Create Your ad Here

Showing posts with label Lining. Show all posts
Showing posts with label Lining. Show all posts

Wednesday, 10 September 2014

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Pada umumnya areal penanaman kelapa sawit di Indonesia terletak pada daerah yang banyak hujannya. dan tidak semuanya datar/flat. Pada bulan tertentu (musim hujan) dapat tejadi lebih air (water excess), tetapi pada beberapa lokasi dimana terdapat perbedaan musim hujan dan kemarau agak tegas terdapat pula kekurangan air (water deficit). Agar air hujan yang jatuh dapat ditampung, ditahan lebih lama agar meresap dalam tanah, persediaan air dalam tanah (water reserve) selalu cukup terutama pada musim kemarau dan untuk mencegah erosi maka dibangunlah teras, rorak, bente4ng, parit dan lain-lain dilapangan. Tindakan pengawetan tanah ini mutlak diperlukan terutama didaerah yang memiliki jumlah dan hari hujan besar pada lahan yang berombak, berbukit.
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Pada daerah datar yang diutamakan adalah parit, drainase dan jembatan , sedangkan teras dan benteng tidak banyak diperlukan, Untuk mematahkan aliran air permukaan (run off) dan memperbesar daya infiltrasi air ketanah maka diperlukan teras. Teras ini juga berguna untuk meningkatkan daya simpan air, mempermudah pemeliharaan, tempat pupuk ditabur dan akan mempermudah pengambilan hasil, sampai dengan kemiringan 8 derajat dibuat teras tunggal (individual/tapak kuda) dan diatas ini dibuat teras bersambung. Teras tunggal yang telah dibuat, berukuran 2x 1,5 meter dimana panjang menurut arah kountur dan lebar menurut  kemiringan dimulai 50 cm dibawah pancang.
I.     TERAS KONTUR 
Permukaanya dibuat miring kedalam dengan sudut 10 derajat, disebelah dalam dibuat rorak kecil guna penampungan air dan benteng kecil. Teras ini harus dapat diperbesar menjadi 3x3 meter. Teras bersambung dibuat berdasarkan derajat kemiringan,jarak antar kontur diambil dari rata-rata kemiringan, makin tinggi kemiringannya maka makin jauh jaraknya, lebar teras minimum 3,7 meter dan maksimum 4,27 meter dengan asumsi bahwa diameter batang 2,36 meter maka masih tersedia ruang masing-masing sepanjang 1,175 meter didepan maupun dibagian belakang pokok. Terutama pada areal kemiringan 14% maka teras sinambung ini sudah mutlak perlu, untuk kedapatan pokok per HA 128 dan 138 pokok misalnya maka jarak antar kontur dan jarak antar pokok adalah :
Tabel Jarak Antar Teras dan Tanaman
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Tabel Bentuk Pengawetan Tanah
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

Tabel Jarak Teras dan Kemiringan Persyaratan Teras 
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Berbukit

1.  Tahap Pembuatan Kontur.
Penentuan pancang induk.Pancang induk adalah pancang dengan jarak tertentu dan tetap, tempat   dimulainya pembuatan kontur. Penempatan pancang induk dimulai dari puncak lereng kearah kaki lereng, sedangkan lereng yang dipilih adalah lereng dengan kemiringan dominan atau rata-rata terbanyak pada suatu areal, bukan lereng yang ekstrim (lereng paling terjal atau paling landai).

2. Penempatan pancang induk
Penempatan Pancang Induk pada lereng yang terjal akan mengakibatkan banyaknya kontur sisipan, sedangkan pada lereng yang landai mengakibatkan banyak kontur terputus, hal ini harus dihindari.    Jarak antar pancang induk : 8 m timbang air ( water pass ),

Prinsip Kerja.
Penentuan titik tanam pada kontur teratas (kontur 1) jarak antar titik tanam 9,2 m dan konstan. Penentuan titik tanam pada kontur berikutnya :                                  
Meletakan ujung tali ditengah-tengah antara dua tanaman pada kontur 1.
Menarik tali vertikal kebawah, ketika sampai pada kontur II dibelokan kekanan dan digeser-geser hingga sudut belokannya +/- 90 derajat.
Pada sudut ini merupakan titik tanam pada kontur II.
Ujung tali juga merupakan titik tanam ke2 titik-titik tanam tersebut diberi pancang tanam.

Penentuan titik tanam berikutnya adalah : pembawa ujung tali pada kontur 1 menggeser ketanah pada kontur 1 diikuti oleh 2 orang yang berada dikontur II, titik tanam terakhir ada pada kontur II merupakan titik siku-siku, dan ujung tali pada kontur tanam merupakan titik tanam baru.Untuk mendapatkan titik siku-siku pada titik siku pembawa ujung tali pada kontur 1 menggeser kekiri atau kekanan diikuti pembawa ujung tali. 

Untuk selanjutnya penentuan kontur, berikut prinsipnya sama dengan penentuan pada kontur 1 dan II. Pancang kontur dicabut bila pancang tanam sudah ditancapkan.Pancang induk dicabut jika titik tanam terakhir telah selesai dalam 1 kontur. Pancang dapat digesr 1-2 meter untuk menyesuaikan letak dengan tanaman diatasnya agar tidak terletak segaris atau sejajar.

II.  BENTENG DAN RORAK

Dibuat pada tanah agak miring : 10 – 15 m/HK
Ukuran : lebar alas = 60 cm, lebar atas = 40 cm, kaki lima = 45 cm, tinggi 30 cm
Pedoman jarak horizontal antar 2 benteng :

Tabel Persyaratan Pembuatan Benteng/Rorak


Cara pembuatan benteng
Tentukan titik pemancangan; pancang-pancang selanjutnya sesuai jaraknya Parit digali, tanah galian di timbun memanjang dan bentuklah benteng sesuai ukuran Parit (rorak) : lebar atas 50 cm, dasar = 35 cm, dalam 60 cm.

III.  TERAS INDIVIDU (TAPAK KUDA)
  • Dibuat pada tanah agak miring
  • Ukuran lebar = 4 meter
  • Prestasi kerja 2 – 3 st/HK

Cara pembuatan
  • Areal yang harus di buat tapak kuda dipancang menurut pancang tanam
  • Tapak kuda tepat pada pancang tanaman
  • Tanah bagian atas pancang digali
  • Kemiringan tapak kuda 10-15ยบ ke arah bukit
  • Tanah ditumpukan ke belakang pancang kemudian dipadatkan


Syarat dan Norma
Dibuat pada tanah agak miring
Ukuran lebar = 4 meter
Prestasi kerja 2 – 3 st/HK










Tuesday, 9 September 2014

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar

Untuk mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur terlebih dahulu diadakan pemancangan areal. Pemancangan pada areal yang rata jarak antara barisan dan dalam barisan sesuai dengan jarak yang sebenarnya. sedangkan untuk areal yang berbukit dan berkontur arah barisan mengikuti arah kontur yang ada dan jarak antara barisan adalah proyeksi jarak antar barisan.
Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar

Mempersiapkan keperluan memancang 
Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan lahan
Norma kebutuhan tenaga : 6 HK/ha
Pedoman arah barisan adalah U- S
Pemancangan dilakukan sesuai dengan jarak tanamnya (sistim segi tiga sama sisi) . Jarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat
Jarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat. Lebih detail di pembahasan tentang Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit

Tabel Jarak Antar Barisan Dan Populasi
Jarak antar barisan = 0,86 x jarak tanam.

Cara memancang  Pada Areal Datar

  • Dimulai dari luasan 1 ha terlebih dahulu ( pancang hektaran ) ukuran 100 x 100 m. Contoh : Jarak tanam 9,0 segitiga samasisi ( 9 x 7,80 m )
  • Tentukan titik awal A berjarak 1.95 M (1/4 X7.80 M ) dan 2.25 m (1/4 x9.0 m ) dari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang hidup.
  • Kawat I ; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 m ditancapkan pancang kepala. Perentangan dibantu dengan kompas.
  • Kawat II ; direntangkan arah Barat – Timur. Pada tiap jarak antar baris 7,8 m ditancapkan pancang kepala No ganjil pancang hidup, no genap pancangan mati.
  • Kemudian kawat I digeser sejauh 7,8 m sejajar dengan barisan ke arah Barat / Timur . Tancapkan pancang pada 4,5 ( pancang mati ) dari B 1 kemudian tiap 9 meter.
  • Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancangan hidup 9 meter. Buat seterusnya sampai 10 barisan.
  • Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan ( mata lima).
  • Bila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat dilanjutkan untuk memancang seluruh areal

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar

Tim pemancang ; 1 tim terdiri dari atas 5 orang :
•         Peneropong 1 orang
•         Penarik tali 2 orang
•         Pemancang 1 orang         .
•         Pembawa pancang 1 orang

Peralatan Pancang
Sebelum dimulai pemancangan terlebih dahulu harus mempersiapkan alat-alat pancang :
~ Kompas atau theodolite untuk menentukan arah
~ Ajir/bambu/kayu panjang 2 meter, 4 pancang/Ha
~ Anak pancang ukuran 1- 1,5 meter dan diikat plastik putih
~ Kawat Sling 100 m yang telah diberi tanda jarak tanam dan jarak antar barisan

Monday, 8 September 2014

Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit

Memilih dengan tepat tentang Kerapatan Tanam atau Stand per Hectare (SPH) adalah sebuah keputusan penting yang akan memberikan dampak jangka panjang, terutama yang berkaitan dengan produktifitas. Kebijakan tentang Kerapatan Tanam ini berada pada Pimpinan.
Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit


KERAPATAN TANAM YANG DIREKOMEDASIKAN
A.     Lahan Datar hingga Bergelombang
         TERRAIN/JENIS TANAH                                      SPH

          a) Coastal Clay dan Alluvium                                    136
          b) Coastal Clay                                                        148
          c)  Podsolic                                                             148
          d) Podsolic ada problem Ganoderma                       160
          d) Marginal inland dan Peat Soil                            148 – 160
          e) Marginal inland dan Peat Soil (Ganoderma)            160

B.        Lahan Berbukit                                                    148 - 160

C.        Gambut                                                                   148

Jumlah populasi tanaman per satuan luas ditentukan oleh beberapa faktor
(1) jarak tanam yang digunakan,
(2) model jarak tanam yang digunakan.
Misalnya pada penanaman kelapa sawit dengan jarak tanam 9 x 9 meter, akan memiliki jumlah populasi tanaman yang berbeda bila model jarak tanam yang digunakan berbeda (segitiga sama sisi atau persegi empat).

Model Tanam Segitiga Sama Sisi :
Bila tanaman Kelapa Sawit ditanam dengan jarak tanam 9 x 9 meter dengan model tanam segitiga sama sisi. Maka populasi tanaman per hektar (10.000 m2) dapat dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Gambar segitiga sama sisi, dengan panjang masing-masing sisi = 9 m (ABC)
2. Tarik garis lurus ke bawah dari sudut B tepat ditengah-tengah panjang sisi AC
3. Hitung tinggi segitiga ABC (atau panjang BE) dengan rumus phytagoras AB2 = AE2 + BE2
4. Hitung luas segitiga ABE dengan rumus = (1/2 x AE x BE)
5. Hitung luas jajaran genjang (ABDC) = 4 x luas ABE
6. Populasi tanaman kelapa sawit = (10.000 m2) / (luas jajaran genjang ABDC)
Hasil perhitungan :

Luas segitiga ABE = (1/2 x 4,5 m x 7,79 m) = 17,54 m2

Luas Jajaran genjang ABDC = 4 x 17,54 m2 = 70,15 m2

Populasi Tanaman Kelapa Sawit per Hektar = (10.000 m2) / (70,15 m2) = 143 tanaman

Dimana :
    a : Jarak tanam
    b : Jarak antar baris yang akan dicari

Rumus :
Perhitungan :
    Luas Areal         : 1 Ha
    Jarak Tanam     : 9m x 9m X 9m

1. MENENTUKAN JARAK TANAM
Intensitas cahaya matahari yang optimum yang diperlukan oleh tanaman bervariasi menurut jenis tanamannya. Intensitas, kualitas dan lamanya penyinaran merupakan salah satu yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan morfologi. Tanaman yang terlindung pertumbuhannya akan meninggi (etiolasi), habitusnya rendah dan lemah. Jumlah daun sedikit dan bunga betina berkurang.

Populasi per hektar yang terlalu padat lama kelamaan produksinya akan menurun, karena selain kompetisi dalam pengambilan unsur hara juga terjadi tumpang tindih pelepah sehingga intensitas dan kualitas sinar matahari yang diterima kurang optimum dan ini mengurangi luasan asimilasi (fotosintesis).
Dengan demikian maka pengaturan jarak tanam amatlah penting. Untuk kelapa sawit jenis Tenera D x P populasi per hektar = 143 pokok, semula merupakan jarak tanam yang optimum, namun ternyata dari hasil percobaan para ahli dari Marihat pada umur 8 tahun pelepah sudah mulai over laping dan pengaruh terhadap perkembangan produksi.

Untuk mencegah dan mengatasi timbulnya pengaruh intensitas dan kuantitas sinar matahari maka diperlukan jarak tanam dan arah barisan tanam. Jarak tanam pada kelapa sawit pada umumnya dibuat segitiga sama sisi (triangular). Sedangkan arah barisan tanaman mengarah dari Utara ke Selatan sehingga pendistribusian sinar matahari dari arah timur cukup banyak untuk setiap tanaman.

2. RUMUS MENCARI POPULASI/HA.
Untuk mencari populasi/ha digunakan rumus sebagai berikut :

Populasi/ha = 10.000 m2 : (a x 1/2 av3)

Keterangan :
a = jarak tanam