Create Your ad Here

Showing posts with label Road. Show all posts
Showing posts with label Road. Show all posts

Tuesday, 7 October 2014

Perawatan Jalan Kebun Kelapa Sawit

Perawatan jalan yang terpenting adalah menjaga bentuk jalan tetap cembung (Camber) atau kemiringan sekitar 5% dan tali air pada tepi badan jalan. Air tidak boleh tergenang di permukaan badan jalan karena akan menyebabkan terbentuk lubang pada titik-titik yang lemah pada akhirnya merusak jalan.
Perawatan Jalan Kebun Kelapa Sawit

Ada 5 faktor penyebab kerusakan jalan yaitu:
• air
• bahan organik
• kurangnya cahaya matahari
• sifat tanah (tekstur dan struktur)
• bahan angkutan (tonase) yang berlebihan.

Penimbunan dan Pengerasan Jalan
a. Waktu Pelaksanaan 
  • Perencanaan penimbunan/pengerasan jalan disesuaikan dengan kebutuhan kebun dengan memperhatikan iklim setempat sehingga pekerjaan dapat dilakukan bukan pada musim hujan
  • Pengajuan rencana anggaran pekerjaan (RAP) dari kebun ke CEO harus sudah selesai pada bulan Desember tahun sebelum berjalan. Data RAP yang harus dipersiapkan terdiri atas peta jalan yang akan ditimbun/dikeraskan, disertai data panjang, lebar, tebal penimbunan (MR, CR, dll) serta volume material yang akan digunakan
b. Sarana Pekerjaan 
  • Peralatan & sarana kerja yang diperlukan telah dipersiapkan dalam kondisi baik
  • Jenis sarana pekerjaan : grader, excavator, buldozer, mining bucket, wheel loader, dump truk, roller/vibrating compactor 6 ton dan lainnya
  • Bila pakai kontraktor, harus disiapkan oleh kontraktor sesuai spesifikasi pekerjaan
c. Pengadaan Bahan
  • Bahan yang dipakai harus diutamakan yang tersedia di lokasi kebun dan sekitarnya dengan mempertimbangkan jarak sumber bahan (quari) dengan lokasi penimbunan/ pengerasan jalan.
  • Quari harus disurvey untuk menentukan kualitas dan kecukupan bahan.
Untuk melakukan perawatan jalan secara efektif kita harus memperhatikan beberapa hal, Adapun teknik rawat jalan yang diterapkan tergantung dari jenis kerusakan dan tujuan perawatan.berdasarkan jenis jalan dan dalam melaksanakan perawatan harus mempertimbangkan sebagai berikut :
  • Jenis jalan yang akan dilaksanakan perawatan nya (Main Road, Production Road, Collection Road, Harvesting Road, dll)
  • Kondisi Cuaca dan Iklim ( Curah hujan dan hari hujan, musim penghujan atau kemarau)
  • Tenaga Kerja (jumlah tenaga rawat jalan)
  • Alat berat ( Roada Grader, excavator, truck dll)
  • Ketersediaan Batu padas, Sirtu dll
Perawatan jalan akses (acces road) harus lebih tinggi proporsinya dari pada jalan lain, karena intensitas di lewati dan tingkat dampak apabila rusak terhadap aspek lain lebih besar. Jalan utama ( Main Road) menjadi prioritas selanjutnya, dilanjutkan dengan jalan collection dan jalan kountur.

yang di maksud dengan jalan akses adalah jalan yang di gunakan sebagai akses menuju kebun dari lingkungan luar (jalan utama untuk keluar-masuk kebun). Jalan akses biasanya mempunyai beban yang cukup berat karena dilewati oleh truk atau kendaraan dengan kapasitas muatan besar (bisa sampai 40 ton) seperti truk pengangkut pupup, truk kernel, mobil tangki CPO dll.

KLASIFIKASI JALAN
1. Jalan Utama (Main Road)
  • Adalah jalan yang menghubungkan antara kantor kebun dengan divisi, antar divisi dan jalan akses keluar dari emplasmen ke luar kebun
  • Lebar jalan adalah 8 m, dengan rincian 5 meter badan jalan, serta 1 x 2 m bahu jalan dan 0,5 x 2 adalah parit jalan
  • Dalam pembuatan jalan Utama, tidak ada barisan tanaman yang hilang
  • Pembuatan jalan dilaksanakan secara mekanis dengan permukaan jalan cembung serta kiri kana dibuat parit.
2. Jalan Produksi (Production Road)
  • Jalan yang dibuat antar blok dengan arah Utara - Selatan dan digunakan sebagai sarana transportasi panen dan pemupukan, serta fungsi lainnya.
  • Setiap batas tertentu, biasanya 100 m dibuatkan TPH (Tempat Pengumpulan Hasil)
  • Dalam Pembuatannya akan ada baris tanaman yang hilang.
3. Jalan Koleksi (Collection Road)
  • Letak jalan adalah ditengah blok antara Timur – Barat
  • Dalam pembuatannya adanya tanaman yang hilang
  • Berfungsi sebagai sarana pengangkutan buah dari blok ke TPH, juga untuk sarana pengangkutan pupuk dan bahan kimia langsung ke dalam blok
  • Dalam hal pemeliharaan jalan di gabungkan pada saat perawatan blok yang bersangkutan
4. Jalan Panen (Harvesting Road)
  • Adalah jalan kecil yang dibuat sejajar dengan baris tanaman Utara – selatan
  • Berfungsi mengangkut tandan buah ke TPH, atau fungsi lainnya terutama pemupukan
  • Lebar jalan 0,75 s/d 1 m dan badan jalan dibiarkan tertutup rumput tipis, dan setiap 3 bulan sekali dilakukan perawatan
5. Jalan Pringgan
Adalah jalan yang dibuat dan terletak di batas luar afdeling dan juga sebagai batas afdeling, dan berfungsi sebagai pengawasan jaringan

PERAWATAN JALAN
1. Jalan Utama
  • Jalan utama harus dirawat secara mekanis/greader dan pengikisan dilakukan setipis mungkin, dan permukaan tanah diusahakan tetap dalam keadaan cembung.
  • Permukaan tanah di giling dengan menggunakan Roadroller dan diberi lapisan batu yang tipis atau cangkang.
  • Tempat tempat yang terus menerua rusak harus menjadi prioritas utama dalam perawatan
Perawatan Jalan Kebun Kelapa Sawit

    2. Jalan Produksi dan Pringgan
    • Perawatan dilaksanakan dengan manual dan bersamaan dengan perawatan blok tanam bersangkutan
    • Pemakaian batu ditaburkan sebanyak 2x dalam setahun atau 3 m³ /km ( 3 meter kubik/km)
    • Penaburan cangkang 4x dalam setahun atau 3m³ /km 
    • Permukaan jalan harus tetap dipertahankan dalam kondisi cembung
    3. Pemeliharaan jalan secara mekanis dengan menggunakan greader 4x dalam 1 tahun Jalan Utama. Main Road

    ALAT DAN BAHAN
    1. Graeder
    2. Parang/egrek
    3. Cangkul/sekop
    4. Batu-batuan
    5. Cangkang
    6. Truk
    7. Road Roller 
    8. dan traktor

    PROSEDUR KERJA
    1. Perawatan jalan mekanis 
    • Material pengerasan yang ada di tepi jalan dikembalikan pada badan jalan
    • Bentuk kembali badan jalan dan dibuat chamber serta tali air yang cukup sekitar 25 atau 50 meter satu tali air ke parit/tepi badan jalan.
    • Road roller melakukan pemadatan di belakang graeder setelah 1 km jalan di grading.
    • Hanya dilakukan grading ringan pada badan jalan yang sudah keras/padat dan pisau tidak menggali terlalu dalam
    • Pada musim kering prioritas pada rendahan. Pada musim hujan tidak diperkenankan grading jalan.
    • Pertahankan bentuk permukaan jalan selalu cembung.
    • Norma 3 HM/Km atau 8 HM/2.5 Km atau sekitar 2.5 km/hari
    2. Perawatan Manual :
    • Lakukan tunas pelepah jalan agar cahaya matahari tembus ke badan jalan, terutama di jalan koleksi. Potong ½ dari panjang pelepah pada 3 lingkaran daun terbawah.
    • Pada kondisi jalan berlobang dirawat manual dengan mengisi batu-batu atau gunakan cangkul untuk menutup lobang dari material sekitar.
    • Buang air yang tergenang di badan jalan melalui tali air ke blok atau parit.
    • Bersihkan jembatan dari tanah-tanah diatas jembatan.
    • Bersihkan kayu-kayu atau rumput yang menghambat aliran air di bawah jembatan/gorong-gorong.
    • Norma : 0.06 Hk/Ha potong pelepah dan 0.06 Hk/Ha untuk manual jalan dan 0.06 Hk/Ha rawat jembatan
    Pengerasan Ulang :
    Sama dengan prosedur pengerasan awal (dalam SOP……….TBM). Namun spesifikasinya dengan ketebalan 5 cm dan lakukan penyisipan pada lokasi yang tidak dikeraskan lagi namun terdapat kerusakan/lobang. Khusus untuk akses road dan key road harus disisip setiap tahun.


    A = DMJ (Daerah Milik Jalan)
    B = Pinggir Jalan
    C = Parit Jalan
    D = Bahu Jalan
    E = Badan Jalan

    PELAPORAN
    Setiap hari mandor/petugas melaporkan hasil kerja kepada asisten mengenai jumlah m3/ton material, jumlah panjang jalan, jenis jalan, lokasi timbun, No BPB. Juga laporan hasil kerja manual seperti: Panjang jalan, Identitas jalan, No blok dan Jumlah Tenaga kerja
    Setiap minggu asisten yang bertanggung jawab harus membuat laporan dan analisa hasil kerja dan pengukuran dari pos masuk, lokasi terima matrial dan catatan dari quari kemudian dilaporkan ke manajer unit.

    Sunday, 5 October 2014

    Desain Kebun Kelapa Sawit

    Perencanaan/rancangan blok kebun adalah untuk merancang Tata Ruang Perkebunan dimana didalamnya ditetapkan lokasi kebun Inti dan lokasi kebun Plasma, wilayah Non-Tanaman seperti lokasi Kompleks Perumahan, lokasi Pabrik dan wilayah Tanaman yang afdeling yang terbagi atas: jaringan jalan, areal pembibitan, saluran air, dan lokasi afdeling dan blok serta wilayah konservasi. 

    Merencanakan tata ruang dalam kebun dan divisi yang terbagi, tahun tanam, material tanaman, blok, pembibitan, jaringan jalan, saluran air, lokasi pabrik, kantor, perumahan, bangunan sosial, sarana olah raga yang digambarkan dalam peta induk (ploting design)
    Tujuan :
    Sebagai pedoman tahapan kegiatan pelaksanaan yang berkesinambungan efektif dan efisien
    1. Pembuatan jalan pada Areal Datar/Darat
    • Membuat desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok
    • Pembuatan jalan menggunakan buldozer minimal tipe D6
    • Pembuatan parit pada satu sisi badan jalan jika dianggap perlu, baik pada MR maupun CR
    • Pembentukan badan jalan dengan motor greader. Jalan yang dibentuk harus cembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar air tidak tertahan di badan jalan
    • Pembuatan tali air pada kiri dan kanan jalan harus dibuat secara berselang-seling (zig-zag). Jumlah tali air ditentukan berdasarkan tingkat kelandaian jalan
    • Pemadatan badan jalan menggunakan road roller/vibrating compactor 6 ton
    2. Pembuatan Jalan pada Areal Gambut/Rawa
    Dibuat sistem tanggulan dengan membuat parit pada satu sisi jalan. Tahap pembuatannya : 
    • Pembuatan desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok
    • Penentuan sisi badan jalan yang akan dibuat parit harus ditetapkan satu arah berdasarkan pertimbangan lokasi rendahan yang dominan agar parit yang terbentuk dapat mengalirkan air dengan lancar
    • Pembuatan jalan dengan cara menggali parit pada satu sisi jalan menggunakan excavator dan tanah hasil galian ditimbunkan pada badan jalan. Setelah timbunan tanah mengering diratakan dengan buldozer dan selanjutnya dilakukan penimbunan dengan tanah mineral. Badan jalan dibentuk dengan motor greader dan harus cembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar air tidak bertahan di badan jalan
    3. Pembuatan Jalan Kontur
    Jalan kontur harus dibangun sebelum pembuatan teras. Hal yang diperhatikan dalam pembuatan jalan kontur
    • Harus memotong teras/kontur
    • Badan jalan dibuat miring ke arah tebing
    • Gradien (kemiringan sudut) pada umumnya harus 1:30 walaupun masih dimungkinkan 1:15 pada jarak pendek dan 1:8 pada lereng yang lebih curam
    STANDARD KEBUN DAN DIVISI
    Tabel Standard penataan kebun dan divisi 
    Uraian
    Kebun Kecil
    Kebun Besar
    Luas (ha)
    Luas 1 afdeling
    Luas 1 blok
    Jumlah afdeling
    Pembukaan areal I
                     II
                     III
                     IV
    Kapasitas pabrik
    ± 5.000 ha
    750-1.000 ha
    16-25 ha
    5-7
    3.000 ha
    2.000 ha


    30 ton TBS/jam
    10.000 ha
    750-1.000 ha
    16-25 ha
    10-14
    3.000 ha
    3.000 ha
    2.000 ha
    2.000 ha
    60 ton TBS/jam (2 tahap)
    Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)

    Tabel Alokasi areal per hektar (%) secara umum untuk kebun besar  
    No
    Peruntukan
    Luas (m2)
    %-tase
    1
    2
    3
    4
    5
    6
    7
    8
    9
    Tanaman Pokok
    Bibitan
    Jaringan jalan
    Parit
    Pabrik dan Limbah
    Kantor
    Perumahan
    Bangunan Sosial
    Sarana olah raga
    9.196
    20
    320
    270
    25
    2
    135
    16
    16
    91,96
    0,20
    3,20
    2,70
    0,25
    0,02
    1,35
    0,16
    0,16
    Jumlah
    10.000
    100,00
                 
    Sumber data : Vademecum Kelapa Sawit PT. PTPN IV (1996)

    DASAR PERENCANAAN PERUNTUKAN PLOT DISAIN
    I. Sistem jaringan jalan
    Jalan adalah sarana penghubung untuk pengangkutan bahan, alat dan produksi serta untuk jalan kontrol, maka jaringan jalan dan mutu jalan di kebun merupakan salah satu faktor keberhasilan pengelolaan. Perencanaan pembuatan jaringan jalan harus selaras dengan desain kebun dan disesuaikan dengan kondisi topografi dan kebutuhan berdasarkan luasan kebun.

    Kebutuhan jalan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada areal datar panjang main road 10,2 m per ha dan collection road 33,6 m per ha. Pembangunan jalan dibuat dengan sistem segi empat beraturan (grid system) mengikuti denah blok yang berukuran 300 m x 1.000 m. Pembangunan jalan di areal berbukit kebutuhannya lebih banyak dan dibuat dengan sistem jalan kontur.

    II. Kantor dan Pemukiman
    Tata letak kantor dan pemukiman harus sesuai dengan luas areal tanaman, jarak kelokasi tanaman (ke afdeling-afdeling), kesehatan lingkungan, sumber air dan jumlah karyawan. Pada umumnya kantor ataupun pemukiman diletakkan pada titik sentral afdeling maupun kebun

    III. Pabrik
    Perencanaan pabrik disesuaikan dengan luas areal tanaman kelapa sawit yang produksinya akan diolah dan letaknya tidak mengganggu kesehatan lingkungan pemukiman
    Letak lokasi pabrik tersebut harus memenuhi syarat tertentu :
    • Letak pabrik diusahakan pada titik sentral
    • Dekat sarana perhubungan baik jalan raya, kereta api yang menghubungkan ke pelabuhan
    • Berdekatan dengan sumber air/sungai yang sepanjang tahun terjamin debit airnya
    • Mempunyai sarana penunjang misalnya bengkel serta tenaga kerja
    • Areal cukup rata/flat area
    IV. Pembibitan
    Bagi perkebunan baru didalam design kebun juga harus dicadangkan areal lokasi pembibitan kelapa sawit.
    Adapun pertimbangan yang dipedomani untuk menentukan lokasi bibitan adalah 
    • Dekat dengan sumber air yang mengalir sepanjang tahun
    • Areal cukup rata
    • Dekat dengan penanaman kelapa sawit
    • Bebas dari banjir
    • Letaknya berdekatan dengan sumber tenaga
    • Perencanaan luas bibitan disesuaikan dengan rencana penanaman
    V. Afdeling dan Blok
    Luas divisi disesuaikan dengan keadaan topografi lahan dan efisiensi pengelolaan areal yang dihubungkan dengan perawatan tanaman dan pemanenan.

    Luas areal satu divisi yang ideal berkisar ± 750 -1.000 ha

    Luas ideal 1 blok adalah 25 ha (500 x 500 m) untuk daerah datar sedangkan untuk daerah bergelombang, atau berbukit adalah 16 ha (400 x 400 m)

    VI. Pembuatan Jalan dan Jembatan/Gorong-gorong, Parit Drainase
    1. Jalan
    a. Pembuatan jalan pada Areal Datar/Darat
    • Membuat desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok
    • Pembuatan jalan menggunakan buldozer minimal tipe D6
    • Pembuatan parit pada satu sisi badan jalan jika dianggap perlu, baik pada MR maupun CR
    • Pembentukan badan jalan dengan motor greader. Jalan yang dibentuk harus cembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar air tidak tertahan di badan jalan
    • Pembuatan tali air pada kiri dan kanan jalan harus dibuat secara berselang-seling (zig-zag). Jumlah tali air ditentukan berdasarkan tingkat kelandaian jalan
    • Pemadatan badan jalan menggunakan road roller/vibrating compactor 6 ton
    b. Pembuatan Jalan pada Areal Gambut/Rawa
    Dibuat sistem tanggulan dengan membuat parit pada satu sisi jalan. Tahap pembuatannya : 
    • Pembuatan desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok
    • Penentuan sisi badan jalan yang akan dibuat parit harus ditetapkan satu arah berdasarkan pertimbangan lokasi rendahan yang dominan agar parit yang terbentuk dapat mengalirkan air dengan lancar
    • Pembuatan jalan dengan cara menggali parit pada satu sisi jalan menggunakan excavator dan tanah hasil galian ditimbunkan pada badan jalan. Setelah timbunan tanah mengering diratakan dengan buldozer dan selanjutnya dilakukan penimbunan dengan tanah mineral. Badan jalan dibentuk dengan motor greader dan harus cembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar air tidak bertahan di badan jalan
    c. Pembuatan Jalan Kontur
    Jalan kontur harus dibangun sebelum pembuatan teras. Hal yang diperhatikan dalam pembuatan jalan kontur 
    • Harus memotong teras/kontur
    • Badan jalan dibuat miring ke arah tebing
    • Gradien (kemiringan sudut) pada umumnya harus 1:30 walaupun masih dimungkinkan 1:15 pada jarak pendek dan 1:8 pada lereng yang lebih curam
    Sistem jaringan jalan di kebun merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menunjang dan menjamin kelancaran pengangkutan terutama bahan-bahan keperluan tanaman, pengumpulan/pengangkutan hasil serta pengontrolan. Perencanaan pembukaan jaringan jalan harus disesuaikan dengan kondisi (topografi) dan kebutuhan di perkebunan

    Tabel Tekanan gandar pada berbagai klas jalan 
    No
    Klas Jalan
    Tekanan gandar tunggal (PO)
    1
    2
    3
    4
    5
    6
    7
    Internasional
    Klas I
    Klas II
    Klas III
    Klas IIIa
    Klas IV
    Klas V
    8            ton
    7            ton
    5            ton
    3,5         ton
    2,75       ton
    2            ton
    1,5         ton
                  Sumber data : Vademecum Kelapa Sawit PT. PTPN IV (1996)
    a. Kelas Areal Lahan untuk Pembuatan Jalan
    Pembuatan jalan pada Areal Datar/Darat
    • Membuat desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok
    • Pembuatan jalan menggunakan buldozer minimal tipe D6
    • Pembuatan parit pada satu sisi badan jalan jika dianggap perlu, baik pada MR maupun CR
    • Pembentukan badan jalan dengan motor greader. Jalan yang dibentuk harus cembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar air tidak tertahan di badan jalan
    • Pembuatan tali air pada kiri dan kanan jalan harus dibuat secara berselang-seling (zig-zag). Jumlah tali air ditentukan berdasarkan tingkat kelandaian jalan
    • Pemadatan badan jalan menggunakan road roller/vibrating compactor 6 ton
    Pembuatan Jalan pada Areal Gambut/Rawa
    Dibuat sistem tanggulan dengan membuat parit pada satu sisi jalan. Tahap pembuatannya :
    • Pembuatan desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok
    • Penentuan sisi badan jalan yang akan dibuat parit harus ditetapkan satu arah berdasarkan pertimbangan lokasi rendahan yang dominan agar parit yang terbentuk dapat mengalirkan air dengan lancar
    • Pembuatan jalan dengan cara menggali parit pada satu sisi jalan menggunakan excavator dan tanah hasil galian ditimbunkan pada badan jalan. Setelah timbunan tanah mengering diratakan dengan buldozer dan selanjutnya dilakukan penimbunan dengan tanah mineral. Badan jalan dibentuk dengan motor greader dan harus cembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar air tidak bertahan di badan jalan
    Pembuatan Jalan Kontur
    Jalan kontur harus dibangun sebelum pembuatan teras. Hal yang diperhatikan dalam pembuatan jalan kontur 
    • Harus memotong teras/kontur
    • Badan jalan dibuat miring ke arah tebing
    • Gradien (kemiringan sudut) pada umumnya harus 1:30 walaupun masih dimungkinkan 1:15 pada jarak pendek dan 1:8 pada lereng yang lebih curam
    b. Tahap Pembuatan Jalan
    • Penentuan posisi/letak jalan yang akan dibuat melalui survei
    • Pemancangan jalan ditentukan dengan theodolite. Posisi pancang diletakkan di bagian tepi jalan sebelah luar dinding bukit
    • Pembuatan jalan dengan buldozer dimulai dari bawah mengarah ke atas. Pancang yang sudah dibuat tidak boleh tumbang untuk kontrol bahwa jalan telah disesuaikan dengan desain
    c. Penimbunan dan Pengerasan Jalan
    Waktu Pelaksanaan
    • Perencanaan penimbunan/pengerasan jalan disesuaikan dengan kebutuhan kebun dengan memperhatikan iklim setempat sehingga pekerjaan dapat dilakukan bukan pada musim hujan
    • Pengajuan rencana anggaran pekerjaan (RAP) dari kebun ke CEO harus sudah selesai pada bulan Desember tahun sebelum berjalan. Data RAP yang harus dipersiapkan terdiri atas peta jalan yang akan ditimbun/dikeraskan, disertai data panjang, lebar, tebal penimbunan (MR, CR, dll) serta volume material yang akan digunakan
    Sarana Pekerjaan
    • Peralatan & sarana kerja yang diperlukan telah dipersiapkan dalam kondisi baik
    • Jenis sarana pekerjaan : grader, excavator, buldozer, mining bucket, wheel loader, dump truk, roller/vibrating compactor 6 ton dan lainnya
    • Bila pakai kontraktor, harus disiapkan oleh kontraktor sesuai spesifikasi pekerjaan
    Pengadaan Bahan
    • Bahan yang dipakai harus diutamakan yang tersedia di lokasi kebun dan sekitarnya dengan mempertimbangkan jarak sumber bahan (quari) dengan lokasi penimbunan/pengerasan jalan.
    • Quari harus disurvey untuk menentukan kualitas dan kecukupan bahan.
    d. Jenis jalan perkebunan berdasar keperluan & fungsi :
    Jalan Utama (Main Road)
    • Adalah jalan yang menghubungkan antara kantor kebun dengan afdeling, antar afdeling dan jalan akses keluar dari emplasmen ke luar kebun 
    • Waktu Pembentukan jalan dan peningkatan badan jalan (dikeraskan) pada TBM
    • Apabila Lebar jalan adalah 8 m, dengan rincian 5 meter badan jalan, serta 1 x 2 m bahu jalan dan 0,5 x 2 adalah parit jalan 
    • Apabila Bentuk Lebar jalan = 16 m; Pinggir jalan = 2 m; Parit jalan = 1x0,6x0,5 m (tergantung kebutuhan); Bahu jalan = 2 m; Badan jalan ± 6 m
    • Dalam pembuatan jalan Utama, tidak ada barisan tanaman yang hilang.
    • Pembuatan jalan dilaksanakan secara mekanis dengan permukaan jalan cembung serta kiri kana dibuat parit.
    • Konstruksi Badan jalan dikeraskan dengan sirtu/batu belah 5/7, tebal 7 cm. Pelaksanaan pengerasan TBM I = 40%, TBM II = 40%, TBM III = 20%
    Tabel Alat, Bahan dan Norma 
    No
    Uraian
    Norma
    Angka
    Satuan
    1
    Manual
    Pembuatan Parit
    Pembuatan Jalan

    10
    5

    m/HK
    m/HK
    2
    Mekanis
    Buldozer dan Pengerasan
    Tanpa Pengerasan
    Road Greader dgn Pengerasan
    Tanpa Pengerasan

    50
    100
    50
    100

    m/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    3
    Bahan
    Batu kali
    Batu Belah 5/7

    0,440
    0,462

    M3/M Jln
    M3/M Jln
    4
    Wales
    1 x digilas /7jam
    2 x digilas

    300
    150

    M
    M

    Catatan :
    Bila jalan berada di pinggir tebing/jurang, parit hanya dibuat sebelah dalam/dinding jalan, sedangkan pada pinggir jurang dibuat benteng. Pada areal yang bergelombang/berbukit jalan utama lebih panjang serta sistem konstruksinya berbeda dengan daerah datar/berombak
    Jalan Transport
    • Letak Berada di dalam areal tanaman atau jalan yang menghubungkan areal tanaman ke jalan utama
    • Waktu Pembentukan jalan tahun 0 peningkatan badan jalan pada TBM
    • Fungsi Jalan yang menghubungkan antara main road (jalan utama) dengan collection road (jalan produksi) untuk transport produksi dari lapangan ke pabrik, Untuk pengangkutan alat/bahan dari gudang induk ke lapangan areal tanaman, Memudahkan kontrol
    • Konstruksi Badan jalan dikeraskan dengan sirtu/batu belah 5/7, tebal 7 cm Pelaksanaan pengerasan TBM I = 40%, TBM II = 40%, TBM III = 20%. 
    • Bentuk Permukaan badan jalan cembung, kemiringan 2,5-4%. Lebar jalan 8 m; pinggir jalan 0,90 m; parit jalan 0,6x0,4x0,5 m (tergantung kebutuhan); bahu jalan 0,50 m ; badan jalan 4 m
    Tabel Alat, Bahan dan Norma

    No
    Uraian
    Norma
    Angka
    Satuan
    1
    Manual
    Pembuatan Parit
    Pembuatan Jalan

    10
    5

    m/HK
    m/HK
    2
    Mekanis
    Buldozer dan Pengerasan
    Tanpa Pengerasan
    Road Greader dgn Pengerasan
    Tanpa Pengerasan

    50
    100
    50
    100

    m/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    3
    Bahan
    Batu kali
    Batu Belah 5/7

    0,11
    3,31

    M3/M Jln
    M3/M Jln
    4
    Wales
    1 x digilas /7jam
    2 x digilas

    300
    150

    M
    M

    Proyeksi naik turun pembuatan jalan harus dilakukan dengan baik jangan terus menaik secara curam, karena akan mempertinggi biaya angkutan
    Jangan dibuat dengan penggalian tanah asli, jangan sekali-kali membuat jalan menggunakan tanah timbunan karena akan menjadi becek dan longsor

    Jalan Produksi (Collection Road)
    • Letak Merupakan jalan yang terletak dalam blok tanaman dan berfungsi sebagai tempat pengumpul hasil/produksi yang dihasilkan dari tanaman di blok 
    • Waktu Pembentukan jalan pada tahun 0, dan Pengerasan jalan pada masa TBM
    • Fungsi Transportasi alat/bahan dari jalan produksi ke areal/ tanaman yang terisolir dan Transportasi hasil produksi (TBS) dari TPH ke jalan produksi menuju ke jalan utama/pabrik serta Mempermudah kontrol lapangan
    • Konstruksi Badan jalan dikeraskan dengan sirtu/batu belah 5/7, tebal 7 cm, sedangkan Pelaksanaan pengerasan TBM I 40%, TBM II 40% dan TBM III 20%
    • Bentuk Permukaan badan jalan cembung, kemiringan 2,5-4 % dengan Lebar jalan 8 m; pinggir jalan 0,90 m; parit jalan 0,6x0,4x0,3 m (tergantung kebutuhan); bahu jalan 0,50 m; badan jalan 4-5 m
    Tabel Alat, Bahan dan Norma

    No
    Uraian
    Norma
    Angka
    Satuan
    1
    Manual
    Pembuatan Parit
    Pembuatan Jalan

    10
    5

    m/HK
    m/HK
    2
    Mekanis
    Buldozer dan Pengerasan
    Tanpa Pengerasan
    Road Greader dgn Pengerasan
    Tanpa Pengerasan

    50
    100
    50
    150

    m/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    3
    Bahan
    Batu Bujang
    Batu Belah 5/7

    0,1
    0,31

    M3/M Jln
    M3/M Jln
    4
    Wales
    1 x digilas /7jam
    2 x digilas

    300
    150

    M
    M

    Jalan Blok
    • Letak Berada dalam areal sebagai batas dari blok ke blok yang lain
    • Waktu Pembentukan jalan dan pemadatan pada tahun 0
    • Fungsi Merupakan batas blok yang satu dengan lainnya juga Merupakan pembantu jalan distribusi bahan/alat maupun transportasi produksi serta Mempermudah kontrol lapangan
    • Konstruksi Tanah pada badan jalan dipadatkan
    • Bentuk Cembung, kemiringan 2,5-4% dengan Lebar jalan 8 m; pinggir jalan 0,90 m, parit jalan 0,6x0,4x0,3 m tergantung kebutuhan;bahu jalan 0,50 m; badan jalan 4 m
    Tabel Alat, Bahan dan Norma
    No
    Uraian
    Norma
    Angka
    Satuan
    1
    Manual
    Pembuatan Parit
    Pembuatan Jalan

    10
    5

    m/HK
    m/HK
    2
    Mekanis
    Buldozer dan Pengerasan
    Tanpa Pengerasan
    Road Greader dgn Pengerasan
    Tanpa Pengerasan

    50
    100
    50
    100

    m/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    M/JKT
    3
    Bahan
    Batu Bujang
    Batu Belah 5/7

    0,1
    0,25

    M3/M Jln
    M3/M Jln

    Jalan Kontrol
    • Letak Berada dalam areal tanaman (dalam blok) Arah silang U-S dan T-B
    • Waktu Pembentukan pada saat TBM I semester I
    • Fungsi Jalan masuk ke areal bagi pekerja dan juga Sebagai jalan/ ke dalam areal tanaman serta Mempermudah inventarisasi kondisi, luas areal dan jumlah tanaman yang berada dalam blok, Mempermudah kontrol lapangan langsung sampai ke dalam areal tanaman
    • Konstruksi Lebar jalan 2 meter dengan cara Konstruksi dicangkul/diratakan Kondisi harus terjaga/tetap bersih
    Tabel Alat, Bahan dan Norma 
    No
    Uraian
    Norma
    Angka
    Satuan
    1
    Manual
    Pembuatan Parit

    50

    m/HK
    2
    Kimia
    Tenaga
    Glyphosate

    0,2
    0,225

    HK/Ha
    Ltr/Ha

    2. Jembatan dan Gorong-gorong
    • Pembuatan jalan diusahakan melalui bagian sungai yang tersempit agar kalau harus dibuat jembatan cukup yang kecil saja
    • Sungai kecil dan dangkal cukup dengan gorong-gorong (bus air)
    • Untuk 1 tempat gorong-gorong 7 bh, batu 1-2 m3; tenaga 6-10 HK
    • Ukuran gorong-gorong besar : panjang 1 m, diameter 1 m kecil : panjang 1 m, diameter 0,6 m
    • Timbunan minimum setebal diameter gorong-gorong, misalnya gorong-gorong dengan ukuran 60 cm ditimbun dengan tanah minimal 60 cm
    • Jalan dan tanah diatas gorong-gorong harus waterpass
    Jenis-jenis jembatan menurut bahannya :
    a. Jembatan timbun; jembatan dengan pondasi tanah dan lantai kayu yang ditimbun tanah. 
    • Ukuran pondasi (pengerukan tanah) minimum adalah : Lebar 2 m, panjang 6 m, dalam 1,5 m.
    • Permukaan pondasi datar dan rata yang dilandasi dengan susunan kayu bulat.
    • Gelagar dari jenis kayu keras dan kuat berbentuk bulat (gelondongan), dengan spesifikasi minimum adalah : dia. 50 cm dan panjangnya ditambah 4 m dari jarak pondasi.
    • Gelagar disusun rapat tanpa ada celah, kemudian ditimbun tanah dengan ketebalan minimum 50 cm.
    b. Jembatan kayu; jembatan dengan pondasi tanah dan lantai kayu.
    • Ukuran pondasi (pengerukan tanah) minimum adalah : Lebar 2 m, panjang 6 m, dalam 1 m.
    • Permukaan pondasi datar dan rata yang dilandasi dengan susunan kayu bulat.
    • Gelagar dari jenis kayu keras dan kuat berbentuk bulat (gelondongan).
    • Jumlah kayu gelagar minimum 6 batang dengan susunan yaitu : 1 batang disusun di kiri dan kanan, 4 batang sisanya disusun secara berpasangan ditengah.
    • Papan lantai dipasang melintang dengan interval 5 cm.
    • Di atas lantai dipasang 2 set papan rel (lebar 75 cm) dengan jarak 75 cm.
    • Papan lantai dan rel dari jenis kayu keras dan kuat.
    c. Jembatan semi permanen; jembatan dengan pondasi beton bertulang dan lantai kayu.
    • Pondasi dibuat di atas lapisan batu atau tanah keras.
    • Ukuran pondasi beton adalah : Panjang 5 m – 6 m, lebar atas 1 m, lebar bawah minimum 1,5 m, lebar batu 50 cm, sedang tinggi tergantung situasi setempat.
    • Ukuran sayap pondasi adalah : Panjang minimum 2 m, tinggi sama dengan pondasi, dan lebar 50 cm – 75 cm.
    • Permukaan pondasi datar dan rata.
    • Gelagar dari jenis kayu keras dan kuat berbentuk persegi.
    • Jumlah kayu gelagar minimum 6 batang dengan susunan yaitu : 1 batang disusun di kiri dan kanan, 4 batang sisanya disusun secara berpasangan ditengah.
    • Papan lantai dipasang melintang dengan interval 5 cm.
    • Di atas lantai dipasang 2 set papan rel (lebar 75 cm) dengan jarak 75 cm.
    • Papan lantai dan rel dari jenis kayu keras dan kuat.
    • Ukuran loneng adalah : Tinggi 75 cm, lebar 30 cm, dan panjang 1 m.
    d. Jembatan permanen; jembatan dengan pondasi dan lantai dari beton bertulang (pasangan batu atau cor.
    Jembatan Permanen
    • Pondasi dibuat di atas lapisan batu atau tanah keras.
    • Ukuran pondasi beton adalah : Panjang 5 m – 6 m, lebar atas 1 m, lebar bawah minimum 1,5 m, lebar batu 50 cm, sedang tinggi tergantung situasi setempat.
    • Ukuran sayap pondasi adalah : Panjang minimum 2 m, tinggi sama dengan pondasi, dan lebar 50 cm – 75 cm.
    • Permukaan pondasi datar dan rata.
    • Bahu pondasi dari beton cor bertulang, dengan ketebalan 50 cm.
    • Gelagar dari besi H atau beton bertulang, minimal sebanyak 6 batang dengan interval sama.
    • Ujung gelagar dikunci kepondasi dengan baut.
    • Lantai dicor bertulang dengan lebar bahu (kiri dan kanan) 50 cm, lebar bersih 4 m – 5 m dan tebal coran 20 cm.
    • Ukuran loneng adalah : Tinggi 75 cm, lebar 30 cm, dan panjang 1 m.
    PROSEDUR KERJA 
    a. Pembuatan Pondasi Tanah
    • Kedua sisi tebing dikeruk dengan excavator sesuai dengan ukuran yang ditentukan.
    • Permukaan pondasi didatarkan dan diratakan dengan excavator.
    • Pada bagian dalam pondasi disusun 2 – 3 batang kayu bulat dia 50 cm sepanjang 6 m sebagai landasan, lalu diikat dengan kawat beton dia 6 mm.
    b. Pembuatan Pondasi Beton
    • Pada posisi dimana pondasi akan dibangun, digali tanahnya dengan excavator sampai ketemu lapisan batu atau lapisan tanah keras.
    • Pada kedua bagian ujungnya, tebing sungai dikeruk dengan excavator secara menyorong sejauh 2 m dengan lebar 50 cm.
    • Di atas dasar galian tanah, dibangun pasangan batu pondasi dan sayap pondasi secara bertahap selapis demi selapis, dimana antara pondasi dan sayap pondasi harus dipasang secara serentak sehingga pasangan batunya kompak dan menyatu.
    • Pada bagian atas, bahu pondasi dibuat dari beton cor bertulang selebar 45 cm dan tebal 50 cm dimana pengecoran dilakukan beramaan dan tidak boleh berhenti sampai pengecoran selesai dilaksanakan.
    c. Pemasangan Lantai Tanah (Jembatan Timbun)
    • Kayu gelagar bulat disusun rapat membentang diantara kedua pondasi, dimana kedua ujung gelagar diletakan di atas kayu landasan pada kedua pondasi dengan menggunakan excavator.
    • Diantara kedua tepi pondasi diletakan masing-masing sebatang kayu gelagar lagi yang berfungsi untuk menahan tanah timbunan agar tidak longsor.
    • Disela-sela kayu gelagar diletakan kayu bulat kecil untuk menutup celah diantar kayu gelagar.
    • Di atas kayu gelagar tadi ditutupi plastik tebal yang berfungsi untuk mencegah timbunan tanah agar tidak lolos ke bawah.
    • Di atas lapisan plastik ditimbun tanah dengan ketebalan minimum 50 cm. Tanah yang digunakan adalah tanah dengan kandungan pasir yang rendah agar tidak mudah hanyut sewaktu hujan.
    d. Pemasangan Lantai Kayu (Jembatan Semi Permanen)
    Semi permanen
    • Gelagar besi H atau gelagar beton sebanyak 6 – 8 batang disusun dengan interval sama membentang diantara kedua pondasi dengan bantuan excavator.
    • Kedua ujung gelagar dikunci kepondasi dengan baut atau semen.
    • Celah diantara gelagar ditutup dengan papan yang disangga dengan tiang-tiang, lalu di atasnya ditutup dengan palstik agar adukan semen nantinya tidak bocor.
    • Di atas gelagar dan papan yang sudah ditutup dengan plastik diletakan kerangka besi beton dengan ketebalan 15 cm.
    • Di atas gelagar yang sudah diberi kerangka besi dituang adukan semen, pasir dan kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3 setebal 20 cm. Pengecoran harus diselesaikan sekali jadi dan tidak boleh berhenti sampai semuanya selesai.
    • Pada kedua sisi pondasi dipasang loneng beton (dari pasangan batu) dengan tinggi 75 cm, tebal 30 cm dan panjang 1 m. Diantara kedua loneng di sebelah kiri - kanan jembatan dipasang pipa besi dia 2,5 inci sebanyak 2 – 3 batang.
    • Loneng dan bagian luar pondasi diaci dan diplester dengan rapi.
    • Bagian dalam pondasi ditimbun dengan tanah sampai rata dengan permukaan jalan.
    e. Pemasangan Lantai Beton (Jembatan Permanen)
    • Gelagar besi H atau gelagar beton sebanyak 6 – 8 batang disusun dengan interval sama membentang diantara kedua pondasi dengan bantuan excavator.
    • Kedua ujung gelagar dikunci kepondasi dengan baut atau semen.
    • Celah diantara gelagar ditutup dengan papan yang disangga dengan tiang-tiang, lalu di atasnya ditutup dengan palstik agar adukan semen nantinya tidak bocor.
    • Di atas gelagar dan papan yang sudah ditutup dengan plastik diletakan kerangka besi beton dengan ketebalan 15 cm.
    • Di atas gelagar yang sudah diberi kerangka besi dituang adukan semen, pasir dan kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3 setebal 20 cm. Pengecoran harus diselesaikan sekali jadi dan tidak boleh berhenti sampai semuanya selesai.
    • Pada kedua sisi masing-masing pondasi dipasang loneng beton (dari pasangan batu) dengan tinggi 75 cm, tebal 30 cm dan panjang 1 m. Diantara kedua loneng di sebelah kiri dan kanan jembatan dipasang pipa besi dia 2,5 inci sebanyak 2 – 3 batang.
    • Loneng dan bagian luar pondasi diaci dan diplester dengan rapi.
    • Bagian dalam pondasi ditimbun dengan tanah sampai rata dengan permukaan jalan
    Tabel Panjang Jembatan & Diameter Gelagar Kayu 

    No.

    Panjang Jembatan
    (m)
    Diameter
    Gelagar Kayu Bulat
    (cm)
    Ukuran
    Gelagar Kayu Persegi
    (cm)

    1.
    2.
    3.

    < 3,0
    3,0 – 4,5 m
    4,5 – 6,0 m

    40
    50
    60

    25 x 20
    30 x 25
    40 x 30

    Tabel Panjang Jembatan & Diameter Gelagar Jembatan Semi Permanen dan Jembatan Permanen
    No.
    Panjang Jembatan
    (m)
    Ukuran
    Gelagar Besi (cm)
    Ukuran
    Gelagar Beton (cm)

    1.
    2.
    3.
    4.

    < 3,0
    3,0 – 4,5 m
    4,5 – 6,0 m
    > 6 m

    22,5 x 9,5
    25,0x 12,5
    30,0 x 15,0
    40,0 x 20,0

    25 x 20
    30 x 25
    40 x 30
    50 x 30

    3. Parit Drainase
    Kebutuhan drainase bergantung pada topografi dan jenis tanah. Daerah yang bergelombang memerlukan sedikit drainase, sedangkan daerah rendahan dan daerah bertekstur liat dekat sungai membutuhkan drainase yang lebih banyak.
    Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan drainase adalah menentukan lokasi outlet dari areal dan meluruskan parit alam sehingga aliran air akan mengikuti kemiringan areal. Dalam membuat perencanaan sistem drainase, harus dipertimbangkan agar areal gambut tidak mengalami overdrain yang dapat mengakibatkan lapisan gambut menyusut dengan cepat dan lapisan atas mengalami pengeringan yang berlebihan yang tidak dapat dikembalikan (irreversible).
    Pada areal dengan lapisan pyrit, harus diketahui kedalamannya supaya senantiasa berada dibawah level air yang perlu dipertahankan yakni 60 - 70 Cm di bawah permukaan tanah untuk menghindari pyrit teroxidasi menjadi sulfat masam dan meningkatkan kemasaman tanah. Untuk kedua areal, sistem drainase dan water management (pengelolaan air) adalah prioritas utama, bila melakukan usaha kebun kelapa sawit di antara areal tersebut.
    Tabel Jenis Jenis Parit
    No
    Jenis Parit
    Keterangan
    Ukuran
    1
    Otlet Drain
    Parit yang mengumpulkan air dari main drain dan mengalirkannya ke sungai
    6 x 6 x 4
    2
    Main Drain
    Parit yang mengumpulkan air dari collection drain dibuat disepanjang MR
    4 x 4 x 3
    3
    Colection Drain
    Parit yang mengumpulkan air dari field drain dibuat di sepanjang CR
    3 x 3 x 2
    4
    Field Drain
    Parit yang mengalirkan air dari dalam blok ke colletion drain
    1 x 1 x 0,5
    5
    Foothil Drain
    dibuat pada lahan yang berbukit, dan dibuat mengelilingi kaki bukit jika memungkinkan, hal ini berguna untuk mencegah air hujan dari bukit meresap terlalu lama/lambat di tanah pada lahan yang lebih rendah yang menuju collection drain
    6
    Ring Drain
    Parit yang dibuat untuk mengalirkan air  sejajar dengan benteng sebagai pencegah banjir, yang mana tanahnya telah digunakan untuk membuat bund (benteng).

    Tabel Ukuran Parit Drainase

    Jenis Parit
    Lebar Atas
    (m)
    Lebar Dasar
    (m)
    Kedalaman
    (m)
    Standard Pembuatan
    Manual
    Mekanis
    Primer
    3,5-5,0
    2,0-3,0
    1,5-2,0
    2-2,5 m/HK
    20-40 m/JKT
    Sekunder
    2,2-2,7
    1,0-1,2
    1,2-1,5
    3-4 m/HK
    40-60 m/JKT
    Tersier
    1,3-1,7
    0,5-0,7
    0,8-1,0
    4-6 m/HK
    60-70 m/JKT
    Kuarter
    0,8-1,0
    0,3-0,4
    0,5-0,6
    8-10 m/HK
    80-100 m/JKT

    Cara membuat parit
    • Membuat pancang dari hulu ke hilir
    • Manual : tanah digali dengan cangkul atau sekop
    • Mekanis : dengan excavator
    • Arah penggalian dari hilir ke hulu
    • Tanah galian dibuang ke kiri dan kanan parit untuk kaki lima
    • Tempat pertemuan parit/Junction harus membelok ke arah aliran air
    4. Polongan (Gorong-Gorong)
    Polongan (gorong-gorong) adalah bangunan berbentuk bulat atau persegi yang ditengahnya bolong dengan dinding rata, yang disusun atau diletakan atau dipasang di dalam parit yang lebarnya kurang dari 2,5 m. Polongan berfungsi untuk menghubungkan jalan yang terputus oleh parit.

    Jenis polongan (gorong-gorong) menurut bahannya :
    • Polongan kayu; Polongan yang dibuat dari kayu bulat (glondongan) yang di tengahnya bolong.
    • Polongan baja; Polongan yang dibuat dari pipa logam dan tidak bersambung.
    • Polongan beton bulat; Polongan yang dibuat dari beton bertulang berbentuk cincin dan bersambung.
    • Polongan beton bersegi; Polongan yang dibuat dari beton bertulang berbentuk persegi dan tidak bersambung.
    a. Norma Teknis 
    Polongan Kayu dan Polongan Baja
    • Polongan harus lebih panjang 3 m dari lebar jalan yang akan dibuat polongan.
    • Dasar lobang polongan rata dengan dasar parit.
    • Tebal tanah timbunan minimum 50 cm dari atas polongan.
    • Tanah timbunan harus padat dan rata atau sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan.
    • Pada kedua sisi jalan dipasang penahan tanah.
    Polongan Beton Bulat
    • Lebar parit yang akan diberi polongan beton bulat maksimal 1,5 m
    • Galian harus lurus, berpenampang trapesium, lebar dasar sama dengan diameter polongan, dan dasar galian harus rata dengan dasar parit.
    • Polongan harus disusun lurus dan rapat, sambungannya harus disemen.
    • Susunan polongan lebih panjang 2 m dari lebar jalan yang akan dibuat polongan.
    • Pada kedua ujung polongan dipasang loneng dan sayap beton setinggi minimum 0,2 m lebih tinggi dari permukaan jalan.
    • Tebal timbunan minimal sama dengan diameter polongan.
    • Timbunan dasar sampai 15 cm di atas polngan terdiri dari campuran tanah liat dank oral.
    • Timbunan harus padat dan rata atau sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan.
    Polongan Beton Persegi (Box Culvert)
    • Lebar parit yang akan diberi polongan beton persegi antara 1,5 m – 2,5 m
    • Dinding dan tutup polongan dibuat dari beton bertulang tebal 20 cm.
    • Dinding polongan harus dibuat di atas lapisan batu di dasar parit.
    • Lebar polongan disesuaikan dengan lebar parit, tinggi polongan 50 cm di bawah permukaan jalan.
    • Panjang polongan dilebihkan 2 m dari lebar jalan.
    • Pada kedua ujung polongan dipasang loneng dan sayap beton setinggi minimal 20 cm lebih tinggi dari permukaan jalan, panjang sayap minimal 2 m dan masuk ketebing parit.
    • Timbunan tanah minimal setebal 50 cm, harus padat dan rata atau sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan.
    b. Prosedur Kerja 
    Pasang Polongan Kayu 
    • Digali dan dibersihkan parit memotong jalan dengan bentuk rata dan lurus serta lebarnya sama dengan diameter polongan kayu yang akan dipasang.
    • Polongan kayu diletakan di dalam parit yang telah digali.
    • Pada kedua ujung polongan disisi kiri – kanan serta di atas polongan dipasang penahan timbunan tanah dari susunan karung yang berisi pasir sampai setinggi 0,5 m dari atas polongan.
    • Selanjutnya dilakukan penimbunan dengan tanah kering. Penimbunan dilakukan selapis demi selapis yang setiap lapisnya langsung dipadatkan sampai mencapai tebal timbunan minimum 50 cm dari atas polongan atau sampai rata dengan permukaan jalan.
    Pasang Polongan Baja
    • Digali dan dibersihkan parit memotong jalan dengan bentuk rata dan lurus serta lebarnya sama dengan diameter polongan baja yang akan dipasang.
    • Polongan baja dengan panjang lebih 3 m dari pada lebar jalan diletakan di dalam parit yang telah digali.
    • Pada kedua ujung polongan disisi kiri – kanan serta di atas polongan dipasang penahan timbunan tanah dari susunan karung yang berisi pasir sampai setinggi 50 cm dari atas polongan.
    • Selanjutnya dilakukan penimbunan dengan tanah kering. Penimbunan dilakukan selapis demi selapis yang setiap lapisnya langsung dipadatkan sampai mencapai tebal timbunan minimum 50 cm dari atas polongan atau sampai rata dengan permukaan jalan. Bila tanah timbunan lebih tinggi dari permukaan jalan, maka + 5 m di kiri dan kanannya juga ditimbun secara melandai.
    Pasang Polongan Beton Bulat
    • Digali dan dibentuk parit berpenampang trapesium dengan lebar dasar sama dengan lebar polongan yang akan dipasang dan dasarnya rata dengan dasar parit.
    • Dasar parit diluruskan dan diratakan, lalu dialas dengan 2 batang kayu ukuran 8 x 25 x 600 cm dengan jarak 25 cm sebagai landasan.
    • Di atas kayu landasan diletakan dan disusun 6 – 8 buah polongan beton bulat dengan rapat dan lurus.
    • Sambungan polongan diberi adukan semen secukupnya.
    • Pada kedua ujung polongan dibuat loneng dan sayap beton berupa pasangan batu, dimana tinggi loneng dan sayap 20 cm di atas permukaan jalan dan lebar sayap minimum 2 m masuk kedalam tebing parit.
    • Pada bagian samping dan bawah polongan ditimbun sampai padat dengan campuran koral dan tanah liat, demikian juga pada bagian atas polongan sampai setinggi 15 cm dari polongan.
    • Penimbunan dilanjutkan dengan tanah kering biasa selapis demi selapis yang langsung dipadatkan setiap lapisnya sampai timbunan rata dengan permukaan jalan atau minimum tebal timbunan sama dengan diameter polongan.
    • Apabila tanah timbunan lebih tinggi dari permukaan jalan, maka + 5 m di kiri dan kanannya juga ditimbun secara melandai.
    Pasang Polongan Beton Persegi
    • Tebing parit diratakan sehingga tegak lurus, dan pada kedua tepi parit digali dasar paritnya sedalam mungkin sampai kelapisan batu dengan lebar 25 cm dan panjang 6 m. Selanjutnya juga digali dasar untuk sayap dinding sepanjang minimal 2 m dan masuk secara menyorong kedinding parit.
    • Dibuat kerangka besi beton untuk tulang dinding dan sayap polongan, lalu dipasang papan mal dinding dan sayap pada kedua tepi parit, selanjutnya kedalam mal dimasukan kerangka besi beton, dan terakhir dilakukan pengecoran dinding dan sayap polongan dengan campuran semen + pasir + kerikil dengan rasio 1 : 2 : 3. Tinggi dinding dibuat 1 m di atas dasar parit dengan ketebalan 20 cm. Pada tahap awal ini sayap juga dicor tetapi hanya setinggi 1 m dari dasar sungai dengan ketebalan 20 cm, namun tulangnya dibuat 1,70 m.
    • Dibuat kerangka besi beton untuk tulang tutup polongan, lalu dipasang papan mal dan penyangganya diantara kedua belah dinding. Selanjutnya di atas mal ini diletakan kerangka besi beton dan terakhir dilakukan pengecoran dengan adukan semen + pasir + kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3. Ketebalan tutup polongan 20 cm, panjangnya tergantung lebar jalan ditambah 2 m, dan lebarnya tergantung lebar parit (maksimal 2,5 m). Kerangka besi beton dinding harus diikat dan disambungkan dengan kerangka besi tutup polongan.
    • Dibuat kerangka besi beton untuk tulang loneng, lalu dirangkai dan diikat dengan kerangka besi beton tutup dan sayap polongan, selanjutnya dipasang papan mal untuk loneng dan sayap bagian atas, dan terakhir dilakukan pengecoran loneng dan kelanjutan sayap polongan dengan adukan semen + pasir + kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3. Ketebalan loneng dan sayap 20 cm, tinggi loneng 70 cm di atas tutup polongan dan sama tinggi dengan sayap.
    • Setelah 2 minggu kemudian, semua mal dibuka lalu polongan ditimbun selapis demi selapis dengan tanah kering, dimana setiap lapisan timbunan langsung dipadatkan sampai tebal timbunan 50 cm atau sama rata dengan jalan. Jika terpaksa tinggi tanah timbunan lebih tinggi dari permukaan jalan (untuk mendapatkan ketebalan minimum 50 cm), maka + 5 m di kiri dan kanan jalan juga dilakukan penimbunan tambahan secara melandai.
    • Bahan mal dari kayu kasau (5 x 7 x 400 cm) dan papan ( 2 x 25 x 400 cm), sedangkan besi beton yang digunakan dia. 12 mm.