2.430 ha : 60 ha/hr = 40,5 hari efektif -> 41 hari efektif

LATIHAN 1 RENCANA KERJA CPT
MRE-3 memiliki 81 blok @ 30 ha = 2.430 ha.
Waktu tersedia 1 rotasi = 4 bln (75 hari efektif).
TK Semprot yang ada = 40 TK.
Output TK = 0,4 Hk/Ha (2,5 Ha/Hk).
Ditanya:  Manajemen meminta agar 2.430 ha dikerjakan dalam 50 hr. Berapa rencana ha luas CPT/hr? Berapa kebutuhan TK/hr ?
Dijawab:
Luas CPT/ha = 2.430 ha : 50 hr = 48,6 ha CPT/hr
TK Dibutuhkan = 48,6 ha CPT/hr : 2,5 ha/hk = 19,44 HK

LATIHAN 2 RENCANA KERJA CPT
MRE-3 memiliki 81 blok @ 30 ha = 2.430 ha.
Waktu tersedia 1 rotasi = 4 bln (75 hari efektif).
Output TK = 0,4 Hk/Ha (2,5 Ha/Hk).

Ditanya:   Manajemen meminta agar 2.430 ha dikerjakan dalam 75 hr. Berapa rencana ha luas CPT/hr? Berapa kebutuhan TK/hr ?

Dijawab:
Luas CPT/ha = 2.430 ha : 75 hr
= 32,4 ha CPT/hr
TK Dibutuhkan = 32,4 ha CPT/hr : 2,5 ha/hk
= 12,96 HK/hr -> 13 HK

KONDISI FISIK LAPANGAN
Secara umum, dari awal tahun, kondisi fisik lapangan untuk pekerjaan CPT Spraying adalah:
- Rotasi1 = berat,
- Rotasi 2 = sedang, dan
- Rotasi 3 = ringan
Karenanya, maka Output TK CPT dan pemakaian bahan juga mengikuti kondisi fisik lapangannya.

PEMAKAIAN ALAT SEMPROT
Banyak alat semprot yang bisa dipakai seperti RB, SA, Solo, Inter, CDA, dll
Alat apapun yang dipakai, perhatikan kapasitas tanki dan volume semprot.  Pastikan Nozzle benar.
Yang banyak dipakai adalah Very Low Volume 200 ltr/ha. Hal ini untuk menghemat air, mempercepat waktu kerja, dan meningkatkan output TK CPT.
Cara menghitung volume semprot adalah:
(Flow Rate x 10.000) :  (Lebar semprot x mtr/mnt)
= (900 ml/mnt x 10.000) : (1,5 mtr x 30 mtr/mnt)
= 9.000.000 : 45 = 200.000 ml/ha = 200 ltr/ha

JENIS-JENIS NOZZLE SPRAYER

DOSIS DAN KONSENTRASI
DOSIS adalah kebutuhan herbisida/ha untuk dapat diaplikasikan secara merata dalam suatu luasan tertentu dengan satuan (ltr/ha atau kg/ha)
KONSENTRASI adalah kebutuhan herbisida/liter larutan yang digunakan untuk menyemprot dengan satuan (ml/ltr  air atau mg/ltr air) atau %. Contoh konsentrasi CPT memakai Slash adalah 4%.  Artinya, setiap cap
= 15 ltr/cap X 4% Slash = 15000 ml x 4% = 60 cc/cap Slash atau
= 60 cc : 15 ltr = 4 cc/ltr air.
Jika dipakai Nozzle VLV (200 ltr/ha) maka jumlah cap/ha dibutuhkan:
= 200 ltr/ha : 15 ltr/cap = 13 cap/ha. Maka, jumlah Slash yang dibutuhkan:
= 13 cap/ha x 60 cc/cap = 780 cc/ha atau 0,78 ltr/ha

DOSIS
DENGAN NOZZLE  VLV (200 Ltr/Ha)
Jumlah cap/ha  = 200 ltr/ha : 15 ltr/cap = 13,3 cap/ha.
Dosis/Ha (Slash) = 13,3 cap/ha x 60 cc/cap = 800 cc/ha atau 0,8 ltr/ha
Latihan:
MRE-4 akan CPT spraying di Blok A1, A2, B1, dan B2. Luas lahan di-CPT = 120 ha. Nozzle dipakai VLV 200 lt/ha. Kondisi piringan dan pasar pikul sangat berat sekali. Rekomendasi EM memakai konsentrasi 6% Slash dan 0,027% Ally.  Setiap HK dapat 1,5 ha. Hitunglah berapa :
Total air = 120 ha x 200 lt/ha = 24000 ltr.
Total cap =  24.000 ltr : 15 ltr/cap = 1600 cap
Total Slash =  1600 cap x (6% x 15 ltr/cap) = 1600 x 90 cc = 144.000 cc
Total Ally = 1600 cap x (0,027% x 15 ltr/cap) = 1600 x 4,05 gr = 6.480 gr
Total HK = 120 ha : 1,5 ha/hk = 80 hk
Nozzle dipakai adalah VLV atau volume 200 lt/ha.  Artinya, untuk menyemprot blanket (seluruh permukaan) 1 ha dibutuhkan larutan sebanyak 200 liter.  
Sprayer dipakai adalah Solo dengan volume 15 lt/cap.  Jadi, dengan Nozzle VLV (200 lt/ha), jika diubah ke cap, jumlah kebutuhannya adalah = 200 lt/ha : 15 lt/cap = 13,3 cap/ha






Kegiatan Perawatan Pada Masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit

Pemeliharaan tanaman pada komoditas perkebunan yang bersifat tahunan, biasanya dikelompokkan ke dalam tanaman belum menghasilkan/immature atau disingkat (TBM) dan tanaman menghasilkan/mature disingkat (TM). TBM pada kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai dari saat tanam sampai panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan. Periode waktu TBM pada tanaman kelapa sawit terdiri dari :

TBM 0 :  menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik pancang.
TBM 1 :  tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)
TBM 2 :  tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)
TBM 3 :  tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)
Tujuan pemeliharaan TBM adalah untuk mendapatkan tanaman yang sama dalam hal pertumbuhannya, produktif dan berproduksi tinggi. Manfaat pemeliharaan TBM mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif tanaman sawit sebagai penujang pertumbuhan generatif yang berproduksi tinggi.
Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, sejak bibit sawit selesai ditanam di lahan sampai  tanaman mulai pertama kali berbunga yaitu:
1.        Konsolidasi
Konsolidasi adalah pemeriksaan situasi blok demi blok yang sudah ditanam untuk melihat kekurangannya, kemudian memperbaikinya dengan cara menegakkan tanaman dan memadatkan tanah serta pelepah kering diputus atau dipotong. Sekaligus dilakukan inventarisasi tanaman dan permasalahan lainnya. Bibit yang mati, abnormal, tumbang, terserang berat hama atau penyakit harus disisip, teras yang rusak diperbaiki dan lain – lain. Konsolidasi dilakukan pada saat TBM 1.
Konsolidasi Tanaman Kelapa Sawit


2.        Sensus Pokok Kelapa Sawit
Sensus terhadap pokok kelapa sawit perlu dilakukan untuk keperluan penyisipan/penggantian tanaman yang rusak/mati/terkena hama penyakit. Sensus dilakukan blok demi blok dengan cara jalur per jalur dan petugas sensus memberikan tanda pada setiap jalur dengan pancang yang diikat tali plastik sejumlah bibit yang akan disisip.

3.        Penyisipan / Penyulaman
Tanaman yang mati, rusak berat, sakit dan abnormal perlu disisipi dengan segera. Penyisipan  adalah mengganti tanaman yang tidak normal dalam perkembangannya dengan tanaman yang baru. Makin cepat disisipi makin baik agar pertumbuhannya tidak ketinggalan dan sebaiknya digunakan bibit yang telah khusus disiapkan untuk sisipan. Makin lama dilakukan penyisipan maka biaya investasi akan meningkat karena pemeliharaan akan lebih lama. Penyisipan hanya dilakukan pada TBM 1 dan awal mula pada TBM 2 dan tidak dianjurkan untuk TBM 3. Bibit abnormal akan baru terlihat setelah 6 – 12 bulan ditanam dan harus diganti demikian pula dengan tanaman yang terserang landak, babi dan gajah.
Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3 – 6 bulan setelah tanam, sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu penyisipan tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun selama 18 bulan sejak tanam. Cara penyisipan tanaman yaitu  tanaman yang mati  dicabut dan ditempatkan dalam gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan dengan diawali pembuatan titik tanam. Penanaman dilakukan dengan mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit yang lebih besar (umur  ≥ 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan pelepah bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak 1,5 kali dosis pupuk  per lubangdari pada penanaman awal. Selanjutnya diperlakukan sama seperti pada tanaman lain di sekitarnya.

4.        Memelihara LCC
LCC (Legume Cover Crop) walaupun sebenarnya saya lebih setuju menyebutnya LCP (Legium Cover Plant) karena karena Crop adalah kata yang berarti tanaman yang menghasilkan buah sementara kacangan dan sejenisnya hanya tanaman penutup saja (Plant). LCC/LCP merupakan tanaman penutup tanah dalam perkebunan kelapa sawit, pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, menambah unsur N, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.Untuk mendapatkan LCC yang murni diperlukan perawatan intensif selama enam bulan pertama. Dilapangan yang penulis temukan bahwa semua LCC yang digunakan di unit usaha rejosari adalah jenis mucuna, dengan sifatnya yang dapat tumbuh dengan cepat, dalam 1 hari mucuna mampu bertambah panjang 20 – 30 cm dengan masa hidup 2 tahun. Jenis – jenis LCC yang biasa digunakan pada perkebunan kelapa sawit diantaranya :
-    Centrosema pubescens
-    Pueraria javanica
-    Calopoginium mucunoides

5.        Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis, dan Gawangan
Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu, piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit.  Karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma. Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:
·           Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air,dan sinar matahari.
·           Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan.
·           Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan secara manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul. Budi, (2009) menjelaskan bahwa pelaksanaan pemeliharaan piringan dan gawangan, harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: 
P 0 = menyingkirkan semua gulma, kacangan bersih dari gulma (kacangan 100%) umur 0-6 bulan, rotasi 2 minggu.
P 1 = kacangan 85%, rumput lunak 15%, umur 7-12 bulan, rotasi 3 minggu
P 2 = kacangan 70%, rumput lunak 30%, umur 12- 18 bulan, rotasi 3 minggu
P 3 = kacangan bercampur dengan rumput lunak, bebas dari lalang dan anakan kayu, umur > 18 bulan rotasi 4 minggu.

Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan dengan cara:
·           Piringan bebas dari gulma  sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau maksimal 180 cm dari pohon
·           Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan rintis dibuat dengan perbandingan 1:2  dengan lebar 1,2 m
·           Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan.
·           Pekerjaan penyiangan (P) atau weeding (W) pada TBM dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
TBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput gulma lain dibersihkan semuannya. Dan
TBM 2 : W1 seperti pada TBM 1
TBM 3 : W3 yaitu 70% kacangan + 30% gulma lunak; bebas  lalang. Gulma yang diberantas adalah jenis gulma jahat yakni; lalang, mikania, pahitan, pakis, teki. Gulma kacangan yang merambat ke pohon diturunkan. Gulma lunak yang tidak perlu diberantas adalah jenis wedusan, sintrong.

Pengendalian gulma pada tanaman kelapa meliputi beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk menangani pertumbuhan gulma pada areal perkebunan. Meliputi kegiatan wiping dan weeding.
Wiping. Wiping adalah mengusap daun dengan larutan herbisida. Wiping merupakan pengendalian gulma yang dilakukan pada gulma alang-alang.
Weeding. Weeding adalah pengendalian gulma dalam area kebun kelapa sawit baik dalam gawangan maupun piringan dengan cara penyiangan. Penyiangan dalam gawangan meliputi gulma yang berada diantara tanaman penutup tanah (LCC) sehingga dilakukan secara mekanik. Pelaksanaannya memiliki rotasi 16 kali dalam setahun pada TBM I. Sedangkan pada TBM II dan TBM III rotasi wiping 12 kali dalam setahun. Penyiangan pada piringan memiliki rotasi 12 kali pada TBM I dan 10 kali pada TBM II dan TBM III. Piringan adalah daerah disekitar pokok tanaman sawit yang berbentuk lingkaran berdiameter 2-3 m, diameter piringan tergantung pada umur TBM, TBM I : 2 m, TBM II : 2,5 m, TBM III : 3 m. Penyiangan atau pemberantasan tumbuhan liar pada area piringan dilakukan secara manual dan kimia.
a.  Penyiangan manual
Penyiangan manual dilakukan dengan cara menggaruk tumbuhan dalam diameter piringan dengan cangkul. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah terjadinya cekungan yang dapat menampung air dan berakibat rusaknya tanaman. Untuk menghindari hal itu, penggarukan dilakukan dari arah luar lingkaran ke dalam (tanaman).
b.  Penyiangan kimia
Penyiangan kimia dapat dilakukan pada TBM III dengan rotasi 6 kali setahun dengan jenis herbisida sesuai dengan tumbuhan yang akan diberantas.

6.        Titi Panen dan TPH
Titi panen merupakan pembuatan jembatan pada setiap jalan rintis yang melewati parit atau saluran air, sehingga jalan rintis dapat dilalui tanpa hambatan.Tujuan titi panen adalah mempermudah pekerja panen dalam mengambil/mengangkut buah sawit. Titi panen harus segera dibuat setelah jalan rintis tersedia. Pemasangan titi panen dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
·         TBM 1 dipasang titi panen pada rintis = 25%
·         TBM 2 dipasang titi panen pada rintis = 25%
·         TBM 3 dipasang titi panen pada rintis = 50%
Titi panen dapat dibuat dari kayu atau beton. Penggantian titi panen berbahan kayu ke  bahan beton sebaiknya sudah dimulai pada TBM 3 dan telah selesai pada awal TM. Jumlah titi panen tergantung dari jumlah parit dan saluran air. Untuk menentukan jumlah dan panjang titi panen harus didasarkan data sensus yang akurat. Ukuran lebar titi panen tegantung pada kebutuhan dan harus dapat dilalui angkong dengan lebar titi panen sekitar 20 cm.
·         TPH merupakan tempat pengumpulan hasil panen kelapa sawit. TPH harus dibuat /dipersiapkan sejak 3-6 bulan sebelum panen.  Caranya yaitu memiilih tempat yang datar kemudian membersihkan penutup tanah/rumput dengan menggunakan cangkul. Ukuran TPH adalah 2 meter x 2 meter. Jarak antara TPH satu dengan TPH yang lain adalah sekitar 50 meter (tiap 6 gawangan) dengan lebar titi panen sekitar 20 cm. 
·          
7.        Pemupukan
Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) dilakukan oleh Mandor besar (Mandor 1), Mandor pemupukan dan krani afdeling dengan berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan RAB berdsarkan rekomendasi dai tim riset. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM) meliputi:
·      Blok tanaman yang akan dipupuk
·      Jumlah kebutuhan pupuk per blok
·      Permintaan kendaraan
·      Tempat pengeceran pupuk
·      Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit didasarkan pada prinsip 4 T yaitu (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat metode). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman,  hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah, hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman.

8.        Tunas Pasir dan Kastrasi
Tunas Pasir/Pruning Sanitasi
Sebelum areal/blok masuk dalam kategori TM tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan tunas apapun karena pada waktu tersebut jumlah pelepah belum optimum. Sehingga pelepah produktif tidak boleh dibuang. Prinsip tunas pasir adalah hanya membuang pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering artinya ini hanya untuk keperluan sanitasi/kebersihan pokok sekitar sawit.
Pekerjaan tunas pasir dilakukan dengan cara membuang pelepah satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering. Dilakukan 6 bulan sebelum TM. Pelepah kering dipotong memakai dodos. Pelepah dipotong rapat ke pangkal dengan memakai dodos kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan disusun di gawangan mati. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras memotong/memangkas pelepah untuk tujuan apa pun, kecuali untuk analisis daun, ini pun hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja.
Kastrasi/ Ablasi
Kastrasi atau disebut juga ablasi merupakan pekerjaan penting pada kelapa sawit sebelum tanaman beralih dari TBM ke TM. Karena itu, sebelum melakukan kastrasi terlebih dahulu dilakukan monitoring pembungaan. Caranya yaitu mencatat pohon-pohon yang telah berbunga. Hasil catatan tersebut kemudian digambarkan pada peta sensus.
Tanaman kelapa sawit mulai mengeluarkan bunga setelah berumur 9 bulan, tergantung pertumbuhannya. Pada saat tersebut, bunga yang dihasilkan masih belum membentuk buah sempurna sampai tanaman berumur sekitar 24 bulan sehingga tidak ekonomis untuk diolah. Oleh sebab itu, semua bunga maupun buah yang keluar sampai dengan umur 24 bulan perlu dibuang atau diablasi.
Ablasi merupakan aktivitas membuang semua produk generatif, yaitu bunga jantan, betina, dan seluruh buah (yang terlanjur jadi) guna mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit. Pelaksanaan ablasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum pokok dipanen. Tujuan utama dilakukannya ablasi adalah mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak ekonomis ke pertumbuhan vegetatif sehingga pokok sawit yang telah diablasi akan lebih kuat dan pertumbuhannya seragam. Dengan demikian, pertumbuhan buah akan lebih besar dan seragam, serta menghambat perkembangan hama dan penyakit.
Ablasi biasanya dilakukan pada umur 18 bulan sejak tanam di lapangan sampai dengan 24 bulan. Setelah itu, bunga betina yang keluar dibiarkan sehingga tanaman sudah dapat dipanen pada umur 30 bulan. Ablasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 50% pokok kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga jantan dan atau betina. Umumnya, ablasi mulai dilakukan saat tanaman berumur 18 bulan di lapangan. Pelaksanaan ablasi dilakukan setiap dua bulan sekali sampai tanaman berumur 24 bulan.

9.        Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama utama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) dan Oryctes rhinoceros yaitu hama penggerek pucuk (titik tumbuh) kelapa sawit. Pengendaliannya dilakukan secara manual, kimia dan hayati
Penyakit yang banyak ditemui pada TBM adalah
o  Penyakit tajuk yang disebabkan faktor genetis dengan ciri-ciri adanya pembusukan berwarna coklat yang menyebar melalui bagian tengah dan menyebabkan anak daun terputus-putus.
o  Penyakit busuk tandan yang disebabkan pathogen marasmius palmivorus. Ditandai dengan adanya miselia cendawan berwarna putih pada kulit buah dan tandan. Faktor yang mendorong timbulnya penyakit ini adalah kebersihan kebun, piringan pohon sempit/kecil, penunasan terlambat, defisiensi hara dan tingginya curah hujan.
o  Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Penularan penyakit melalui pertautan antara akar sehat dan akar sakit, atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Gejala awal terlihat pada daun TBM mengalami clorosis yang berlanjut mengeringnya anak daun dan pelepah, serta terjadinya pembusukan pada jeringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian hayati untuk Ganoderma dilakukan dengan pemberian Trichoderma spp.

DAFTAR PUSTAKA
Kiswanto, Purwanta, Jamhari Hadi Purwanta dan bambang Wijayanto. (2008). Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Lampung: Balai Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.

PTPN X. (1993). Vademencum Budidaya Karet dan Kelapa Sawit. Bandar lampung: PTPN X.


Dewi Riniarti,  dan Bambang Utoyo. (2012). Budidaya tanaman Kelapa sawit. Malang: Wineka Media