Create Your ad Here

Showing posts with label PnD TM. Show all posts
Showing posts with label PnD TM. Show all posts

Monday, 15 September 2014

Penyakit Pada Tanaman Kelapa Sawit, Pencegahan dan Pengendaliannya

Tanaman dikatakan sakit bila ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologis sehari-hari. Secara singkat penyakit tanaman adalah penyimpangan dari keadaan normal” (Pracaya, 2003: 320). Suatu tanaman dapat dikatakan sehat atau normal jika tanaman tersebut dapat menjalankan fungsi-fungsi fisiologis dengan baik, sepertipembelahan dan perkembangan sel, pengisapan air dan zat hara, fotosintesis dan lain-lain. Gangguan pada proses fisiologis atau fungsi-fungsi tanaman dapat menimbulkan penyakit..
Selain hama, penyakit juga menimbulkan masalah pada pertanaman kelapa sawit. Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh infeksi cendawan Ganoderma boninense merupakan penyakit penting yang menyerang kebun-kebun kelapa sawit. Cendawan G. boninense merupakan patogen tular tanah yang merupakan parasitik fakultatif dengan kisaran inang yang luas dan mempunyai kemampuan saprofitik yang tinggi.

1. PENYAKIT BUSUK PANGKAL (disebabkan Jamur GENODERMA)
Ganoderma boninense adalah kelompok cendawan busuk putih (white rot fungi), cendawan ini bersifat lignolitik (Susanto 2002; Paterson 2007). Oleh sebab itu, cendawan ini mempunyai aktivitas yang lebih tinggi dalam mendegradasi lignin dibandingkan kelompok lain. Komponen penyusun dinding sel tanaman adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Cendawan G. boninense memperoleh energi utama dari selulosa, setelah lignin berhasil didegradasi, selain itu karbohidrat seperti zat pati dan pektin, diperoleh meskipun dalam jumlah kecil (Paterson 2007).
PENYAKIT BUSUK PANGKAL (disebabkan Jamur GENODERMA)

Pada tanaman yang terserang, belum tentu ditemukan tubuh buah Ganoderma boninense pada bagian pangkal batang, namun kita dapat pengidentifikasi serangan lewat daun tombak yang tidak terbuka sebanyak ± 3 daun. Basidiokarp yang dibentuk awalnya berukuran kecil, bulat, berwarna putih, dengan pertumbuhan yang cepat hingga membentuk basidiokarp dewasa yang memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang variatif. Umumnya basidiokarp berkembang sedikit di atas dan mengelilingi bagian pangkal batang yang sakit. Ukuran basidiokarp yang bertambah besar menunjukkan perkembangan penyakit semakin lanjut dan akhirnya menyebabkan kematian pada tanaman (Ariffin et al. 2000).

Pada tanaman muda gejala eksternal ditandai dengan menguningnya sebagian besar daun atau pola belang di beberapa bagian daun yang diikuti klorotik. Daun kuncup yang belum membuka ukurannya lebih kecil daripada daun normal dan mengalami nekrotik pada bagian ujungnya. Selain itu tanaman yang terserang juga kelihatan lebih pucat dari tanaman lain yang ada disekitarnya (Ariffin et al. 2000; Sinaga et al. 2003; Yanti & Susanto 2004), pertumbuhannya terhambat dan memiliki daun pedang (spear leaves) yang tidak membuka. Gejala pada tingkat serangan lanjut adalah selain adanya daun tombak yang tidak terbuka yaitu adanya nekrosis pada daun tua dimulai dari bagian bawah. Daun-daun tua yang mengalami nekrosis selanjutnya patah dan tetap menggantung pada pohon. Pada akhirnya tanaman akan mati dan tumbang. Gejala yang tampak pada daun menandakan bahwa penampang pangkal batang telah mengalami pembusukan

sebesar 50% atau lebih. Gejala yang khas sebelum tubuh buah terbentuk adalah terjadi pembusukan pada pangkal batang. Pada jaringan batang yang busuk, lesio tampak sebagai daerah berwarna coklat muda disertai adanya daerah berwarna gelap berbentuk pita tidak beraturan (Ariffin et al. 2000; Susanto 2002). Serangan lebih lanjut dapat mengakibatkan tanaman kelapa sawit tumbang, karena jaringan kayu pada bagian pangkal batang mengalami pelapukan

a. Gejala
  • Sebagai gejala luar yang umum, seluruh tajuk menjadi kekuningan dan pucat karena kekurangan zat hara dan air sebagai akibat rusaknya perakaran sehingga pengisapannya dari dalam tanah menjadi terganggu. Hal ini disertai dengan meningkatnya jumlah daun tombak (pupus yang belum terbuka) sampai 2-4 daun didalam pucuk.
  • Lebih lanjut, daun-daun sebelah bawah tajuk berangsur-angsur merunduk, tapi yang sebelah atas tetap tegak serta lambat atau tidak mau membuka, sehingga terjadi ruag kosong yang membelah dua tajuk. Daun-daun tua akhirnya mengering dan terkulai menyelimuti ujung batang dari pohon.
  • Gejala diatas sering disertai dengan munculnya tubuh buah cendawan (carpophore ) pada pangkal batang, namun bisa juga tanpa kemunculannya sama sekali, sedangkan didalam pangkal batang telah membusuk (sabahagian).
  • Sebaliknya, carpophore tiba-tiba dapat muncul, sedangkan tajuk pohon kelihatan masih segar.

b. Pencegahan Mekanis
  • Semua pokok sakit/mati/hampir mati harus dibongkar sampai bonggol akarnya. Kecuali TM
  • umur > 8 tahun hanya pokok yang mati/hampir mati yang dibongkar.
  • Norma prestasi pembongkaran : 4 pohon/HB untuk TBM dan 3 pohon/HB untuk TM.
  • Ada cara-cara pembongkaran pohomyang efisien untuk dapat mencapai minimum norma prestasi tersebut diatas adalah sebagai berikut :
  • Korek dan putuskan akar disekitar pohon sampai sedalam 60 cm. Mula-mula dipakai alai tembilang (dodos besar) dan kampak, lalu dengan cangkol akar dan dodos besar sesuai dengan semakin dalamnya lubang arah korekan tegak lurus.
  • Pengorekan diteruskan terutama dibagian arah akan ditumbangnya pohon yaitu menurut arah barisan tanaman.
  • Jika ditaksir pohon sudah mulai goyah, pengorekan dihentikan dan anggota team bersama- sama menolak mendorongnya agar tumbang.
  • Lubang galian bonggol batang harus diperlebar sampai berukuran 120 x 120 x 60 cm baik pada TM maupun TBM.
  • Pada lubang bongkaran diberi pancang dari pelepah kelapa sawit dengan tulisan bulan & tahun pembongkaran dengan memakai pinsil lilin merah.
  • Setelah dibongkar, batang harus dipotong 3 ( kecuali batang TBM tak perlu dipotong-potong ) dan diguling untuk dikumpul jadi satu ditengah gawangan.
  • Semua cabang/pelepah daun dipotong 2 dan dirumpuk rapi diatas batang tersebut, kemudian diatas cabang-cabang ini ditumpukan pula semua sisa-sisa potongan akar hasil bonggol batang, jagan ada bonggol potongan akar yang tertinggal didalam lubang ataupun ditanah.
  • Tanamlah 2-3 stek tanaman C. caeruleum atau / dan Musuna disekitar dekat lubang untuk menekan pertumbuhan gulma dan pembiakan orycater.
  • Pusingan pembongkaran 3 bulan sekali (pusingan mati) dan dilaksanakan secara berturut menurut urutan nomer Blok. Hindarkan luka-luka yang tak perlu pada batang yang disebabkan oleh alat kastrasi atau dodos. Sewaktu mendodos atau kastrasi, mata alat harus diusahakan sejajar dengan batang. 
  • Semua bekas bonggol batang kelapa sawit tua yang dekat tanaman muda harus dikorek sedalam 120 x 120 x 60 cm.
  • Dilarang memotong cabang daun pasir selagi po hon masih kecil
c. Pencegahan Alami
  • Drainasi yang baik. Drainasi yang jelek dapat mengganggu penyerapan zat hara dari dalam tanah sehingga melemahkan daya tahan pohon terhadap penyakit terutama Ganoderma, karena itu parit- parit drainasi yang baik harus tetap dipelihara..
  • Garuk piringan tanaman umur 0 – 1 tahun. Pekerjaan garuk piringan harus jangan sampai melukai perakaran tanaman. Rumput digaruk setipis mungkin, kemudian tanahnya dikembalikan kepangkal pohon guna menutupi akar-akar yang terbuka.
  • Tanah untuk bibitan. Tanah untuk pengisisan kantong plastik harus diambil dari areal/lokasi yang bebas dari serangan ganoderma, misalnya eks konservasi, perluasan atau setidak-tidaknya dari blok yang bebas Ganoderma (tanah atas yang subur dan gembur).

a. Pengendalian by Produk

Dengan mempergunakan produk myco gold yang mempunyai bahan bahan aktif Endomycorrhizal spores (4 genus) 
• Aculospora
• Gigaspora
• Giomus
• Scutellospora 

Bahan Non Aktif

• Sterillzed Sand
• Vermiculite 

Alikasi di Lapangan 

aplikasinya

• Pada Tingkat Pembibitan/Nursery

Letakkan 30 - 50 gr Mycogold di sekililing akar, pastikan akar bibit bersentuhan dengan mycogold sebelum di tutup dengan tanah

• Pemindahan ke kebun/Transplanting

Masukkan 250 - 500 gr Mycogold ke lubang tanam, catatan apabila pada tingkat nursery telah diperlakukan dengan memakai Mycogold, maka pemakaian Mycogold hanya membutuhkan 50 gr pada lubang tanam

• Tanaman kurang dari 5 tahun

Untuk Tanaman yang ber usia kurang dari 5 tahun pemakaian Mycogold pada kisaran 500 - 1 kg per pohon dengan membuat dua buah lubang di sekililing pohon, dan pastikan akar pohon bersinggungan dengan Mycogold untuk mendapatkan hasil yang maksimal

• Tanaman Lebih dari 5 tahun 

Untuk Tanaman yang telah berusia lebih dari 5 tahun aplikasi penggunaan Mycogold antara 1 kg - 2 Kg perpohon dengan tata cara sama dengan aplikasi pada tanaman kurang dari 5 tahun.

• Daerah serangan Genoderma

Aplikasi di lapangan dengan memberikan Mycogold 1 kg per pohon dengan tata cara seperti pada pemberian pada tanaman kurang dari 5 tahun.

• Daerah Serangan Genoderma Parah

Aplikasi di lapangan dengan memberikan Mycogold 2 Kg per pohon dengan tata cara seperti pada pemberian pada tanaman kurang dari 5 tahun.

2. PENYAKIT BERCAK DAUN
Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam kelompok bercak daun adalah yang disebabkan oleh jamur-jamur patogenik dari genera Curvularia, Cochiobolus, Drechslera dan Pestalotiopsis (Turner, 1981). Bercak daun yang disebabkan oleh Curvularia lebih dikenal sebagai hawar daun curvularia. Penyakit ini terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia, tetapi tingkat serangannya beragam tergantung pada kondisi lingkungan setempat dan tindakan agronomik yang dijalankan (Purba, 1996 ; 1997 dan 2001). 

Gambar Gejala hawar daun Curvularia pada bibit

a. Gejala
Serangan dapat terjadi selama periode kering dan basah. Gejala awal tampak berupa bintik kuning pada daun tombak atau yang telah membuka, bercak membesar dan menjadi agak lonjong dengan panjang 7-8 mm berwarna coklat terang dengan tepi kuning atau tidak, bagian tengah bercak kadang kala tampak berminyak. Pada gejala lanjut bercak menjadi nekrosis, beberapa bercak menyatu membentuk bercak besar tak beraturan. Pada beberapa kasus bagian tengah bercak mengering, rapuh, berwarna kelabu atau coklat muda .

b. Penyebab
Penyakit bercak daun kelapa sawit disebabkan oleh beberapa spesies jamur, antara lain Curvularia eragrostidis, Curvularia spp., Drechslera halodes, Cochliobolus carbonus, Cochliobolus sp, dan Pestalotiopsis sp. Jamur-jamur tersebut menyebar dengan spora melalui hembusan angin atau percikan air yang mengenai bercak (Turner, 1971 dan 1981 ; Domsch et al., 1980 ; Ellis, 1976 ; Hanlin, 1990).

c. Faktor pendorong
Populasi bibit per satuan luas terlalu tinggi atau terlalu rapat (< 90 cm), atau keadaan pembibitan yang terlalu lembab. Kelebihan air siraman dan cara penyiraman yang tidak tepat. Kebersihan areal pembibitan yang kurang terpelihara. Banyak gulma yang merupakan inang alternatif bagi patogen, terutama dari keluarga Gramineae di dalam atau di sekitar areal pembibitan. Aktivitas pekerja di pembibitan.

d. Pengendalian
Menjarangkan letak bibit menjadi ³ 90 cm. Mengurangi volume air siraman sementara waktu. Penyiraman secara manual menggunakan gembor lebih dianjurkan, dan sebaiknya diarahkan ke permukaan tanah dalam polibek, bukan ke daun. Mengisolasi dan memangkas daun-daun sakit dari bibit yang bergejala ringan-sedang, selanjutnya disemprot dengan fungisida thibenzol, captan atau thiram dengan konsentrasi 0,1-0,2% tiap 10-14 hari, daun pangkalan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang terserang berat.

3. PENYAKIT BUSUK DAUN (Antraknosa)
Penyakit antraknosa merupakan sekumpulan nama infeksi pada daun bibit-bibit muda, yang disebabkan oleh 3 genera jamur patogenik, yaitu Botryodiplodia spp., Melanconium elaeidis dan Glomerella cingulata. Spora dihasilkan di dalam piknidia atau aservuli, menyebar dengan bantuan angin atau percikan air siraman atau hujan (Turner, 1971 dan 1981 ; Barnet dan Hunter, 1972 ; Domsch, Gams dan Anderson, 1980). Penyakit ini telah dilaporkan terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia (Turner, 1981 ; Purba dan Sipayung, 1986 ; Purba, 1996d, 1996f, 1997d dan 1999a). 
PENYAKIT BUSUK DAUN (Antraknosa)
Gambar Gejala antraknosa yang disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp.

a. Gejala
Terutama menyerang bibit pada umur 2 bulan. Kadang-kadang dijumpai bersamaan dengan gejala transplanting shock (cekaman pindah tanam). Gejala biasanya dijumpai pada bagian tengah atau ujung daun, berupa bintik terang yang selanjutnya melebar dan menjadi kuning dan coklat gelap. Jaringan sakit selanjutnya nekrosis, bercak meluas dengan batas antara bercak dengan jaringan sehat berwarna kuning. Bercak kadangkala memanjang sejajar tulang daun.

b. Faktor pendorong 
Jarak antar bibit yang terlalu rapat (< 90cm). Keadaan pembibitan yang terlalu lembab.Kelebihan air siraman dan naungan di PA. Pemindahan bibit dari PA ke PU dan penggemburan tanah yang kurang hati-hati.

c. Pengendalian
Mengurangi penyiraman dan naungan di pembibitan awal, sehingga mengurangi kelembaban. Pemindahan bibit dan penggemburan tanah harus dilakukan dengan hati-hati. Menjarangkan letak bibit menjadi ³ 90 cm. Mengisolasi dan memangkas daun-daun sakit dengan gejala ringan-sedang, selanjutnya disemprot dengan fungisida ziram, thiram, kaptan atau triadimenol dengan konsentrasi 0,1-0,2% dengan pusingan 7-10 hari, atau dengan thibenzol dengan konsentrasi 0,1% dengan pusingan 10-14 hari, daun-daun pangkasan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang terserang berat.

4. PENYAKIT TAJUK (CROWN DESEASE)
Penyakit tajuk (penyakit mahkota, crown desease) sering dijumpai di kebun yang belum menghasilkan, dan merupakan penyakit yang paling mencolok disini. Pada umumnya penyakit hanya terdapat di kebun yang berumur 1-3 tahun setelah penanaman di lapangan. Sesudah itu penyakit sembuh dengan sendirinya, dan bekas tanaman sakit berkembang seperti tanaman biasa. Meskipun demikian tanaman agak terlambat pertumbuhannya jika dibandingkan dengan tanaman yang tidak mengalami gangguan.

Penyakit tajuk terutama terdapat di Indonesia dan Malaysia, yang bahan tanamannya adalah keturunan Deli. Di Sumatera Utara terdapat kebun-kebun muda yang lebih kurang 10 % dari tanamannya bergejala penyakit tajuk.
Serangan Crown Disease
Gambar Serangan Crown Desease

a. Gejala
Tanaman muda yang sakit mempunyai banyak daun yang membengkok ke bawah di tengah pelepahnya. Pada bengkokan ini tidak terdapat anak daun atau anak daunnya kecil, atau robek-robek. gejala ini mulai tampak pada janur. Di disini anak-anak daun yang masih terlipat itu tampak busuk pada sudut atau tengahnya.

Untuk sementara tanaman terhambat pertumbuhannya tetapi kelak akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun demikian ada kalanya tanaman yang sembuh tadi menjadi sakit kembali, yang nantinya akan sembuh untuk seterusnya.

b. Penyebab Penyakit 
Penyakit ini sudah mulai diteliti 70 tahun yang lalu (Heusser, 1927), namun sampai sekarang penyebabnya belum diketahui. Dari jaringan yang busuk dapat diisolasi bermacam-macam jamur, khususnya Fusarium oxysporum Schl. dan F. solani (Mart.) Sacc. (Turner, 1973), namun jamur-jamur ini kalau diinfeksikan ke tanaman sehat tidak ada yang mampu menimbulkan penyakit. Selain itu juga diketahui bahwa penyakit tajuk tidak menular.

Ada yang menduga bahwa gejala tersebut diatas disebabkan oleh kelebihan nitrogen. Ada juga yang menduga bahwa gejala ini disebabkan oleh defisiensi magnesium. Namun pendapat-pendapat tersebut tidak dapat dibuktikan dengan percobaan-percobaan.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit 

Dari penelitian Donkersloot (1955ab) dan de Berchoux dan Gascon (1963) disimpulkan bahwa kerentanan terhadap penyakit tajuk terutama diturunkan oleh bahan tanaman asal Deli meskipun bahan tanaman asal Afrika pun tidak sama sekali bebas dari penyakit. Kerentanan terhadap penyakit ini ditentukan oleh satu gen resesif. Meskipun demikian masalahnya menjadi sulit karena adanya gen inhibitor yang mempersukar usaha untuk mengetahui adanya gen rentan pada sesuatu keturunan (Blaak, 1970).

d. Pengelolaan Penyakit 
Karena penyebab penyakit nya belum diketahui, sampai sekarang tidak ada anjuran pengelolaan yang dapat diberikan dengan mantap. Pada umumnya pekebun cenderung untuk membiarkan penyakit itu, karena tanaman akan sembuh dengan sendirinya. Dengan demikian mereka terpaksa menerima kerugian yang terjadi karena terhambatnya pertumbuhan beberapa tanaman.

Untuk mengurangi penyakit tajuk ada yang berpendapat agar bahan tanaman asal Deli tidak dipakai. Tetapi dengan sendirinya pendapat ini akan menyebabkan hilangnya sifat-sifat baik dari bahan tanaman asal Deli, dan juga akan menyebabkan terjadinya kekurangan bahan tanaman yang cukup serius, karena semua bahan tanaman yang dibudidayakan disini mempunyai darah Deli. Dengan demikian mungkin akan terjadi kerugian yang lebih besar daripada kerugian yang terjadi karena penyakit tajuk dewasa ini.

Sehubungan dengan adanya jamur pada bagian yang membusuk pada tanaman yang sakit, ada yang berusahan untuk menyembuhkannya dengan memakai fungisida. Namun karena masih diragukan bahwa jamur yang menyebabkan penyakit, perawatan dengan fungisida memberikan hasil yang tidak menentu. Sebelum diperlakukan, janur dipotong sedalam mungkin (sedekat mungkin dengan titik tumbuh). Bagian yang terbuka disemprot dengan fungisida sampai basah benar. Pada pemotongan tadi hanya janur yang belum membuka yang dibuang. Daun-daun sakit yang lebih tua tidak perlu dipotong, karena perkembangan jamur akan terhenti jika janur membuka. Bahkan pemotongan ini akan menyebabkan tanaman muda yang sakit kehilangan banyak jaringan yang dapat mengadakan asimilasi yang sangat diperlukan. Fungisida yang dipakai untuk keperluan ini adalah tiabendazol, tiram atau benomil (Turner, 1973).

Disalin dari 

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Cet-4 (revisi) Februari 2000.

5. PENYAKIT LITTLE LEAF

a. Gejala dan penyebab penyakit.

  • Penyakit ” little leaf ” yang sering muncul pada tanaman kelapa sawit muda ( TB & TBM ) adalah disebabkan oleh kekurangan unsur hara Boroum (Boron), suatu unsur micro yang penting bagi tanaman.
  • Ada bermacam-macam tanda (gejala) yang dijumpai pada tanaman yang kekurangan Borium seperti yang disebutkan dalam diagram, salah satu gejala yang sudah parah ialah yang disebut little leaf dimana daun tajuk yang tumbuh kemudian (setelah serangan) lebih kecil sehingga pohon kelihatan bukan tambah besar, tetapi tambah mengecil, itulah sebabnya penyakit ini disebut penyakit ” little leaf ”

b. Pemeriksaan dan sensus.
Periksa dan sensus semua pohon yang menunjukan gejala ” little leaf ” dan kelompokan atas 2 kelas tingkat serangan, sbb :

Tabel Kerusakan dan Gejala ”Little Leaf”
Kerusakan
Tanda ( Gejala )

Ringan
Anak daun patah-patah, ujung daun bengkok, ujung daun melidi, helai daun koyak, ujung daun buta,ujung daun seperti ekor ikan

Berat
Daun kecil, daun-daun seperti tulang ikan, daun pendek/jarang/tumpul, busuk pucuk, busuk umbat.


c. Pemberantasan atau pengobatan.
Sesuai Program Pemupukan tahunan, lakukan pemupukan dengan pupuk Borate ( Borax ) Na2B4O7.10 H2O menurut dosis yang sesuai dengan umur tanaman.

Tabel 14.2. Dosis Pupuk Borax

UMUR
Dosis  Gram / Pokok
Cara Pemberian
0  tahun
1  tahun
2  tahun
3  tahun
4  tahun
25
40
2x40
50
70
Ditaburkan merata dijalur tepi sekeliling piringan.



  • Pelaksanaan program pemupukan Borax tiap tahunnya haruslah disegerakan, untuk mencegah munculnya gejala penyakit.
  • Untuk gejala-gejala penyakit ” little leaf ” tertentu yang dianggap serius dan berkelanjutan walaupun program pupuk Borax sudah dikerjakan, hal ini perlu dilaporkan ke Bahagian Tanaman untuk diberikan dosis ekstra.
  • Pemasangan pupuk Borate harus terpisah, tidak boleh tercampurbdengan pupuk kimia lainnya atau tidak boleh dicampurkan kedalam larutan herbisida.
  • Pupuk Borate mudah terbilas air hujan, karena itu pemasangannya ditunda jika turun hujan lebat diduga segera akan turun.
  • Biaya sensus penyakit masuk Pos Percobaan Bahagian Tanaman dan seleksi, sementara pemasangan pupuk dan pupuknya sendiri masuk ke Pos Pemupukan.
  • Penakaran dan pemasangan pupuk borate harus hati-hati dan teliti karena jika kelebihan dapat menimbulkan keracunan.
6. PENYAKIT BUSUK TANDAN
Penyakit busuk tandan disebabkan oleh Marasmius palmivorus. yang mula mula jamur ini membentuk benang benang berwarna putih yang banyak menutupi kulit buah, dan kemudian membentuk payung. Penyakit ini dapat dilakukan pencegahan dengan cara penyerbukan buatan, kantrasi dan sanitasi kebun. Penyakit ini dapat menurunkan hasil produksi dan kualitas buah apabila dibiarkan begitu saja dan tidak dilakukan pencegahan dan pengendalian sesuai prosedur yang ada.

a. Gejala Serangan 
Penyakit ini awalnya berkembang pada ujang tandan buah segar (TBS), yakni pada bagian buah yang terjepit antara batang dan pelepah daun diatasnya, biasanya penyakit ini menyerang tanaman yang berumur 3-6 tahun. Pada awalnya jamur membentuk benang-benang (miselium) berwarna putih mengkilap yang banyak menutupi kulit buah terutama 2-4 bulan antesis, setelah menyerang buah (mesokarp) dan menghasilkan jaringan busuk berwarna coklat muda dan basah kerusakan buah ini akan menyebabkan kandungan asam lemak bebas menjadi tinggi pada minyak kelapa sawit yang dihasilkan. penyakit ini lebih banyak di jumpai pada saat musim basah atau hujan yang panjang ,bila seluruh tandan telah terserang jamur membentuk tubuh buah (sporofor) yang membentuk jamur payung yang terdiri atas “topi” atau “payung” berwarna putih dengan diameter 2,5-75cm yang ditunjang oleh “batang” yang panjangnya 2,5–3,0 cm. Pada permukaan bawah payung terdapat papan-papan (bilah) seperti ingsang. (Ir. Yan Fauzi dk.2002)

b. Penyebab
Penyakit ini disebabkan jamur Marasmius palmiporus. Jamur ini menyerang buah yang matang dan dapat menembus daging buah, sehingga menurunkan kualitas minyak sawit. Penyakit ini sering terjadi pada permulaan panen akibat polinasi yang tidak sempurna. Jamur ini pada dasarnya banyak terdapat pada tumpukan daun daun tua dan sisa sisa bagian bagian tanaman yang tertinggal dan berakumulasi pada ketiak-ketiak daun tetapi sumber ini kolum yang utama adalah tandan buah yang tertinggal dilapangan pada tanaman 3-6 tahun (Ir. Yus Fauzi 2002)
PENYAKIT BUSUK TANDAN

Gambar Busuk Tandan

c. Pencegahan Dan Pengendalian 
• Pencegahan 
Tindakan Pencegahan di lakukan dengan melakukan penyerbukan buatan, kaustrasi dan sanitasi kebun terutama pada musim hujan. Semua bunga dan buah yang membusuk sebaiknya dibuang.

• Pengendalian
Pengendalian terbagi dua yaitu

Secara mekanis

• mengumpulkan dan membakar tanaman yang terserang,
• mengumpulkan dan mengubur atau memendam kedalam tanah

Secara Kimia
yaitu menggunakan Fungisida yang selektif sehingga tidak mematikan serangga dan kumbang yang membantu penyerbukan. Fungisida yang buasa digunakan adalah Folatan 0,2-07%/ha dengan interval 2 minggu sekali. ( Ir. Yus Fauzi 2002).

Faktor Penyebab Penyakit Pada Tumbuhan

Penyakit pada tanaman berarti proses di mana bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya.

Ilmu Penyakit Tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari kerusakan yang disebabkan oleh organisme yang tergolong ke dalam dunia tumbuhan seperti Tumbuhan Tinggi Parastis, Ganggang, Jamur , bakteri, Mikoplasma dan Virus.
Faktor Penyebab Penyakit Pada Tumbuhan

Rahmat Rukmana dan Sugandi Saputra (2005: 11) menyatakan, Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal, cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat dilihat, menurunkan kualitas atau nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama. Tanaman sakit adalah suatu keaadaan proses hidup tanaman yang menyimpang dari keadaan normal dan menimbulkan kerusakan. Makna kerusakan tanaman adalah setiap perubahan pada tanaman yang menyebabkan menurunya kuantitas dan kualitas hasil.

Penyakit pada tanaman budidaya biasanya disebabkan oleh Cendawan, Bakteri, Virus dan faktor lingkungan (iklim, tanah, dan lain-lain). Cendawan dapat juga disebut jamur. Cendawan adalah suatu kelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena mempunyai dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora, tetapi tidak mempunya klorofil. Cendawan tidak mempunyai batang, daun, akar, dan sistem pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi.

Bakteri adalah salah satu jenis mahluk kecil (organisme) yang sebagian besar termasuk saprofit (numpang hidup di dalam tubuh mahluk lain, tidak merugikan dan menguntungkan mahluk lain tersebut). Virus adalah pathogen obligat (hanya hidup dan berkembang biak dalam organisme hidup). Ukuran virus amat kecil (submikroskopik) dan terdiri atas komposisi kimia, yaitu protein dan nucleic acid.

Virus bersifat parasitic dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada semua bentuk organisme hidup. Penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan biasanya diakibatkan oleh ketidaksesuaian kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh dengan kondisi lingkungan yang menjadi habitat asli tanaman, sehingga tanaman tumbuh tidak sehat atau tidak normal. “Gejala penyakit akibat faktor lingkungan biasanya mirip dengan gejala penyakit akibat dari mahluk hidup, perbedaannya adalah penyakit akibat faktor lingkungan tidak menular” (Rukmana, 2005).

Penyakit tanaman yang merupakan suatu penyimpangan atau abnormalitas tanaman amat beragam bentuknya, misalnya keriput daun, kuning pucat, bercak-bercak coklat dan busuk. Akibatnya, tanaman tidak mampu melakukan proses fotosintesis secara maksimal. Gangguan tersebut menyebabkan gangguan ekonomis, berupa penurunan kuantitas dan kualitas hasil. Semua bagian tanaman berpotensi diserang penyakit sehingga tanaman tersebut sakit.

Tangkai bunga atau buah berubah warna dari hijau menjadi kuning, bahkan diikuti dengan terjadinya gugur bunga atau buah. Akar tanaman kubis-kubisan (Cruciferae) yang membengkak dan berbintil-bintil mirip “gada” sehingga tidak mampu menghisal air dan unsure hara merupakan pertanda diserang penyakit akar bengkak.

Setiap parasit tanaman berkembang dalam siklus kejadian-kejadian yang berurutan dengan teratur, yakni sebagai berikut (Rukmana, 2005):

1. Parasit harus menghasilkan inokulum yang dapat menularkan penyakit ke tanaman yang sehat. Misalnya, inokulum virus adalah virion, bakteri berupa sel-sel bakteri, cendawan dengan spora, dan nematode dalam bentuk telur atau larva instar kedua.

2. Inokulum disebarkan ke jaringan-jaringan yang peka (rentan). Proses ini disebut “inokulasi”. Agen inokulasi dapat berupa serangga (untuk virus, bakteri, mycoplasma, dan cendawan) atau air dan angin (untuk cendawan).

3. Parasit harus masuk ke dalam tanaman melalui luka, bukaan alami (stomata, hidatoda, lentisel), atau menginfeksi langsung pada tanaman.

4. Parasit mulai memparasit dalam tanaman inangnya. Proses ini disebut “infeksi”.
Siklus kejadian di atas berulang dengan cepat atau lambat, tergantung pada kelahiran (natality) parasit. Oleh karena itu bila tidak dilakukan usaha pengendalian, akan terjadi penyebaran dan ledakan hebat suatu penyakit (epidemi).

Faktor - faktor Penyebab Penyakit
a. Penyebab Penyakit Faktor Lingkungan
• Pengaruh Suhu
Tumbuhan umumnya tumbuh pada kisaran suhu 1 sampai 40 OC, kebanyakan jenis tumbuhan tumbuh sangat baik antara 15 dan 30 OC. Tumbuhan berbeda kemampuan bertahannya terhadap suhu ekstrim pada tingkat prtumbuhan yang berbeda. Misalnya, tumbuhan yang lebih tua, dan lebih keras akan lebih tahan terhadap suhu rendah dibanding kecambah muda. Jaringan atau organ berbeda dari tumbuhan yang sama mungkin sangat bervariasi kesensitifannya (kepekaannya) terhadap suhu rendah yang sama. Tunas jauh lebih sensitif (peka) dibanding daun dan sebagainya.
  • Pengaruh Suhu Tinggi
Pada umunya tumbuhan lebih cepat rusak dan lebih cepat meluas kerusakannya apabila suhu lebih tinggi dari suhu maksimum untuk pertumbuhannya dibanding apabila suhu lebih rendah dari suhu minimum. Suhu tinggi biasanya berperan dalam kerusakan sunsclad yang tampak pada bagian terkena sinar matahari pada buah berdaging dan sayuran, seperti cabe, apel, tomat, umbi lapis bawang dan umbi kentang.
  • Pengaruh Suhu Rendah
Kerusakan tumbuhan yang disebabkan oleh suhu rendah lebih besar dibanding dengan suhu tinggi. Suhu di bawah titik beku menyebabkan berbagai kerusakan terhadap tumbuhan. Kerusakan tersebut meliputi kerusakan yang disebabkan oleh late frost (embun upas) terhadap titik meristematik muda atau keseluruhan bagian tumbuhan herba, embun upas yang membunuh tunas pada persik, cherry, dan pepohonan lain, dan membunuh bunga, buah muda dan kadangkadang ranting sukulen sebagian pepohohonan.

b. Pengaruh Kelembaban
  • Pengaruh Kelembaban Tanah Rendah
Tumbuhan yang menderita karena kekurangan kelembaban tanah biasanya tetap kerdil, hijau pucat sampai kuning terang, mempunyai daun, bunga dan buah sedikit, kecil dan jarang, dan jika kekeringan berlanjut tumbuhan layu dan mati. Walaupun tumbuhan setahun jauh lebih rentan terhadap periode pendek kekurangan air, tetapi tumbuhan dan pepohonan juga dapat rusak dengan periode kering yang berlangsung lama dan menghasilkan pertumbuhan yang lambat, daun menjadi kecil dan hangus, ranting pendek, dieback, defoliasi (pengguguran daun), dan akhirnya layu dan mati.
  • Pengaruh Kelembaban Tanah Tinggi
Akibat kelebihan kelembaban tanah yang disebabkan banjir atau drainase yang jelek, bulu-bulu akar tumbuhan membusuk. Kekurangan oksigen menyebabkan sel-sel akar mengalami stres, sesak napas dan kolapsi. Keadaan basah, an-aerob menguntungkan pertumbuhan mikroorganisme an-aerob, yang selama proses hidupnya membentuk substansi seperti nitrit, yang beracun bagi tumbuhan. Disamping itu, sel-sel akar yang dirusak secara langsung oleh kekurangan oksigen akan kehilangan permeabilitas selektifnya dan dapat memberi peluang terambilnya zat-zat besi atau bahan-bahan beracun lain oleh tumbuhan.

Drainase yang jelek menyebabkan tumbuhan tidak vigor, seringkali menyebabkan layu dan daun berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan. Banjir selama musim tanam dapat menyebabkan kelayuan tetap dan kematian tumbuhan semusim sukulen dalam dua sampai tiga hari.

3. Kekurangan Oksigen
Tingkat oksigen rendah yang terjadi pada pusat buah atau sayuran yang berdaging di lapangan, terutama selama periode pernapasan cepat pada suhu tinggi, atau pada penyimpanan produk tersebut di dalam tumpukan yang besar sekali.

4. Cahaya
Kekurangan cahaya memperlambat pembentukan klorofil dan mendorong pertumbuhan ramping dengan ruas yang panjang, kemudian menyebabkan daun berwarna hijau pucat, pertumbuhan seperti kumparan, dan gugurnya daun bunga secara prematur. Keadaan tersebut dikenal dengan etiolasi. Tumbuhan teretiolasi didapatkan di lapangan hanya apabila tumbuhan tersebut ditanam dengan jarak yang terlalu dekat atau apabila ditanam di bawah pohon atau benda lain. Kelebihan cahaya agak jarang terjadi di alam dan jarang merusak tumbuhan. Banyak kerusakan yang berhubungan dengan cahaya mungkin akibat suhu tinggi yang menyertai intensitas cahaya tinggi.

5. Polutan Udara
Beberapa kerusakan yang disebabkan oleh polutan udara sebagai berikut :
  • Klorin (Cl2) yang berasal dari kilang minyak, menyebabkan daun terlihat keputihan, terjadinya nekrosis antar tulang daun, tepi daun nampak seperti hangus.
  • Etilen (CH2CH2) yang berasal dari gas buangan automobil, menyebabkan tumbuhan tetap kerdil, daun berkembang secara abnormal dan senesen secara prematur.
  • Sulfur dioksida (SO2) yang berasal dari asap pabrik, pada konsentrasi menyebabkan klorosis umum dan pada konsentrasi tinggi menyebabkan keputihan pada jaringan antar tulang daun
6. Sifat Genetik Pohon
Dalam populasi tiap jenis terdapat ketahanan pohon terhadap suatu jenis patogen. Beberapa individu, galur, atau tanaman yang berasal dari tempat tumbuh tertentu mungkin lebih tahan terhadap suatu jenis patogen, dibandingkan dengan individu, galur, atau yang berasal dari tempat tumbuh lain.

Ketahanan ini dapat terjadi karena kemampuan pohon untuk membentuk struktur-struktur tertentu yang tidak menguntungkan perkembangan patogen pada pohon tersebut, seperti kurangnya jumlah stomata per satuan luas daun, pembentukan lapisan kutikula yang tebal, pembentukan jaringan dengan sel-sel yang berdinding gabus tebal segera setelah patogen memasuki jaringan tanaman atau produksi bahan-bahan toksik didalam jaringan yang cukup banyak sebelum atau sesudah patogen memasuki jaringan tanaman, sehingga patogen mati sebelum dapat berkembang lebih lanjut dan gagal menyebabkan penyakit pada pohon.

7. Keganasan Patogen
Penyakit yangt disebabkan oleh patogen seperti jamur, bakteri, virus, mikoplasma, nematoda dan sebagainya, mempunyai sifat-sifat fisiologis yang beragam dan termasuk kemampuannya dalam menyebabkan penyakit pada suatu jenis pohon.

8. Keadaan Lingkungan
Faktor lingkungan dapat dipisahkan antara yang biotik (hidup) dan yang abiotik (mati).. Pengaruh faktor lingkungan biotik adalah pada patogen yang bertahan hidup dan berkembang di dalam tanah, yang biasanya menyerang akar. Jasad yang berkembang di sekitar patogen adalah yang secara langsung berpengaruh terhadap daya tahan hidup patogen dengan bertindak sebagai parasit, vektor, saingan dalam memperoleh makanan atau dengan melalui antibiosis.

Kelompok faktor lingkungan yang lain adalah unsur-unsur abiotik (tidak hidup) seperti suhu, kadar air tanah, kelembaban udara, pH tanah dan bahan-bahan kimia di dalam tanah. 

Sunday, 14 September 2014

Hama Pada Perkebunan Kelapa Sawit

Hama tanaman dapat didefenisikan sebagai binatang yang memakan tanaman dan secara ekonomis merugikan. Dari keseluruhan hama tanaman, klas Insecta merupakan bagian yang terbesar. Insecta merupakan hama tanaman yang sangat mudah berpindah dan mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan baru. Selain itu insecta cepat berkembang biak, apalagi pada kondisi yang menguntungkan. Hama tanaman dapat dikendalikan dengan berbagai cara, antara lain penggunaan varietas resisten, kultur teknis dan pengendalian secara kimiawi.
Hama Pada Tanaman Kelapa Sawit

Prinsip-prinsip dalam pengendalian hama adalah :

  • Mencegah lebih baik dari pada mengobati.
  • Pengendalian secara mekanis sebagai pilihan pertama.
  • Pengendaliaan terpadu dengan musuh alaminya.
  • Pilihan akhir : pestisida
  • Sistem yang digunakan adalah sistem pengamatan dini (Early Warning System = EWS).
  • Mengamati secara teratur tingkat serangan (sensus umum/global dan sensus efektif)
  • Pemetaan tingkat serangan.
  • Tindakan pengendaliaan.

HAMA ULAT 
1.   ULAT API  (Limacodidae)  
  • Setora nitens
  • Setothosea asigna
  • Thosea bisura
  • Pioneta diducta
  • Dana trima
a.    Fisiologi
 Telur S. asigna van Ecke
Gambar Telur S. asigna van Ecke

S. asigna van Ecke termasuk ke dalam kingdom Animalia, filum Arthropoda, kelas Insecta, ordo Lepidoptera, family Limacodidae, genus Setothosea, dan spesies S. asigna van Ecke (Sudharto, dkk, 2005).

Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar dengan permukaan daun sebelah bawah, biasanya pada pelepah 16-17. Satu tumpukan telur terdiri dari 44 butir dan seekor ngengat betina selama hidupnya mampu menghasilkan telur 300-400 butir. Telur biasanya menetas 4-8 hari setelah diletakkan. Telur pipih dan berwarna kuning muda (Buana dan Siahaan, 2003).

Larva yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis jaringan daun dari permukaan daun dan meninggalkan epidermis permukaan bagian atas daun. Ulat pada instar 2-3 memakan daun mulai dari ujung ke arah pangkal daun. Selama perkembangannya ulat berganti kulit 7-8 kali dan mampu menghabiskan helaian daun seluas 400 cm2. Ulat berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak yang khas  (berbentuk pita  yang  menyerupai  piramida)  pada  bagian  punggungnya. 
Ulat Api

Selain itu juga pada bagian punggungnya dijumpai duri-duri yang kokoh. Ulat instar terakhir (instar 9) berukuran panjang 36 mm dan lebar 14 mm. Stadia ulat ini berlangsung selama 49-53 hari (Buana dan Siahaan, 2003). 
Kepompong Ulat Api

Gambar Kepompong
Kepompong berada dalam kokon yang terbuat dari air liur ulat, berbentuk bulat telur dan berwarna cokelat gelap serta dijumpai pada bagian tanah yang gembur di sekitar piringan tanaman kelapa sawit atau bahkan pada celah-celah kantung pelepah yang lama. Kokon jantan atau betina masing-masing berukuran 16  x  13 mm  dan  20  x  16,5  mm.  Stadium kepompong  berlangung  39  hari (Buana dan Siahaan, 2003).

b. Daur Hidup Ulat Api S. asigna van Ecke
Larva dari S. asigna ini aktif merusak daun tanaman kelapa sawit pada instar 3-5. Pupa dari S. asigna berada di tanah sekitar piringan tanaman kelapa sawit dan juga di dalam kantung-kantung pelepah tanaman kelapa sawit. Imago yang dihasilkan dari pupa berupa ngengat yang umumnya aktif di malam hari. Perkembangan hama ini mulai dari telur hingga menjadi ngengat berkisar antara 92-98 hari (Buana dan Siahaan, 2003).

c.    Gejala Serangan Ulat Api
Gambar Gejala Serangan Ulat Api
Gambar Gejala Serangan Ulat Api

Ulat muda (di bawah instar 3) biasanya bergerombol di sekitar tempat peletakkan telur dan mengikis daun mulai dari perukaan bawah daun kelapa sawit, serta meninggalkan epidermis daun bagian atas. Bekas serangan terlihat seperti jendela-jendela memanjang pada helaian daun. Mulai instar ketiga biasanya ulat memakan     semua     helaian     daun   dan     meninggalkan     lidinya     saja (Buana dan Siahaan, 2003). 

Serangan ulat ini biasanya mulai dari pelepah daun yang terletak di strata tengah dari tajuk kelapa sawit ke arah pelepah daun yang lebih muda atau lebih atas. Tetapi pada serangan yang lebih berat daun yang tua sekalipun dimakan juga oleh S. asigna tersebut. Pada serangan yang berat, semua helaian daun dimakan oleh S. asigna dan hanya tinggal pelepah beserta lidinya saja. Gejala serangan ini sering disebut gejala melidi (Buana dan Siahaan, 2003).

d.   Pengamatan Serangan
Sensus Umum/Global
  • Pusingan atau rotasi 1 kali/bulan, 1 pohon/ha.
  • Pelepah pada pohon contoh diamati. Pada tanaman muda daunnya cukup digantol/dikait dan pada tanaman tua pelepahnya dipotong.
  • Dihitung ulat, telur dan kepongpongnya kemudian dijumlahkan.
  • Pada populasi ulat tinggi, penghitungan pada sebelah pelapah kedua x2
  • Tentukan kelas serangannya, TBM 0,4 HK/ha. TM 0,2 HK/ha.
Sensus Efektif
  • Dilakukan  bila  tingkat  serangan  hama  pada  umumnya  mencapai kelas  S (sedang)
  • Sensus dipercepat 1 kali tiap 2 minggu.
  • Pohon contoh ditambah menjadi 6 pohon/ha dengan menambah titk sensus menjadi selang baris 6 dan selang pohon 6.
  • Caranya seperti pada sensus global.

Tabel Kelas serangan Ulat 
JeniUlat
TBM
TM
R
S
B
R
S
B
Ulat Api
Setora nitens
Setothosea asigna Thosea bisurPloneta diductDama trima
<3

<7

<15
3-4

7-9

15-24
>5

>10

>25
<7

<15

<35
7-9

15-19

35-49
>10

>20

>50
Ulat Kantong :
Mahasena
Metisa planaCrematopsychpendula
<3
<25
<30
3-4
25-34
30-44
>5
>35
>45
<7
<50
<65
7-9
50-69
65-89
>10
>70
>90

          R =ringan, S = sedang, B =berat
       dimana merupakan ambang batas     /kritikal level.

e.   Pengendalian
Cara Mekanis

  • Pada tanaman muda 1-3 tahun.
  • Bila luas serangan sampai 25 ha,serangan katagori ringan.
  • Yang dikutip, ulat, kepompong, telur.
  • Alat : galah, kantung plastik, lampu perangkap. 0,04 HK/ha
Cara Biologis
  • Dengan insektisida biologis seperti Bactospeine, Dipel WP, Thuricide HP, Florbac, Xentare. 0,1 HK/ha, Dosis : 300-800 gr/400 ltr air/ha.
  • Dengan Predator Alami dan Parasitoid

Imago E. furcellata
Gambar Imago E. furcellata

Predator alami, Salah satu dari penemuan – penemuan tersebut adalah ditemukannya predator Eocanthecona furcellata. Dari hasil penelitian di laboratorium dan di lapangan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat disimpulkan bahwa predator ini merupakan predator ulat pemakan daun kelapa sawit yang potensial, perlu dikembangkan dan disebarluaskan di perkebunan kelapa sawit (Purba dkk., 1986). Predator E. furcellata merupakan predator yang sangat berguna bagi pengendalian hama ulat api di  perkebunan kelapa sawit. Kemampuannya dalam memangsa ulat api dilapangan, serta siklus hidupnya yang singkat dan kemampuan reproduksi yang tinggi membuat predator ini sangat potensial untuk diaplikasikan dalam pengendalian hama ulat api. Selain itu, pengendalian dengan menggunakan predator ini  dapat berlangsung secara berkesinambungan atau terus menerus di alam

Imago dari predator ini mempunyai ukuran, jantan panjangnya 11,30 mm dan lebar 5,36 mm (5,16 – 5,66 mm); betina sedikit lebih besar dengan panjang 14,65 mm (13,83 – 15,50 mm) dan lebar 6,86 (6,50 – 7,16 mm). Imago pada umumnya tampak berwarna hitam, cukup cerah dengan warna hijau berkilau terutama pada bagian scutellum. Imago mempunyai perbesaran pada tibia, inilah yang membedakannya dengan genus Cantheconidea (Sipayung dkk., 1991). Scutellum besar pada sisi kanan dan kiri pronotum terdapat suatu struktur yang menyerupai tanduk yang disebut humeral tooth (gigi yang membujur), yang mencirikan sifat predator dari serangga tersebut ( Miller, 1956 ; Kalshoven, 1981).

Sedangkan parasitoid ulat api adalah  Trichogrammatoidea thoseaeBrachimeria lasusSpinaria spinatorApanteles aluellaChlorocryptus purpuratusFornicia ceylonicaSystropus roepkeiDolichogenidae metesae, dan Chaetexorista javana. Parasitoid dapat diperbanyak dan dikonservasi di perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago parasitoid tersebut seperti Turnera subulataTurnera ulmifoliaEuphorbia heterophyllaCassia toraBoreria lata dan Elephantopus tomentosus. Oleh karena itu, tanaman-tanaman tersebut hendaknya tetap ditanam dan jangan dimusnahkan. Tiong (1977) juga melaporkan bahwa adanya penutup tanah dapat mengurangi populasi ulat api karena populasi musuh alami akan meningkat.
  • Dengan musuh alami : virus yang dapat menginfeksi ulat. Caranya :  50-100   ulat terinfeksi dikumpul kan, di blender, kemudian disemprot kan ke areal. Ciri ulat terinfeksi yaitu tubuhnya bengkak, warna tubuh   pudar atau transparan seperti berisi air terdapat lapisan warna  putih susu.

Tabel Insectisida
Jenis Ulat
Nama Dagang
Bhn Aktif
ml/gram
/ha
Sifat Kerja
Cara

Ulat Api











Ulat Kantong

Ulat Api
dan Ulat Kantong



Cimbush 5 EC
Ripcord 5 EC
Matador 25 EC
Ambush 2 EC
Sumisidin 5 EC
Fostak 15 EC
Bayrusil 250 EC
Ekalok 25 EC
Agrothion 50 EC
Sumithion 50 EC
Azodrin 60 WSC

Dipterex 95 SP


Decis 2,5 EC
Sherpa 50 EC
Hostathion 40 EC
Azodrin 15 WSC
Tamaron 200 LC
Monitor 200 L

Sipermetrin
Sipermetrin
Sipermetrin
Permetrin
Fenfalerat
Alfametrin
Kuinalfos
Kuinalfos
Fenitrofin
Fenitrofin
Monokrotos

Triklorfon


Deltametrin
Sipermetrin
Triazofos
Monokrotofos
Metamidofos
Metamidofos

200-300
200-300
100-200
1000
1000
300-400
750-1000
750-1000
1000-1500
1000-1500
600

1000


100-200

500-750
10-20/pk
15-20/pk


P + K
P + K

S + K,P
P,K

K
K


S

P + K


P + K

PK
S

Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot
Semprot

Semprot


Semprot,kabut
Semprot,kabut
Semprot
Infus akar
Infus akar
Infus akar

    S = Sistemik     P = Racun Perut     K = Racun Kontak

Cara Kimia

  • Dilaksanakan bila tingkat serangan pada kelas sedang-berat.
  • Daerah  yang  disemprot  berdasarkan  hasil  peta serangan dari  sensus global/efektif.
  • Penyemprotan harus merata membasahi helaian anak-anak daun terutama permukaan bawah.
      Dengan Mist Blower
  • Penyemprot  berada   pada  piringan   1  pohon,  semprotan   diarahkan berkeliling terhadap 6 pohon diseputarnya
  • Penyemprot  bergerak  kearah  pohon  berikutnya  mela lui  pasar  pikul, akhirnya setiap pohon akan mendapat semprotan dari 6 arah.
     Dengan Fogging
  • Penyemprot berjalan di pasar pikul. Laras diarahkan  kebelakang sambil digerakan ke kanan/kiri
  • Bila tanaman sudah tinggi penyemprot berjalan pada setiap 2 pasar pikul (1 kali jalan untuk 4 baris tanaman, 2 kiri dan 2 kanan

ULAT KANTONG
  • Mahasena corbetti
  • Metisa plana
  • Cremathophysche (Pteroma) pendula
a.  Fisiologi
Ulat kantong termasuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah Metisa plana, Mahasena corbetti, Cremastopsyche pendula, Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp. dan Cryptothelea cardiophaga (Norman et al., 1995). Jenis ulat kantong yang paling merugikan di perkebunan kelapa sawit adalah Metisa plana dan Mahasena corbetti.

b.  Daur Hidup

Gambar Ulat Kantong

Ciri khas ulat kantong adalah hidupnya di dalam sebuah bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, di sekitar daerah serangan (Norman et al., 1995). Ciri khas yang lain yakni pada bagian tubuh dewasa betina kebanyakan spesies ulat kantong mereduksi dan tidak mampu untuk terbang. Jantan memiliki sayap dan akan mencari betina karena bau feromon yang dikeluarkan betina untuk menarik serangga jantan.

Stadia ulat M. plana terdiri atas 4-5 instar dan berlangsung sekitar 50 hari. Pada waktu berkepompong, kantong kelihatan halus permukaan luarnya, berukuran panjang sekitar 15 mm dan menggantung seperti kait di permukaan bawah daun. Stadia kepompong berlangsung selama 25 hari.
Ngengat M. plana betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur menetas dalam waktu 18 hari. Ulat berukuran lebih kecil dibandingkan dengan M. corbetti yakni pada akhir perkembangannya dapat mencapai panjang sekitar 12 mm, dengan panjang kantong 15-17 mm.

Ngengat M. corbetti jantan bersayap normal dengan rentangan sayap sekitar 30 mm dan berwarna coklat tua. Seekor ngengat M. corbetti betina mampu menghasilkan telur antara 2.000-3.000 butir (Syed, 1978). Telur menetas dalam waktu sekitar 16 hari. Ulat yang baru menetas sangat aktif dan bergantungan dengan benang-benang liurnya, sehingga mudah menyebar dengan bantuan angin, terbawa manusia atau binantang. Ulat sangat aktif makan sambil membuat kantong dari potongan daun yang  agak kasar atau kasar. Selanjutnya ulat bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala dan kaki depannya dari dalam kantong. Ulat mula-mula berada pada permukaan atas daun, tetapi setelah kantong semakin besar berpindah menggantung di bagian permukaan bawah daun kelapa sawit. Pada akhir perkembangannya, ulat dapat mencapai panjang 35 mm dengan panjang kantong sekitar 30-50 mm. Stadia ulat berlangsung sekitar 80 hari.  Ulat berkepompong di dalam kantong selama sekitar 30 hari, sehingga total siklus hidupnya adalah sekitar 126 hari.

Pengetahuan tentang siklus hidup secara utuh sangat berguna di dalam managemen pengendalian hama ini. Dengan informasi ini, rantai terlemah dari siklus hidupnya didapat sehingga akan membantu dalam menentukan waktu tindakan pengendalian yang tepat. Informasi siklus hidup juga akan memberikan pemahaman biologi yang lebih baik untuk pengelolaan hama.

c.   Dampak Serangan
Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Basri (1993) menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan.

d.  Pengandalian
Biologis
Parasitoid dan Predator memiliki potensi untuk mengendalikan hama secara biologi. Manipulasi lingkungan yang tepat untuk mengendalikan hama ini karena tindakan ini akan memodifikasi lingkungan untuk kelangsungan hidup dan perkembangan musuh alami. 

Basri et al., (1999) menemukan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara serangga parasitoid dan jenis tanaman. Dari percobaan diketahui bahwa Dolochogenidea metesae menyukai tanaman Cassia cobanensis dan Asystasia  intrusa. Brachiraria carinata menyukai Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Euphelmus catoxanthae menyukai tanaman Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Tetrastichus sp menyukai tanaman Cassia cobanensis, Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Eurytoma sp menyukai tanaman Euphorbia heterophylla dan Ageratum conyzoides. Pediobius imbreus menyukai tanaman Cassia cobanensis Euphorbia heterophylla, Asystasia intrusa dan Ageratum conyzoides. Pediobius anomalus menyukai Cassia cobanensis dan Asystasia intrusa. Untuk mengetahui tanaman inang yang efektif, perlu dilakukan penelitian jenis tanaman inang yang paling disukai oleh predator Metisa plana.

Parasitoid primer dan sekunder, serta predator mempengaruhi populasi Metisa. plana. Diantara parasitoid primer, Goryhus bunoh, hidup paling lama (47 hari) sedangkan hiperparasitoid yang hidup paling lama adalah P. imbreus. Dolichogenidea metesae merupakan parasitoid paling penting (Basri et al., 1995) yang berkembang baik pada tanaman Cassia cobanensis, termasuk Asystasia intrusa, Crotalaria usaramoensis, dan Euphorbia heterophylla. Kecuali A. intrusa, keberadaan tanaman ini akan bermanfaat karena memberikan nektar untuk parasitoid. 

Pengendalian Secara Kimiawi
Ulat kantong dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi batang menggunakan insektisida. Untuk tanaman yang lebih muda (< umur 2 tahun), knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan fogging atau injeksi batang. Monocrotophos dan methamidophos merupakan dua insektisida sistemik yang direkomendasikan untuk injeksi batang (Hutauruk dan Sipayung, 1978). Karena bahan bakunya adalah bahan kimia yang sangat berbahaya, ijin harus diperlukan dari Komisi Pestisida untuk tujuan dan cara aplikasi dan saat ini sudah tidak dikeluarkan lagi.

Tabel Fisiologi Hama Ulat


HAMA
UKURAN     ULAT
S I K L U S      H I D U P
Ulat  1
 cm
Ulat 2 
cm
Ulat  3
 cm
Telur
(hari)
ULAT
Kepompong
(hari)
Jumlah
(hari)
Rata-rata
(hari)
hari
instan
U. Api
S.nitens
T.Asigna
T.Bisura
T.Vetusta
D.Trima
P.Didusia

U.kantong
M.corbetti
M.plana

< 1
< 1
< 1
< 1
< 1
< 1


< 1
< 1

1 – 3
1 – 2
-
-
-
-


1 – 2
-

>  3
>  2
>  2
>  2
>  2
>  2


>  2
> 1

5 – 7
4 – 8
5 – 9
5 -  8
3 -  5
4 -  8


10 – 25
15 - 21

18 – 32
45 – 59
22 – 35
43 – 55
26 – 33
30 – 37


60 – 120
47 - 56

8 – 9
8  - 9
7
8
7
7


11 – 12
4 - 5

17 – 31
37 – 42
14 – 18
20 – 29
10 – 14
11 – 14


23 – 40
21 - 30

40 – 70
86 – 109
47 -  62
60 -  92
39 – 52
45 – 47


93 – 185
83 - 107

58
96
55
80
48
46


125
94
C.Pendula         Sedikit lebih singkat dari siklus M. Plana

            Ket : Ulat 1 (Ulat Kecil), Ulat 2 (Ulat sedang), Ulat 3 (Ulat Besar)

Tabel Media Hidup
ULAT
Tempat   Berkepompong
Bagian tajuk yang diserang
S. Nitens, T. Asigna
Ditanah
Tajuk sebelah bawah
T. Bisura, T. Ventusta,
D. Trima,  P. diducta
Diketak daun
Tajuk sebelah bawah
M.Corbetti, M. Plana,
C. Pendula
Dalam kantong
Tajuk sebelah atas



HAMA KUMBANG

1.       KUMBANG MALAM Apogonia sp dan Adoretus sp
Apogonia sp. merupakan hama pemakan daun kelapa sawit dan umumnya menyerang tanaman muda pada malam hari. Hama ini menyerang pada fase kumbang. Kumbang menyerang daun kelapa sawit  muda dengan cara naik ke bagian daun pada malam hari. Kumbang ini memakan daun mulai dari pinggir berbeda dengan serangan hama lain. Tingkat serangan hama ini berhubungan dengan kerapatan pohon pelindung. Pada kebun kelapa sawit yang yang cenderung kerapatan populasinya baik , biasanya tingkat serangannya tinggi.
a.  Daur Hidup
Telur berbentuk lonjong. Setelah menetas menjadi lundi / larva, hidup di dalam tanah pada sisa-sisa tanaman yang membusuk. Setelah lundi besar, dia masuk ke dalam tanah lebih dalam lagi dan menyerang akar tanaman serta rumput- rumputan. Kemudian membentuk kepompong yang panjangnya ± 15 mm.
KUMBANG MALAM Apogonia sp dan Adoretus sp

b.  Fisiologi
Kumbang berwarna hitam mengkilat, kadang-kadang kilau coklat lembayung atau hijau, panjangnya 7-10 mm. Seekor betina dapat menghasilkan telur 40 butir yang diletakkan di bawah serasah atau di dalam tanah dengan kedalaman 2,5-5 cm.

c.   Tingkat Serangan
Hama ini pada umumnya hanya terdapat di pembibitan, bagian yang terserang yaitu tanaman muda, baik di pembibitan maupun di lapangan, dan stadium hama yang merugikan yaitu pada tingkatan dewasa/imago berupa kumbang.
Kumbang Adoretus sp dewasa menyerang daun dan memakan sebagian kecil dari daun bagian tengah nya, sementara kumbang apogonia sp  dewasa mulai menyerang bagian pinggir dan menyebabkanrobekan besar pada pinggir helaian daun.
Pengamatan rutin tidak perlu dilakukan, tetapi jika ada serangan dan populasi hama melampai tingkat populasi kritis maka perlu dilakukan tindakan pengendalian.
Di pembibitan tingkat serangan kumbang  Adoretus sp rata rata pada populasi kritis adalah berkisar 5 – 10 ekor kumbang
Sementara pada kumbang Apogonia sp  pada fase krits adalah 10-20 ekor.

d.  Pengendalian
Pengendalian pada stadium larva sulit dilakukan sehingga pengendalian hanya di tujukan pada kumbang nya saja, pengedalian di lakukan dengan penyemprotan larutan insektisida.
•         Thiodan 35 EC (Bahan aktif Endosulfan) dengan konsentrat 0,2%
•         Sevidan 70 WP (Bahan Aktif Endosulfan) dengan konsentrat 0,2%
Penyemprotan larutan insektisida dilakukan pada sore hari sampai pukul 21.00 dengan rotasi 1 – 2 kali seminggu.
•         Temik 10 E (Bahan Aktif Aldikarb) Dosis 4g/polybag/bulan
•         Sevidol 10 Gr per pohon
Ditabur ditepi kantong sekitar pokok dan dibenam (sebelum bibit ditanam)

Secara umum tingkat serangan kumbang adoretus sp  dan  Apogonia sp  akan berkurang bila tanaman kacang kacangan penutup tanah (LCC) sudah menutupi areal penanaman dengan sempurna.
   
2.      KUMBANG KELAPA /Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros
a.  Daur Hidup
Daur hidup Oryctes sp rata-rata pada stadia telur 9-14 hari larva 74-160 hari pupa 17-23 hari, Imago tidak aktif 13-23 hari dan imago aktif sampai mati 86-139 hari (PPM,1985). Daur hidup yang panjang merupakan hama yang sangat potensial dapat merugikan tanaman Kelapa Sawit. Hama Oryctes sp merupakan hama utama pada areal replanting tanaman Kelapa Sawit kumbang Orites sp umumnya menyerang tanaman. Kelapa Sawit yang berumur <2 th (Research PSM1,1991).
Daur hidup Oryctes sp


b.  Habitat
Tanaman Replanting yang tidak di bakar (zero burning) sangat rawan terhadap serangan hama Oryctes rhinoceros, karena tumpukan dari batang sawit yang di tumbang merupkan media yang baik untuk berkembangbiaknya hama kumbang Oryctes sp
c.  Serangan
Kumbang ini menggerek jaringan pucuk melalui salah satu ketiak pelepah, setelah masuk merusak pelepah daun yang belum terbuka (bila daunnya muncul bentuknya seperti digunting menyerupai kipas). Seekor kumbang mampu tinggal 1 minggu dan merusak 4 pelepah. Pada tanaman < 2 tahun sangat bahaya karena dapat merusak titik tumbuh.
Kelas Serangan

  • Ringan (R)    : digerek, pucuk belum rusak
  • Sedang (S)   : digerek, pucuk rusak tapi tumbuh lagi
  • Berat (B)      : digerek, pucuk tidak tumbuh
d.  Pengendalian
Mekanis

  • Mengutip/mengambil kumbang dengan kawat kait  seperti pancing. 1 hari/3 hari. 2 HK/ha.
  • Sarang yang ada disekitarnya dibersihkan dan bila ada larva dihancurkan.
Pengendalian Kimiawi
Insektisida Tabur

  • Dengan insektisida golongan carbofuran yaitu Furadan 3 – G ( curater 3- G ) yang ditaburkan merata pada ketiak-ketiak daun yang langsung mengelilingi daun pupus. Pusingan aplikasi 3 x sebelum ditetapkan setiap tanggal 5, 15 dan 25 (jika kebetulan hari libur supaya digeser).
Dosis Aplikasi
No Umur Dosis/Pohon/Aplikasi
1 0 - 1 5          –          7,5       gram
2 2 7,5       –          10         gram
3 > 3 10         –          12,5      gram

Insektisida golongan lain yang dapat digunakan jika insektisida tersebut dalam 3. 1. a. tidak tersedia, adalah Basudi 3-G, Sevidol 4/4 G, Cytrolene 2-G.  Dosis dan pemakaian sama dengan furadan 3-G, hanya penaburannya pada ketiak daun jangan langsung mengenai daun pupus.

Lubang bekas gerakan oryctes pada pokok-pokok yang sempat diserang supaya disumbat agar pucuk tetap tumbuh normal keatas dan tidak menerobos kesamping mengikuti lubang tersebut.

-  Insektisida Semprot

Untuk menghindari munculnya serangan, di lakukan langkah pencegahan secara chemis dengan penyemprotan Sipermetrin (Ripcord) dengan kosentrasi 1,4 % terhadap semua pokok. Pelaksanaanya yaitu dengan melarutkan 210 cc ke dalam 15 liter air (1 keep) kemudian larutan di semprotkan sebanyak lebih kurang 100 cc per pokok dengan menggunakan nozle cone, penyemprotan di lakukan pada pucuk tanaman sehingga larutan tersebut dapat mengalir turun ke pupus kelapa sawit. Ini di lakukan karena hama Oryctes umumnya menyerang dan bersarang pada pupus tanaman kelapa sawit. Penyemprotan dengan Sipermetrin (Ripcord) pada tahap pertama di lakukan sebanyak 2 (dua) rotasi penyemprotan selanjutnya apabila terjadi serangan hama Oryctes sp

TIKUS
1.  Batasan Serangan

  • Diareal belum menghasilkan, tikus memakan pelepah terbawah tanaman sehingga menunjukkan karakteristik yaitu, pelepahnya terkulai ditanah kadang kala tikus juga memakan tunas muda sehingga mengakibatkan matinya tanaman.
  • Kerusakan disebabkan oleh tikus sangat berpengaruh di tanaman yang menghasilkan, baik buah mentah maupun masak dimakan, brondolan dibawah pergi dan dimakan sebagian.
  • Tikus juga dapat menyebabkan kerusakan yang berarti pada daun dengan mencabik daun untuk sarangnya
  • Jika tidak dikendalikan tikus dapat meningkat dari tingkat yang dapat ditoleransi yaitu 60 ekor meningkat menjadi 300 per ha dalam waktu 6 bulan. Pada tingkat serangan seperti ini 5 – 15% produksi hilang pada daerah yang diserang. Pada keadaan ini populasi bertambah semakin cepat menjadi 600-1500 per ha dan kehilangan hasil mencapai 30% atau lebih.
2.  Pengamatan serangan

  • Sensus serangan tikus harus dilakukan jika tampak ada serangan berat, areal harus dibagi menjadi blok-blok dengan luas 20 ha, intensitas sensus adalah satu baris untuk tiap 10 baris, dan hanya serangan baru baik pada buah masak maupun mentah
  • Pelaksanaan pengendalian harus dilakukan jika “serangan baru” lebih besar 15% atau 20 pohon per ha
3.  Strategi Pengendalian
a.    Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

  • Jika dijumpai kerusakan di pembibitan pemberian umpan hanya dibatasi sekeliling areal diserang, dengan interval 3 -5 hari dalam barisan polibag dengan umpan antikoagulan.
  • Untuk areal penanaman baru, dengan meletakkan umpan antikoagulan pada setiap titik tanam ke tiga kira kira 1 bulan sebelum penanaman, dan umpan yang dimakan harus diamati dan di catat
  • Jika umpan yang dimakan menunjukan populasi jumlah tikus, maka program pemasangan umpan lanjutan di areal yang menghasilkan harus dimulai
  • Dapat juga dipasang kawat ayam pada leher bibit
b.    Tanaman Menghasilkan (TM)

  • Jika tingkat serangan melebihi ambang yang ditetapkan pada blok-blok tertentu, harus dilakukan pengendalian
  • Satu umpan diletakkan di setiap piringan di daerah yang bermasalah
  • Gantilah setiap umpan yang hilang setiap 3-4 hari, sampai jumlah yang harus diganti menjadi 20% dan tidak ada lagi serangan baru.
  • Daerah yang harus diberi umpan adalah daerah dan areal terserang ditambah sedikit perluasan
  • Jika jumlah umpan yang hilang tinggi dan jumlah serangan baru juga tinggi maka pengumpanan harus dilanjutkan sampai jumlah umpan yang dimakan lebih kecil dari 20%
  • Pengendalian harus dilakukan secara tuntas, pelaksanaan yang setengah setengah hanya akan membuang waktu dan uang.
  • Disaat pemberian umpan dilarang memegang umpan langsung dengan tangan sebab bau tangan akan membuat tikus enggan memakan umpan (gunakan sarung tangan).
4.  Pemberantasan dengan Umpan Beracun
a.    Bahan Bahan Racun
Terdiri dari rodentisida yang bersifat kronis (beberapa kali dimakan baru mati) seperti Racumin, Warfarin, Tomorin, pemakaian secara silih berganti. Golongan lain adalah Zine Phosphide, Parathion, Silmurin terutama digunakan untuk kampanye penyisipan terakhir saja karena sifatnya akut (sekali makan terus mati).

b.    Bahan Pencampur/Pengisi
Bahan pengisi terdiri dari 3 macam yaitu         :

  • Hidrat arang ( seperti jagung, beras pecah, dedak, minyak sawit, minyk kelapa, kepala ikan asin, hancuran udang. )
  • Bahan perangsang ( ajinomoto, vanili, syrup ). dan,
  • Bahan perekat ( lilin ).

Tabel Standard Pencampuran Racun
No
Ramuan
Bahan
Berat/Kg
Keterangan
1
Pengisi 95%
Parafin/Lilin
24,0
100 kg campuran cukup untuk 30 Ha   daerah serangan, pemasangan dan penyisipan untuk 1 kali pusingan
Minyak Sawit
21.0
Tepung Jagung
45,0
Gula
4,0
Ajinomoto
0,2
Vanili
0,5
2
Racun 5%
Racumin
5,0
J u m l a h
100



  • Pembuatan resep harus berpedoman kepada komposisi standard, misalnya jagung diganti beras, minyak sawit dengan kelapa, gula dengan kepala ikan asin, vanili dengan hancuran udang pukul dan sebagainya. Demikian pula pemakaian racunnya harus diganti, namun % dalam komposisi harus tetap 5 %.
c.     Pengadonan.
Urutan pekerjaan pembuatan umpan adalah sebagai berikut :

  • Pertama, parafin dipanaskan ditempat terpisah sampai mencair, setelah itu baru dituangkan ketempat pengadonan.
  • Masukan bahan minyak sawit ke tempat pengdonan sambil diaduk.
  • Masukan pula bahan pengisi lainnya dan aduk rata.
  • Tunggu suhu adonan turun sampai 55 derajat celsius. (ukur dengan Thermometer).
  • Setelah itu suhu adonan 55 derajat celsius, masukan racun (rodentisida) sedikit demi sedikit sambil diaduk, sehingga diperoleh adonan yang homogen, siap di cetak.
d.    Cara Pemasangan Umpan

  • Pasang perangkap/lem ditempat tikus biasa lewat
  • Pasang umpan beracun tiap pohon. Bila umpan yang hilang kurang dari 15% pemasang dihentikan
  • Bongkar dan hancurkan sarang tikus
5.  Pemberantasan Dengan Predator Alami
Tikus punya predator alam yakni antara lain :

  • Ular
  • Burung Hantu
BABI
Babi hutan digolongkan sebagai hama karena merusak tanaman perkebunan dan pertanian. Biasanya, hama ini memakan tanaman yang muda atau membuat lubang besar di batang pohon utama sehingga pohon lama-kelamaan akan mati.

Pengendalian Hama Babi
1.       Pengendalian Langsung
a.      Jerat.
Pemasangan jerat harus lebih giat dilakukan pada saat anak babi hutan sudah berhenti menyusu.  Kelahiran anak babi terbesar terjadi sekitar bulan Januari-Februari, sehingga diperkirakan anak babi hutan akan berhenti menyusu sekitar bulan Juli.
Jumlah jerat yang dipasang untuk 1 ha sebanyak 2-5 buah dan apabila dipasang pada jalan-jalan babi, setiap 500 m dipasang 1 jerat.

  • Di sekitar lokasi pemasangan jerat dipasang tanda bahaya
  • Untuk menghilangkan bau manusia, jerat dilumuri dengan lumpur
  • Jerat yang lokasinya dekat diperiksa setiap hari dan apabila lokasi pemasangan jauh diperiksa setiap 2 (dua) hari sekali.
b.  Berburu
Perburuan bisa dilaksanakan 1 (satu) kali sebulan, yaitu pada bulan yang diperkirakan dapat membunuh sebanyak mungkin babi hutan betina yang sedang bunting atau sedang menyusui, dan babi hutan muda. Gunakan tanda-tanda adanya kegiatan babi hutan misalnya congkelan tanah, jejak, kotoran babi hutan serta sisa-sisa tanaman yang rusak sebagai petunjuk bahwa di sekitar daerah tersebut kemungkinan besar sebagai tempat tinggal babi hutan dan sesuai untuk berburu.

c.  Racun
Penggunaan racun disarankan merupakan pilihan terakhir, mengingat efek samping yang ditimbulkan oleh racun yang digunakan.
Bahan Aktif Aldicarb Nama Dagang  Temik konsentrat 2 gr termik dan 10 G/potong umpan ubi kayu, ubi jalar.

2.  Pengendalian Tidak Langsung
a.  Pembuatan Parit border dengan ukuran minimal dalam 1,5 m dan lebar 1,5 m
b.  Pembuatan Pagar Individu paa tanaman muda (kawat berduri ataupun seng)

LANDAK
Landak merupakan salah satu hama perkebunan kelapa sawit khususnya di daerah pengembangan. Pakan dari landak adalah umbi-umbian, kangkung, dan beberapa tanaman yang berbatang lunak lainnya termasuk kelapa sawit muda.
Hama ini merusak tanaman kelapa sawit muda dengan cara mengerat pangkal batang dan memakan jaringan umbut kelapa sawit tersebut. Apabila bagian tanaman kelapa sawit yang terserang sangat berat dapat mengakibatkan kematian tanaman.Landak aktif pada malam hari dan bersembunyi di dalam lorong-lorong di dalam tanah. Pengendalian hama ini dilakukan seperti mengendalikan babi hutan sekaligus yaitu dengan pemagaran tanaman kelapa sawit secara individual misalnya dengan pelepah kelapa sawit sebanyak tiga tingkat.

E.    RAYAP TANAH Coptotermes curvignathus.
1.    Habitat
Tanah gambut merupakan salah satu habitat utama rayap tanah Coptotermes curvignathus.  Jenis rayap lain yang banyak ditemukan di tanah gambut adalah Macrotermes gilvus.
Karena lahan gambut merupakan habitat utama Coptotermes curvignathus maka tanaman kelapa sawit yang di tanam di daerah tersebut sangat beresiko terserang hama tersebut.  Serangan C. curvignathus merusak kedalam jaringan hidup tanaman dan akan mengakibatkan kematian tanaman jika rayap mencapai titik tumbuh tanaman. Sedangkan Macrotermes gilvus hanya berpengaruh terhadap tanaman  jika membangun koloni didekat batang karena mengganggu perakaran dan dapat mengakibatkan pohon tumbang.  Jika koloni M. gilvus jauh dari pohon maka keberadaannya tidak perlu dikhawatirkan karena jenis rayap ini hanya memakan jaringan yang mati.

2.   Pengendalian
a.   Mekanis
  • Mengumpulkan/menyingkirkan eks batang dan akar kayu
  • Membongkar sarang rayap di tanah dan tanaman mati
b.  Biologis

  • Predator (semut, kecoa, capung,labah2, ikan, kodok, ular)
  • Parasit dari jenis tungau (Cosmogilvus, Histiotoma, Lemaniella)
  • Patogen (NPV, Nematode, Bakteri, Jamur)
c.  Kimiawi
Penggunaan Termisida/Insektisida Kimia (fipronil 1 x per  tahun dan khlopirifos 2 x per tahun).
Tenaga sensus siap dengan larutan termisida menggunakan alat knapsack sprayer atau gembor. jika ditemukan pohon terserang rayap, langsung diaplikasi setelah disanitasi terlebih dahulu. pohon aplikasi diberi tanda silang dengan cat warna putih selanjutnya dicatat dalam lembar formulir sensus, hal ini untuk memudahkan evaluasi dan penentuan  rotasi sensus aplikasi dengan sistem barrier, yaitu dengan cara menyemprot atau menyiram secara merata pada pangkal batang dan piringan pohon terserang zona aplikasi pada piringan adalah radius 50 cm, dan pada pangkal batang sampai tinggi 50 cm dari tanah